Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Cek Harga Emas 16 Juli 2026: Antam dan UBS Kompak Naik Rp21 Ribu

Kamis, 16 Juli 2026 10:26 WIB

Kepanasan Dicecar Pertanyaan, Bupati Gowa Husniah Pilih Walk Out Ketimbang Klarifikasi?

Kamis, 16 Juli 2026 10:06 WIB

Dilema SPP Jabar vs MBG: Ketika Program Unggulan Dedi Mulyadi Berbenturan dengan Prioritas Prabowo

Kamis, 16 Juli 2026 09:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cek Harga Emas 16 Juli 2026: Antam dan UBS Kompak Naik Rp21 Ribu
  • Kepanasan Dicecar Pertanyaan, Bupati Gowa Husniah Pilih Walk Out Ketimbang Klarifikasi?
  • Dilema SPP Jabar vs MBG: Ketika Program Unggulan Dedi Mulyadi Berbenturan dengan Prioritas Prabowo
  • Lionel Messi Jadi Penentu, Argentina Pulangkan Inggris Lewat Laga Dramatis 2-1
  • Bansos Rp Jutaan Siap Dicairkan! Ini Cara Cek Apakah NIK KTP Kamu Terdaftar sebagai Penerima PKH BPNT
  • Gedung Pensil Bandung, Bangunan 108 Tahun yang Masih Berdiri Kokoh dan Jadi Ikon Kota Kembang
  • Bansos PKH dan BPNT Cair 20 Juli 2026, Siap-siap! Ada Penerima Baru dan KPM yang Dicoret
  • Dapatkan Saldo DANA Gratis Rp100.000 Hari Ini, 16 Juli 2026: Cara Klaim Paling Mudah!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 16 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Sapi Kurban Prabowo Bikin Melongo: Niat Berbagi atau ‘Pencitraan’ Pakai Uang Pajak?

By Aga GustianaJumat, 29 Mei 2026 19:00 WIB5 Mins Read
sapi
Ilustrasi, sapi. Foto: Humas Pemkot Bandung.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Hari raya Iduladha 1447 Hijriah membawa suasana yang berbeda di tanah air. Di berbagai sudut Indonesia, dari pelosok desa hingga pusat kota, kehadiran negara terasa nyata dalam bentuk distribusi hewan kurban. Presiden Prabowo Subianto mencatatkan langkah masif dengan menyiapkan 1.098 ekor sapi kurban yang didistribusikan secara merata ke seluruh provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia.

Namun, di balik syiar keagamaan tersebut, muncul riak perdebatan tajam. Isu mengenai penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp100 miliar untuk pengadaan sapi-sapi tersebut memicu polarisasi opini publik. Di tengah hiruk-pikuk ini, pertanyaan mengenai transparansi anggaran dan etika politik menjadi pusat perdebatan.

Labirin Anggaran dan Pernyataan Menkeu

Salah satu poin paling krusial dalam polemik ini adalah ketidaktahuan otoritas fiskal terkait detail pengeluaran tersebut. Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa, sempat memberikan pernyataan yang mengejutkan publik ketika ditanya mengenai penggunaan APBN sebesar Rp100 miliar untuk program ini.

Usai melaksanakan salat Iduladha di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu (27/5/2026), Purbaya mengaku tidak mengetahui detail mengenai anggaran kurban tersebut. “Saya enggak tahu masalah itu. Tanya Mensesneg, tapi rasanya pakai uang mereka sendiri,” ujar Purbaya kepada awak media.

Pernyataan “rasanya pakai uang mereka sendiri” yang dilontarkan Menkeu justru menambah simpang siur informasi di lapangan. Jika seorang Menteri Keuangan saja tampak tidak terinformasi mengenai alokasi dana sebesar Rp100 miliar yang berasal dari APBN, hal ini memantik pertanyaan besar mengenai transparansi dan koordinasi birokrasi dalam pengelolaan dana Bantuan Kemasyarakatan Presiden (Banpres).

Baca Juga:  Pemerintah Gelontorkan Rp277 Miliar untuk Timnas Indonesia dari Pajak Rakyat

Perspektif Salsa Erwina: “Uang Rakyat, Kenapa Brandingnya Nama Pribadi?”

Di tengah ketidakpastian informasi tersebut, Salsa Erwina menyoroti sisi etika yang menurutnya krusial. Bagi Salsa, masalah utamanya bukanlah pada aksi berbagi itu sendiri, melainkan pada aspek branding bantuan yang menggunakan uang publik.

“Bantuan dana dari rakyat, harus atas nama rakyat. Tapi kok namanya bukan rakyat?” cetus Salsa. Ia mempertanyakan mengapa bantuan yang bersumber dari pajak rakyat harus dibranding dengan nama “Presiden”.

Salsa membandingkan praktik ini dengan negara-negara demokratis maju, seperti Amerika Serikat yang memiliki Hatch Act untuk melarang penggunaan nama pribadi pejabat pada bantuan federal, atau regulasi serupa di Brasil dan Eropa yang mewajibkan label netral seperti “Dari Pemerintah” atau “Dari Rakyat”.

“Ini bukan soal siapa presidennya, ini soal prinsip berdemokrasi yang sehat,” tegas Salsa. Ia mengibaratkan situasinya seperti sebuah kelas yang patungan untuk membelikan hadiah bagi seorang guru, namun saat hadiah diberikan, ketua kelas mengklaim itu adalah pemberian darinya. Baginya, penggunaan nama pribadi pada bantuan negara adalah bentuk anti-transparansi yang berpotensi melahirkan persepsi salah di masyarakat.

