Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Colenak

Berburu Kuliner di Purwakarta? Ini 5 Makanan Tradisional yang Cocok Jadi Oleh-Oleh

Kamis, 15 Oktober 2026 19:01 WIB

Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah

Kamis, 15 Oktober 2026 18:39 WIB

Persib Didenda Rp50 Juta, Luka Menalo Rusak LED Board dan Kaca Ruang Ganti

Kamis, 15 Oktober 2026 18:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Berburu Kuliner di Purwakarta? Ini 5 Makanan Tradisional yang Cocok Jadi Oleh-Oleh
  • Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah
  • Persib Didenda Rp50 Juta, Luka Menalo Rusak LED Board dan Kaca Ruang Ganti
  • Beda Kelas atau Beda Nasib? Aiswarya Bawa Pulang Mahkota, Reno Pulang Dihujat Satu Indonesia!
  • Prabowo Lantik 9 Pejabat Baru, Maruli Simanjuntak Jadi Wakil Panglima TNI
  • Belum Menang dalam 4 Laga, Garudayaksa FC Punya Misi Penting Lawan Arema FC
  • Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga
  • Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 15 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Purbaya Tegas Tolak Bayar Utang Kereta Cepat Whoosh Pakai APBN, Istana Ikut Angkat Bicara

By Aga GustianaSenin, 13 Oktober 2025 13:00 WIB3 Mins Read
Kereta Cepat Whoosh
Kereta Api Cepat Bandung. (KCIC)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sikap tegas Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait pembiayaan utang proyek kereta cepat Whoosh menjadi sorotan publik. Ia dengan jelas menyatakan bahwa pemerintah tidak akan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menanggung kewajiban utang proyek tersebut.

Pernyataan Purbaya ini juga mendapatkan respons dari Istana. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah memang tidak memiliki rencana untuk memakai APBN dalam menyelesaikan kewajiban keuangan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

“Beberapa waktu yang lalu juga sudah dibicarakan untuk diminta mencari skema ya, skema supaya beban keuangan itu bisa dicarikan jalan keluar,” ujar Prasetyo usai rapat terbatas di kediaman Presiden Prabowo Subianto, Kertanegara, Jakarta, Minggu malam (12/10/2025).

Meski demikian, Prasetyo menjelaskan bahwa pembahasan soal utang proyek Whoosh tidak termasuk dalam agenda rapat malam tersebut. “Malam ini tidak, malam ini tidak sempat. Whoosh bukan salah satu pembahasan malam ini,” katanya.

Ia menilai keberadaan proyek kereta cepat memiliki manfaat strategis dalam meningkatkan konektivitas wilayah. Pemerintah bahkan mempertimbangkan untuk memperluas jaringannya ke sejumlah daerah lain. “Justru, kita ingin sebenarnya kan itu berkembang ya, tidak hanya ke Jakarta dan sampai ke Bandung, mungkin juga kita sedang berpikir untuk sampai ke Jakarta, ke Surabaya,” tambahnya.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Lantik 31 Duta Besar Baru, Ada Mantan Politisi hingga Purnawirawan TNI AU

Purbaya: Jangan Bebani APBN, Danantara Harus Kelola Sendiri

Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka menolak ide agar utang KCIC dilunasi dengan dana negara. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut berada di tangan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia sebagai pihak yang menaungi proyek kereta cepat.

“Utang KCIC dibiayai APBN, saya belum dihubungi untuk masalah itu, nanti begitu ada saya di jumpa pers mingguan, saya kasih tahu updatenya seperti apa,” ujarnya dalam Media Gathering Kemenkeu 2025 di Novotel Bogor, Jumat (10/10/2025).

Ia juga mengungkapkan bahwa hingga kini Kementerian Keuangan belum menerima usulan resmi dari pihak manapun untuk menggunakan dana APBN dalam menyelesaikan utang proyek tersebut.

Baca Juga:  Terungkap! Menkeu Purbaya Sebut Dana Pemerintah Parkir di Bank Pemicu Demo Besar-besaran

Menurut Purbaya, Danantara memiliki kapasitas finansial yang kuat untuk menangani kewajiban ini tanpa melibatkan APBN. “Yang jelas sekarang saya belum dihubungi tentang masalah itu. Tapi kalau ini kan di bawah Danantara kan ya. Kalau di bawah Danantara kan mereka sudah punya manajemen sendiri, sudah punya dividen sendiri yang rata-rata setahun bisa Rp80 triliun atau lebih,” jelasnya.

Purbaya menegaskan bahwa tanggung jawab pengelolaan keuangan proyek Whoosh seharusnya dikelola dari sumber daya internal Danantara, bukan dari anggaran negara. “Harusnya mereka manage dari situ, jangan ke kita lagi. Karena kalau enggak ya semuanya ke kita lagi termasuk dividennya. Jadi ini kan mau dipisahin swasta sama government,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya pemisahan peran antara pemerintah dan swasta dalam proyek infrastruktur skala besar seperti Whoosh. “Jangan kalau enak swasta, kalau enggak enak government. Posisi saya sekarang yang saya tahu seperti mana saya belum disusunin sama mereka,” tutupnya.

Baca Juga:  PP Persis Optimistis Program Makan Bergizi Gratis Mampu Dongkrak Ekonomi Daerah

Skema Penyelesaian Utang Masih Dibahas

BPI Danantara diketahui tengah menyiapkan dua opsi penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang kini membebani neraca keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Opsi pertama adalah menambah penyertaan modal kepada KAI, sedangkan opsi kedua berupa penyerahan infrastruktur kereta cepat kepada pemerintah.

Proyek Whoosh sendiri digarap oleh PT KCIC, perusahaan patungan antara konsorsium BUMN Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan mitra dari China. Sekitar 75 persen pembiayaan proyek berasal dari pinjaman China Development Bank, sementara sisanya ditopang oleh modal pemegang saham, termasuk KAI, Wijaya Karya, PTPN I, dan Jasa Marga.

Dengan sikap tegas Purbaya dan arahan pemerintah untuk mencari skema alternatif, nasib penyelesaian utang Whoosh kini bergantung pada keputusan korporasi dan badan pengelola investasi, bukan APBN

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

KCIC Prabowo Subianto Purbaya Yudhi Sadewa
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mayoritas Muslim Tapi Dilarang Berhijab? Kisah Pilu Siswi di Azerbaijan Terusir dari Sekolah

Prabowo Lantik 9 Pejabat Baru, Maruli Simanjuntak Jadi Wakil Panglima TNI

Jalan Perbatasan Ciwidey–Gununghalu Kini Mulus, KDS: Dorong Ekonomi Warga

Serangan di Arab Saudi Tewaskan 12 Orang, Kemlu Pantau Keselamatan WNI

Perbup Tak Kunjung Terbit, Ketua FPP dan PKB KBB Pertanyakan Komitmen Bupati Jeje

Bikin Geram! Bali Krisi Bensin: Antrean SPBU Mengular, Pasar Gelap Digital Merajalela!

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Viral! Dana Donasi Pak Santoso Tercatat Rp14,3 Juta, Disebut Hanya Terima Rp600 Ribu
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.