Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
peredaran narkoba

Terbongkar! Sindikat Narkotika di Cirebon Manfaatkan Sistem Pesan Antar dan COD

Senin, 14 September 2026 17:33 WIB
Kabupaten Bogor

35 Persen Wilayah Purwakarta Terdampak Kekeringan, Distribusi Air Bersih Tembus 1 Juta Liter

Senin, 14 September 2026 16:59 WIB
Pencabulan

Ditinggal Istri ke Timur Tengah, Ayah Durjana di Cianjur Tega Cabuli Anak Kandung

Senin, 14 September 2026 16:52 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Terbongkar! Sindikat Narkotika di Cirebon Manfaatkan Sistem Pesan Antar dan COD
  • 35 Persen Wilayah Purwakarta Terdampak Kekeringan, Distribusi Air Bersih Tembus 1 Juta Liter
  • Ditinggal Istri ke Timur Tengah, Ayah Durjana di Cianjur Tega Cabuli Anak Kandung
  • Perjalanan Haru Kanaya Whu: Dari Artis Cilik, Karyawan Kantoran, hingga Ikon Vokal Emka 9
  • John Herdman Bongkar Mimpi Erick Thohir untuk Timnas Indonesia: Juara hingga Piala Dunia 2030
  • Citarum Berubah Drastis! Batujajar Dipenuhi Eceng Gondok, Air Saguling Turun 20 Meter
  • Maudy Ayunda Dihujat ‘Tone Deaf’: Kuliah Dibayai LPDP tapi Minim Empati, Kalah Telak dari Cinta Laura?
  • Banyak Diprotes, Pemkot Bandung Pastikan BRT Tetap Dilanjutkan
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 14 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Sapi Kurban Prabowo Bikin Melongo: Niat Berbagi atau ‘Pencitraan’ Pakai Uang Pajak?

By Aga GustianaJumat, 29 Mei 2026 19:00 WIB5 Mins Read
sapi
Ilustrasi, sapi. Foto: Humas Pemkot Bandung.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Hari raya Iduladha 1447 Hijriah membawa suasana yang berbeda di tanah air. Di berbagai sudut Indonesia, dari pelosok desa hingga pusat kota, kehadiran negara terasa nyata dalam bentuk distribusi hewan kurban. Presiden Prabowo Subianto mencatatkan langkah masif dengan menyiapkan 1.098 ekor sapi kurban yang didistribusikan secara merata ke seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia.

Namun, di balik syiar keagamaan tersebut, muncul riak perdebatan tajam. Isu mengenai penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp100 miliar untuk pengadaan sapi-sapi tersebut memicu polarisasi opini publik. Di tengah hiruk-pikuk ini, pertanyaan mengenai transparansi anggaran dan etika politik menjadi pusat perdebatan.

Labirin Anggaran dan Pernyataan Menkeu

Salah satu poin paling krusial dalam polemik ini adalah ketidaktahuan otoritas fiskal terkait detail pengeluaran tersebut. Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, sempat memberikan pernyataan yang mengejutkan publik ketika ditanya mengenai penggunaan APBN sebesar Rp100 miliar untuk program ini.

Usai melaksanakan salat Iduladha di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu (27/5/2026), Purbaya mengaku tidak mengetahui detail mengenai anggaran kurban tersebut. “Saya enggak tahu masalah itu. Tanya Mensesneg, tapi rasanya pakai uang mereka sendiri,” ujar Purbaya kepada awak media.

Pernyataan “rasanya pakai uang mereka sendiri” yang dilontarkan Menkeu justru menambah simpang siur informasi di lapangan. Jika seorang Menteri Keuangan saja tampak tidak terinformasi mengenai alokasi dana sebesar Rp100 miliar yang berasal dari APBN, hal ini memantik pertanyaan besar mengenai transparansi dan koordinasi birokrasi dalam pengelolaan dana Bantuan Kemasyarakatan Presiden (Banpres).

Baca Juga:  Kenaikan Gaji PNS 2026: Sinyal Kuat dari Pemerintah, Publik Menanti Keputusan Resmi

Perspektif Salsa Erwina: “Uang Rakyat, Kenapa Brandingnya Nama Pribadi?”

Di tengah ketidakpastian informasi tersebut, Salsa Erwina menyoroti sisi etika yang menurutnya krusial. Bagi Salsa, masalah utamanya bukanlah pada aksi berbagi itu sendiri, melainkan pada aspek branding bantuan yang menggunakan uang publik.

“Bantuan dana dari rakyat, harus atas nama rakyat. Tapi kok namanya bukan rakyat?” cetus Salsa. Ia mempertanyakan mengapa bantuan yang bersumber dari pajak rakyat harus dibranding dengan nama “Presiden”.

Salsa membandingkan praktik ini dengan negara-negara demokratis maju, seperti Amerika Serikat yang memiliki Hatch Act untuk melarang penggunaan nama pribadi pejabat pada bantuan federal, atau regulasi serupa di Brasil dan Eropa yang mewajibkan label netral seperti “Dari Pemerintah” atau “Dari Rakyat”.

