bukamata.id – Kisah inspiratif datang dari kancah Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Kabupaten Bekasi. Seorang pemilah sampah pabrik bernama Surya (46), warga Kampung Rawa Banteng Kaum, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, sukses mencatatkan kemenangan mengejutkan usai menumbangkan calon petahana, Subur Rustadi.
Dalam kontestasi politik tingkat desa yang berlangsung sengit tersebut, Surya meraup 4.107 suara, sementara sang petahana tertinggal tipis dengan perolehan 4.015 suara. Unggul dengan selisih 92 suara, kemenangan ini sontak menjadi buah bibir lantaran latar belakang Surya yang jauh dari kesan kaum elit maupun pemilik modal besar.
Sehari-hari, Surya menggantungkan hidup keluarganya dari memilah sisa buangan sampah pabrik untuk dijual kembali. Dari bilik rumah sederhananya, ia bahkan harus menghidupi delapan anggota keluarga sekaligus menggaji tiga orang pekerjanya. Kondisi ekonomi yang pas-pasan sempat membuat langkahnya dipandang sebelah mata oleh sebagian warga.
“Orang susah enggak punya duit ingin mencalonkan. Begitu kata orang-orang,” ujar Surya saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).
Pencalonannya kala itu bahkan sempat diibaratkan seperti pertarungan “semut melawan gajah” jika disandingkan dengan kandidat lain yang memiliki logistik berlimpah. Namun, cibiran tersebut sama sekali tidak menyurutkan tekad baja Surya untuk berlayar di bursa Pilkades berkat dorongan moral dari rekan-rekan dan masyarakat sekitar.
“Saya orangnya optimis dan saya enggak percaya hal-hal kayak gitu. Rezeki itu kan bukan manusia yang menentukan. Kita percaya sama Yang Maha Kuasa. Saya yakin akan berhasil,” ungkapnya.
Di balik niatnya terjun ke gelanggang politik, Surya menyimpan asa untuk melakukan pembenahan besar-besaran di desanya. Ia berjanji akan mengedepankan transparansi tata kelola pemerintahan agar masyarakat dapat merasakan perubahan yang nyata.
“Memang ada kekurangan-kekurangan yang masyarakat belum merasa puas. Kalau saya berhasil, saya ingin ada perubahan. Semua nanti akan saya bangun. Intinya Mekarwangi ingin saya bangun dan saya ingin transparan. Apa pun yang terjadi nanti kita buka ke masyarakat,” ucapnya.
Sempat Diragukan Sang Istri
Langkah awal Surya menuju kursi kepala desa tidak serta-merta mendapat lampu hijau dari keluarganya. Sang istri, Ratih Ratnasari (46), sempat merasa cemas lantaran dapur keluarga mereka yang hanya berputar dari penghasilan kotor pengelolaan sampah berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan dinilai tidak mencukupi untuk membiayai modal politik.
“Suami saya itu pekerja keras, semangat. Kadang saya ingetin, ‘Pak, kita kan enggak punya. Modalnya enggak ada, masa mau maju terus?’ Kata suami saya, ‘Enggak apa-apa, kita maju aja terus.’ Orang-orang semangat dukung saya,” tutur Ratih mengenang masa-masa kampanye.
Meski hidup dalam kesederhanaan bersama ketiga anak dan ibu mertuanya, Ratih akhirnya luluh melihat keteguhan sang suami. Pengorbanan dan rasa cemas itu terbayar lunas setelah dirinya harus berjaga seharian penuh tanpa tidur demi mengawal proses penghitungan suara yang berjalan sangat ketat.
“Awalnya selisih 40, terus naik jadi 70. Terakhir 92. Alhamdulillah, walaupun 92, itu benar-benar berkah,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur.
Memasuki babak baru sebagai istri kepala desa, Ratih berkomitmen untuk terus membersamai dan mengawal kinerja suaminya agar tetap berada di jalur yang benar serta senantiasa memegang teguh amanah rakyat.
“Doa saya, bapak amanah. Saya juga akan mendampingi dan mengingatkan. Pokoknya amanah, amanah, amanah. InsyaAllah saya akan terus mengingatkan,” pungkasnya.
Ke depan, latar belakang Surya sebagai penggelut bidang daur ulang sampah juga direncanakan bakal disulap menjadi program pemberdayaan ekonomi riil. Melalui gagasan pendirian gudang penampungan limbah industri skala besar, ia berharap dapat membuka lapangan kerja baru serta mendongkrak kesejahteraan warga Desa Mekarwangi.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