Urgensi dan Efisiensi di Tengah Krisis

Selain soal branding, Salsa juga menyoroti efisiensi penggunaan anggaran. Dengan nilai mencapai Rp100 miliar, ia mempertanyakan apakah ini merupakan alokasi yang paling tepat di saat Indonesia menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Ia menunjuk pada kondisi daya beli masyarakat yang sedang turun, nilai tukar rupiah yang melemah, serta gelombang PHK yang menghantui berbagai sektor.

Baca Juga:  ADPSI Dorong Revisi UU Keuangan Negara, Buky Wibawa Tekankan Keadilan Fiskal Daerah

“Saat bencana di Aceh dan Sumatra Barat masih belum pulih, semua kementerian diminta berhemat, kenapa justru muncul rekor pengeluaran untuk kurban dengan skala sebesar ini?” kritiknya.

Salsa menekankan bahwa argumen “presiden sebelumnya juga melakukan hal serupa” bukanlah pembenaran mutlak. “Hanya karena sesuatu sudah dilakukan sejak lama, bukan berarti itu benar. Lihat saja tunjangan pensiun DPR seumur hidup yang akhirnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi karena dianggap tidak relevan dengan rasa keadilan masyarakat,” tambahnya.

Antara Tradisi dan Kritik

Di sisi lain, pendukung pemerintah seperti pegiat sosial Eko Widodo melihat serangan terhadap Presiden Prabowo sebagai hal yang tidak proporsional. Eko berargumen bahwa praktik ini sudah dilakukan oleh presiden-presiden sebelumnya, dari era Soeharto hingga Joko Widodo.

“Sesulit itukah menemukan celah kesalahan kebijakan substantif sehingga isu remeh ini harus dibesar-besarkan?” tulis Eko di akun X pribadinya.

Namun, penelusuran sejarah menunjukkan adanya perbedaan teknis. Pengadaan kurban yang rutin, masif, dan terstruktur dengan anggaran APBN yang dibakukan secara legalitas sebagai “bantuan kemasyarakatan” memang baru terlihat menonjol pasca-era SBY dan berlanjut hingga sekarang. Pada masa awal republik, penyerahan hewan kurban oleh presiden umumnya bersifat lebih personal, terbatas, dan tidak melibatkan ribuan ekor sapi di setiap pelosok daerah secara nasional.

Baca Juga:  Heboh Video 'Skandal Moral' Amien Rais Raib: Istana Bereaksi, Partai Ummat Sebut 'Offside'

Menakar Masa Depan Demokrasi

Respons netizen pun terbelah. Ada yang membela dengan menyebut bahwa presiden adalah simbol negara yang mewakili amanat rakyat. Namun, tidak sedikit pula yang sepakat dengan kritik Salsa bahwa Indonesia masih terjebak dalam praktik feodalisme terselubung di balik jargon demokrasi.

Pernyataan Menkeu Purbaya yang awalnya menduga itu “dana pribadi” sebelum akhirnya terkonfirmasi sebagai bagian dari program Banpres (APBN), menjadi bukti bahwa pengelolaan dana kemasyarakatan perlu memiliki standar keterbukaan yang lebih baik.

Polemik 1.098 sapi kurban ini akhirnya menjadi cermin bagi kita semua. Ia bukan sekadar perdebatan tentang halal atau haram secara syariat—karena MUI pun menyatakan tidak ada masalah secara hukum Islam—melainkan perdebatan tentang etika politik, transparansi, dan bagaimana seharusnya negara memperlakukan uang pajak rakyat.

Di masa depan, mungkin sudah saatnya Indonesia berbenah. Jika memang negara ingin hadir membantu masyarakat, langkah ke arah “demokrasi yang lebih sehat”—di mana bantuan publik tidak lagi terikat pada nama individu tertentu—bisa menjadi pertimbangan penting bagi para pengambil kebijakan. Sebab, demokrasi bukan hanya soal menjalankan prosedur, tapi juga soal menjaga martabat dan transparansi di setiap lembar rupiah yang dikeluarkan dari kas negara.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

APBN Iduladha 1447H Kontroversi Sapi Kurban Presiden Prabowo Salsa Erwina sapi kurban
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kepanasan Dicecar Pertanyaan, Bupati Gowa Husniah Pilih Walk Out Ketimbang Klarifikasi?

Dilema SPP Jabar vs MBG: Ketika Program Unggulan Dedi Mulyadi Berbenturan dengan Prioritas Prabowo

Bansos

Bansos Rp Jutaan Siap Dicairkan! Ini Cara Cek Apakah NIK KTP Kamu Terdaftar sebagai Penerima PKH BPNT

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos PKH dan BPNT Cair 20 Juli 2026, Siap-siap! Ada Penerima Baru dan KPM yang Dicoret

Info Orang Hilang: Mahasiswi Unisba Belum Kembali ke Rumah, Hubungi Nomor Ini Jika Melihatnya

Jangan Berikan NIK dan OTP! Modus Penipuan Baru di Cimahi Mengatasnamakan Aktivasi IKD

Terpopuler
  • Polemik Aksi Kamisan, Kehadiran Kelompok LGBT dalam Gerakan HAM Jadi Sorotan
  • Jejak Kontroversi ‘Ratu Sound Horeg’ Mala Agatha & Icha Chellow: Dari Panggung Lokal hingga Diancam Anisa Bahar
  • Muhammad Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit, Ini Kondisi Terbarunya
  • Bongkar Defisit APBD Jabar Rp5,7 Triliun: Salah Hitung, Salah Kelola, atau Ada Faktor Lain?
  • Gempar Penemuan Jasad di Lantai 12 Parkiran Mal Kings Bandung, Polisi Temukan Surat Wasiat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.