“Ini bukan soal siapa presidennya, ini soal prinsip berdemokrasi yang sehat,” tegas Salsa. Ia mengibaratkan situasinya seperti sebuah kelas yang patungan untuk membelikan hadiah bagi seorang guru, namun saat hadiah diberikan, ketua kelas mengklaim itu adalah pemberian darinya. Baginya, penggunaan nama pribadi pada bantuan negara adalah bentuk anti-transparansi yang berpotensi melahirkan persepsi salah di masyarakat.

Urgensi dan Efisiensi di Tengah Krisis

Selain soal branding, Salsa juga menyoroti efisiensi penggunaan anggaran. Dengan nilai mencapai Rp100 miliar, ia mempertanyakan apakah ini merupakan alokasi yang paling tepat di saat Indonesia menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Ia menunjuk pada kondisi daya beli masyarakat yang sedang turun, nilai tukar rupiah yang melemah, serta gelombang PHK yang menghantui berbagai sektor.

Baca Juga:  Dukung Palestina, Prabowo Diskusi Kebijakan Board of Peace dengan 16 Ormas Islam

“Saat bencana di Aceh dan Sumatra Barat masih belum pulih, semua kementerian diminta berhemat, kenapa justru muncul rekor pengeluaran untuk kurban dengan skala sebesar ini?” kritiknya.

Salsa menekankan bahwa argumen “presiden sebelumnya juga melakukan hal serupa” bukanlah pembenaran mutlak. “Hanya karena sesuatu sudah dilakukan sejak lama, bukan berarti itu benar. Lihat saja tunjangan pensiun DPR seumur hidup yang akhirnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi karena dianggap tidak relevan dengan rasa keadilan masyarakat,” tambahnya.

Antara Tradisi dan Kritik

Di sisi lain, pendukung pemerintah seperti pegiat sosial Eko Widodo melihat serangan terhadap Presiden Prabowo sebagai hal yang tidak proporsional. Eko berargumen bahwa praktik ini sudah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya, dari era Soeharto hingga Joko Widodo.

“Sesulit itukah menemukan celah kesalahan kebijakan substantif sehingga isu remeh ini harus dibesar-besarkan?” tulis Eko di akun X pribadinya.

Namun, penelusuran sejarah menunjukkan adanya perbedaan teknis. Pengadaan kurban yang rutin, masif, dan terstruktur dengan anggaran APBN yang dibakukan secara legalitas sebagai “bantuan kemasyarakatan” memang baru terlihat menonjol pasca-era SBY dan berlanjut hingga sekarang. Pada masa awal republik, penyerahan hewan kurban oleh presiden umumnya bersifat lebih personal, terbatas, dan tidak melibatkan ribuan ekor sapi di setiap pelosok daerah secara nasional.

Baca Juga:  Kesenjangan Upah Makin Parah, Cinta Laura Open Donasi Internasional untuk Indonesia

Menakar Masa Depan Demokrasi

Respons netizen pun terbelah. Ada yang membela dengan menyebut bahwa presiden adalah simbol negara yang mewakili amanat rakyat. Namun, tidak sedikit pula yang sepakat dengan kritik Salsa bahwa Indonesia masih terjebak dalam praktik feodalisme terselubung di balik jargon demokrasi.

Pernyataan Menkeu Purbaya yang awalnya menduga itu “dana pribadi” sebelum akhirnya terkonfirmasi sebagai bagian dari program Banpres (APBN), menjadi bukti bahwa pengelolaan dana kemasyarakatan perlu memiliki standar keterbukaan yang lebih baik.

Polemik 1.098 sapi kurban ini akhirnya menjadi cermin bagi kita semua. Ia bukan sekadar perdebatan tentang halal atau haram secara syariat—karena MUI pun menyatakan tidak ada masalah secara hukum Islam—melainkan perdebatan tentang etika politik, transparansi, dan bagaimana seharusnya negara memperlakukan uang pajak rakyat.

Di masa depan, mungkin sudah saatnya Indonesia berbenah. Jika memang negara ingin hadir membantu masyarakat, langkah ke arah “demokrasi yang lebih sehat”—di mana bantuan publik tidak lagi terikat pada nama individu tertentu—bisa menjadi pertimbangan penting bagi para pengambil kebijakan. Sebab, demokrasi bukan hanya soal menjalankan prosedur, tapi juga soal menjaga martabat dan transparansi di setiap lembar rupiah yang dikeluarkan dari kas negara.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Presiden Prabowo Salsa Erwina
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

peredaran narkoba

Terbongkar! Sindikat Narkotika di Cirebon Manfaatkan Sistem Pesan Antar dan COD

Kabupaten Bogor

35 Persen Wilayah Purwakarta Terdampak Kekeringan, Distribusi Air Bersih Tembus 1 Juta Liter

Pencabulan

Ditinggal Istri ke Timur Tengah, Ayah Durjana di Cianjur Tega Cabuli Anak Kandung

Citarum Berubah Drastis! Batujajar Dipenuhi Eceng Gondok, Air Saguling Turun 20 Meter

Banyak Diprotes, Pemkot Bandung Pastikan BRT Tetap Dilanjutkan

Hampir 300 SPPG Beroperasi di Bandung, Farhan Tegaskan Wajib Bersertifikasi

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Gemuruh GBLA Bikin Merinding, Balsa Sekulic Terpukau oleh Militansi Bobotoh Persib
  • Semarak HUT TNI ke-81, Ribuan Peserta Siap Ikuti Fun Run di Cimahi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.