Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Usai Keluhan Lapangan Padel, Pemkot Bandung Siapkan Aturan Jam Operasional Tempat Usaha

Senin, 3 Agustus 2026 14:10 WIB

Farhan Ingatkan Pengusaha: Jangan Cuma Legal, Harus Bangun Hubungan Baik dengan Warga

Senin, 3 Agustus 2026 13:48 WIB

Indonesia vs Vietnam Piala AFF 2026: Herdman Akui The Golden Star Jadi Ujian Terberat Garuda

Senin, 3 Agustus 2026 13:28 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Usai Keluhan Lapangan Padel, Pemkot Bandung Siapkan Aturan Jam Operasional Tempat Usaha
  • Farhan Ingatkan Pengusaha: Jangan Cuma Legal, Harus Bangun Hubungan Baik dengan Warga
  • Indonesia vs Vietnam Piala AFF 2026: Herdman Akui The Golden Star Jadi Ujian Terberat Garuda
  • Ditutup Sejak Awal 2026, Alun-alun Bandung Kembali Sambut Warga Jelang 17 Agustus
  • Alih Fungsi Futsal Jadi Padel Wajib Ubah Izin, Pemkot Bandung: Standar Bangunannya Berbeda
  • Pengelola Harian SixNine Buka Suara soal Dugaan Penebangan Pohon di Jalan Riau: Kami Hanya Jalankan Operasional
  • Mariano Peralta Batal Debut di Persib vs Persija, Igor Tolic Ungkap Kondisi Sebenarnya
  • Perizinan Padel Disorot Usai Kasus Penebangan Pohon, Pemkot Bandung Tegaskan Denda Rp10 Juta dan 100 Pohon Pengganti
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 3 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Senayan Berubah Jadi Tempat Sirkus? Ucapan Mendikdasmen Soal Ijazah Anggota DPR Bikin Publik Ngamuk!

By SusanaMinggu, 25 Januari 2026 14:45 WIB3 Mins Read
Gedung DPR RI
Gedung DPR RI. Foto: Ditjen SDPPPI.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI mendadak menjadi bola panas di ruang publik.

    Bukan soal kurikulum atau anggaran pendidikan, melainkan pengakuannya bahwa sejumlah anggota DPR RI merupakan lulusan pendidikan kesetaraan Paket C.

    Ucapan itu disampaikan Abdul Mu’ti di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026), saat menanggapi pertanyaan Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, Kurniasih Mufidayati, mengenai perluasan akses pendidikan bagi masyarakat yang tidak terjangkau jalur formal.

    “Banyak anggota dewan yang juga lulusan Paket C,” ujar Abdul Mu’ti di hadapan para legislator.

    Pernyataan singkat tersebut sontak memicu reaksi luas, terutama di media sosial. Bagi sebagian publik, pengakuan itu dianggap membuka tabir baru tentang latar belakang pendidikan para wakil rakyat. Namun bagi warganet lainnya, hal itu justru menjadi bahan kritik tajam terhadap kualitas kepemimpinan dan kinerja DPR.

    Dari Rapat DPR ke Kolom Komentar: Nyinyiran Mengalir Deras

    Reaksi keras warganet terlihat jelas di kolom komentar Instagram @nowdots, Minggu (25/1/2026). Alih-alih fokus pada pesan inklusivitas pendidikan yang ingin disampaikan Mendikdasmen, banyak komentar justru menyoroti kinerja DPR yang selama ini dianggap mengecewakan.

    “Untuk menjadi anggota dewan atau parpol tidak dibutuhkan pendidikan tinggi tapi modal nekat dan modal uang… Ketika seorang badut masuk ke istana, badut itu tidak menjadi raja. Tetapi istananya yang berubah menjadi sirkus,” tulis akun @kha***.

    Nada sinis juga datang dari akun lainnya.

    “Yo pantes kerjanya ga bener,” tulis akun @eve***.
    “Dikira lulus Paket C punya pengalaman ya wah gitu kalau jadi pemimpin. Padahal S1 masih bertebaran,” komentar akun @dan***.
    “Pantesan lulusan Paket C tapi intelektualnya minus,” tulis akun @mr***.

