bukamata.id – SMAN 2 Subang tampil dengan wajah baru. Sekolah tersebut menjalani renovasi total pada lanskap dan bangunannya dengan mengusung konsep ornamen dan arsitektur khas Sunda.
Perubahan ini berawal dari inspeksi mendadak (sidak) dan arahan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM. Sejumlah sudut sekolah kini dirombak, mulai dari pagar, ruang kelas, atap gedung, hingga area depan sekolah.
Pagar Bata Merah ala Lembur Pakuan
Perubahan paling mencolok terlihat pada pagar luar sekolah. Tembok pagar dirombak total menggunakan susunan bata merah terekspos tanpa plester.
Gaya ini meniru arsitektur tradisional di kawasan Lembur Pakuan, kediaman Dedi Mulyadi di Subang yang kerap tampil di media sosialnya.
Ruang Kelas Bernuansa Bambu
Di dalam sekolah, sejumlah bagian ruang kelas direnovasi menggunakan ornamen bambu bilik. Sentuhan material alami ini diharapkan menciptakan suasana belajar yang lebih sejuk dan nyaman bagi siswa.
Atap Bocor Diperbaiki, Jalur Antargedung Ditata
Renovasi tidak hanya menyasar tampilan. Atap gedung yang sebelumnya bocor diperbaiki secara menyeluruh. Jalur penghubung antargedung juga diluruskan agar tata ruang sekolah lebih rapi.
Warung di Depan Sekolah Ikut Ditertibkan
Penataan juga menjangkau area depan sekolah. Warung-warung dan pedagang di sekitar gerbang dirapikan agar lingkungan sekolah terlihat lebih tertib dan asri.
Warganet Terbelah
Wajah baru SMAN 2 Subang ramai diperbincangkan di media sosial. Di kolom komentar akun Instagram @dekorasi_rumah_idaman, warganet menanggapinya dengan beragam reaksi, dari candaan hingga kritik.
Sebagian warganet menanggapi dengan bercanda karena suasana sekolah dinilai mirip rumah makan khas Sunda.
“Sambil belajar makan Gurame goreng kering pake sambel terasi,” tulis akun @dj***.
“Di tambah saung dan lesehan.. laguna sunda.. ah jadi ingat gurih 7,” tulis akun @ric***.
Namun, tak sedikit yang mempertanyakan prioritas penggunaan anggaran.
“Ada dana malah buat bikin beginian, padahal mah bisa buat nambah fasilitas lain yg lebih penting,” tulis akun @hae***.
Kritik lebih panjang datang dari akun @bob***. Ia menilai pengembangan sekolah seharusnya dimulai dari kebutuhan penggunanya dan fungsi ruang, bukan sekadar bentuk bangunan fisik.
“Jika Pemimpin mempersempit pengetahuannya dalam bentuk benda budaya, jadinya begini…..padahal tempat pendidikan itu bisa d kembangkan dg spektrum yg lebih luas,” tulisnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










