bukamata.id – Ranah media sosial Instagram tengah dihebohkan oleh unggahan tajam dari konten kreator Dizi melalui akun pribadinya @toodizi pada Rabu (22/4/2026). Dalam video tersebut, Dizi melayangkan kritik keras terhadap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait berbagai kebijakan dan pernyataan publik yang dinilai tidak menyentuh akar permasalahan masyarakat modern.
Dizi secara eksplisit memberikan julukan kepada sang Gubernur sebagai “The Man of Non-Solutions” atau pria tanpa solusi. Ia menilai popularitas Dedi Mulyadi saat ini banyak terbantu oleh citra performatif yang dibangun melalui media sosial, namun gagal memberikan jalan keluar teknis bagi problematika warga.
Kritik Terhadap Narasi Biogas dan Kayu Bakar
Dalam salah satu bagian yang paling menonjol, Dizi menyoroti anjuran Gubernur agar masyarakat kembali menggunakan kotoran sapi (biogas) dan kayu bakar sebagai alternatif energi. Menurut Dizi, solusi ini sangat tidak membumi bagi mayoritas warga Jawa Barat.
“Gua kasih penjelasan yang gampang kenapa itu nggak masuk akal: karena nggak semua orang punya sapi! Terus dia ngomong seenaknya, ‘Saya pakai biogas dari kotoran sapi untuk bahan bakar di rumah.’ Ya gimana dong, bapak ajaib, kamu punya kawanan sapi yang bakal bikin John Marston malu,” ujar Dizi dalam videonya.
Ia juga memperingatkan dampak ekologis jika imbauan kembali ke kayu bakar benar-benar dijalankan secara massal oleh jutaan penduduk.
“Terus kayu bakar? Oke… sekarang bayangkan kalau seluruh Jawa Barat pergi keluar dan mulai menebang pohon untuk kayu bakar sekarang. Apakah kita perlu diingatkan apa yang terjadi kalau banyak pohon ditebang sangat cepat di sebuah wilayah?” tegasnya.
Paradoks Larangan Motor dan Krisis Transportasi Umum
Tak berhenti di isu energi, Dizi juga menyerang kebijakan Gubernur yang melarang siswa sekolah membawa sepeda motor. Ia menyoroti kontradiksi antara larangan tersebut dengan realita transportasi publik yang buruk, bahkan di Ibu Kota Jawa Barat sekalipun.
“Gua tinggal di Bandung yang seharusnya jadi ibu kota Jawa Barat, dan bahkan di sini situasi transportasi umumnya benar-benar sampah. Jadi gimana caranya lu berharap anak pelosok yang tinggal di Garut bisa sampai ke sekolah kalau nggak ada transportasi umum?” cetusnya kembali.
Sentilan Terhadap Relasi Parasosial
Di akhir unggahannya, Dizi menyentil bagaimana masyarakat sering kali terbuai oleh narasi tradisionalisme Gubernur tanpa daya kritis. Ia menyebut para pendukung yang menelan mentah-mentah pernyataan tersebut sebagai orang-orang yang hanya mencari sosok penyelamat tanpa melihat esensi kebijakan.
“Dan kemudian gua melihat orang-orang yang paling tidak cerdas menelan mentah-mentah pernyataannya, solusi-solusi palsunya, seolah-olah dia adalah semacam penyelamat,” pungkasnya.
Hingga saat ini, video tersebut terus memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian netizen sepakat bahwa Jawa Barat membutuhkan solusi teknokratis yang modern, sementara sebagian lainnya tetap membela gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang kental dengan nuansa kearifan lokal. Belum ada tanggapan resmi dari pihak Gedung Sate terkait viralnya kritik ini.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