    Komentar-komentar tersebut menggambarkan adanya stigma kuat terhadap lulusan pendidikan kesetaraan, sekaligus ketidakpuasan publik terhadap kinerja wakil rakyat.

    Pendidikan Kesetaraan dan Politik: Dua Hal yang Beririsan

    Abdul Mu’ti sendiri menyampaikan pernyataan tersebut dalam konteks pembelaan terhadap peran strategis Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

    Ia menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan, Paket A, B, dan C adalah jalur sah dalam sistem pendidikan nasional, terutama bagi warga yang terkendala ekonomi, sosial, atau geografis.

    Ia bahkan mencontohkan pengalamannya mengunjungi salah satu PKBM di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, yang mampu menampung lebih dari 300 peserta didik, mayoritas mengikuti program Paket C setara SMA.

    “Saya baru pulang dari Majalengka, ada PKBM yang pesertanya ratusan, lebih dari 300 orang. Dan yang paling banyak itu Paket C,” ujarnya.

    Namun ketika fakta pendidikan kesetaraan bertemu dengan realitas politik, respons publik menjadi jauh lebih emosional. Bagi sebagian warganet, latar belakang pendidikan anggota DPR dianggap berkorelasi dengan kualitas kebijakan, etika politik, hingga citra lembaga legislatif.

    Antara Hak Pendidikan dan Tuntutan Kualitas Wakil Rakyat

    Perdebatan ini memperlihatkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, negara berupaya menegaskan bahwa setiap warga memiliki hak pendidikan, termasuk melalui jalur nonformal seperti PKBM.

    Di sisi lain, publik menaruh ekspektasi tinggi terhadap DPR sebagai lembaga pembuat undang-undang, yang idealnya diisi oleh figur dengan kapasitas intelektual dan integritas mumpuni.

    Pengakuan Mendikdasmen pun akhirnya bukan sekadar soal ijazah Paket C, melainkan memantik diskusi lebih luas: apakah pendidikan kesetaraan cukup dipahami sebagai akses belajar, atau justru dijadikan kambing hitam atas buruknya kinerja politik?

    Di tengah derasnya nyinyir warganet, satu hal tak terbantahkan, pernyataan Abdul Mu’ti telah membuka ruang diskusi yang selama ini jarang disentuh secara terbuka: hubungan antara latar belakang pendidikan, kualitas kepemimpinan, dan kepercayaan publik terhadap wakil rakyat.

    Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

    Anggota DPR RI DPR lulusan Paket C Kontroversi DPR Mendikdasmen Abdul Mu’ti nyinyir warganet Paket C setara SMA pendidikan kesetaraan PKBM rapat Komisi X DPR reaksi warganet
    Share. Facebook Twitter WhatsApp
    ADVERTISEMENT

    Jangan Lewatkan

    Usai Keluhan Lapangan Padel, Pemkot Bandung Siapkan Aturan Jam Operasional Tempat Usaha

    Farhan Ingatkan Pengusaha: Jangan Cuma Legal, Harus Bangun Hubungan Baik dengan Warga

    Ditutup Sejak Awal 2026, Alun-alun Bandung Kembali Sambut Warga Jelang 17 Agustus

    Alih Fungsi Futsal Jadi Padel Wajib Ubah Izin, Pemkot Bandung: Standar Bangunannya Berbeda

    Pengelola Harian SixNine Buka Suara soal Dugaan Penebangan Pohon di Jalan Riau: Kami Hanya Jalankan Operasional

    Perizinan Padel Disorot Usai Kasus Penebangan Pohon, Pemkot Bandung Tegaskan Denda Rp10 Juta dan 100 Pohon Pengganti

    Terpopuler
    • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
    • Kisah Pilu Om Maxim: Jadi Ayah Sekaligus Ibu Balita 1 Tahun, Intip Momen CCTV yang Bikin Mewek!
    • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
    • Salip Elektabilitas Prabowo, Pintu RI 1 Terbuka Lebar untuk Dedi Mulyadi
    • 10 Pohon Ditebang di Cihapit, Farhan Murka dan Ancam Pidanakan Pelaku
    Facebook Instagram YouTube TikTok
    Bukamata.id © 2023
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Disclaimer

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.