bukamata.id – Nama Herri Pras kembali menjadi buah bibir. Konten kreator sekaligus guru besar pencak silat ini menuai kecaman setelah melontarkan sebutan kontroversial kepada dua pendakwah populer, Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH).
Polemik yang awalnya bergulir di dunia maya itu kemudian merembet ke dunia nyata. Tantangan duel yang berkembang di media sosial berujung pada kedatangan rombongan, termasuk petarung MMA Yudi Cahyadi, ke rumah Herri di Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Pertemuan itu berakhir ricuh dan kini berlanjut ke meja polisi.
Jawaban Herri Jadi Bahan Olok-olok
Sorotan publik menguat ketika video pertemuan Herri dengan pihak yang hendak menindaklanjuti tantangan duel beredar luas. Respons Herri dalam video tersebut dinilai banyak warganet tidak konsisten dengan sikap kerasnya di media sosial.
Kolom komentar akun Instagram @wecarebangkalanmadura pun dipenuhi reaksi.
“Pling plang apa gimana sih si Hery Prass itu. 🤔 Kok jawabannya hanya ‘asal persyaratannya di terima doang’,” tulis akun @mas***.
“Saya cuman ketawa aja nontonnya. Hery Pras ini orang mana? Lulusan mana? Perguruan apa????” tulis akun @the***.
Pertanyaan terakhir itu mewakili rasa penasaran banyak orang: siapa sebenarnya Herri Pras?
Dari Jember, Belajar Silat Sejak Usia 8 Tahun
Herri Pras bernama asli Heri Prasetiawan. Ia berasal dari Jember, Jawa Timur, dan sudah dikenal di kalangan penggemar pencak silat jauh sebelum namanya terseret polemik keagamaan.
Ketertarikannya pada bela diri tumbuh sejak kecil. Di usia delapan tahun, ia mulai belajar pencak silat tradisional dari lingkungan keluarganya, terutama dari kakak dan pamannya.
Seiring waktu, Herri menjajal beragam aliran dan disiplin bela diri, mulai dari Tapak Suci, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Taekwondo, capoeira akrobatik, extreme martial arts tricking, hingga Pencak Silat Gerak Binatang (PSGB).
Bekal itulah yang kemudian ia racik saat mendirikan perguruannya sendiri, Pencak Silat Garuda Indonesia (PSGI), pada 13 Januari 2017 di Jember. Di perguruan tersebut, Herri menyandang posisi sebagai pendiri sekaligus guru besar.
Biodata Herri Pras
- Nama dikenal: Herri Pras
- Nama asli: Heri Prasetiawan
- Asal: Jember, Jawa Timur
- Profesi: Konten kreator dan pengajar bela diri
- Perguruan: Pencak Silat Garuda Indonesia (PSGI)
- Jabatan: Pendiri dan Guru Besar PSGI
- Pendirian PSGI: 13 Januari 2017
- Kanal YouTube: HERRI PRAS (@herripras), dibuat 25 Maret 2019
Hingga kini, tanggal lahir dan usia pasti Herri belum dapat dipastikan melalui data identitas resmi yang tersedia untuk publik.
Dari Konten Silat ke Kritik Pendakwah
Kanal YouTube Herri mulai aktif pada Maret 2019. Awalnya, isinya berfokus pada teknik bela diri, gerakan pencak silat, dan aktivitas perguruan PSGI.
Seiring bertambahnya penonton, arah kontennya bergeser. Herri mulai rutin menanggapi ceramah pendakwah, organisasi kemasyarakatan, hingga tokoh publik.
Pergeseran itu terbukti mendongkrak popularitasnya. Berdasarkan data Social Blade yang dikutip dalam pemberitaan November 2026, kanal @herripras tercatat memiliki sekitar 1,57 juta pelanggan, lebih dari 369 juta tayangan, dan lebih dari 3.000 video.
Namun, popularitas itu datang bersama kontroversi. Gaya penyampaian Herri yang keras berulang kali memicu perdebatan dengan pihak yang berbeda pandangan.
Sebutan “Kazab” untuk UAS dan UAH
Polemik terbaru bermula dari sejumlah konten Herri yang mempertanyakan kapasitas keilmuan UAH dan UAS. Kritiknya tidak berhenti pada isi ceramah, tetapi juga menyasar pribadi.
Dalam salah satu pernyataannya, Herri menyebut tokoh agama yang ia persoalkan sebagai kazab, istilah bahasa Arab yang berarti pembohong. Sebutan itu ia arahkan kepada sejumlah tokoh, termasuk UAS, UAH, dan Habib Umar bin Hafiz.
Reaksi keras pun datang dari warganet. Banyak yang menilai kritik terhadap tokoh agama sah-sah saja, asalkan disampaikan lewat argumen, bukan serangan pribadi.
Meski demikian, label “penghinaan” dalam polemik ini masih merupakan penilaian publik atas isi pernyataan Herri. Belum ada putusan yang menyatakan kritiknya sebagai tindak pidana penghinaan.
Gesekan Herri dengan UAH sebenarnya bukan cerita baru. Pada Oktober 2024, ia pernah mengkritik penjelasan UAH tentang Surah Maryam ayat 30 berdasarkan potongan video ceramah yang beredar. Menanggapi hal semacam itu, UAH pernah mengingatkan bahwa isi sebuah kajian tidak semestinya disimpulkan dari rekaman yang terpotong tanpa memahami konteks utuhnya.
Rekam Jejak Kontroversi
Polemik dengan UAS dan UAH hanyalah satu dari serangkaian kontroversi yang melibatkan Herri.
Pada 2023, ia sempat ramai diperbincangkan setelah mengomentari pengajian Gus Iqdam dan Majelis Sabilu Taubah. Di periode yang sama, ia juga melontarkan kritik terhadap Pondok Pesantren Al-Zaytun. Sejumlah pemberitaan pada Juli 2023 menyebut Herri sempat dilaporkan ke polisi terkait pernyataannya soal lembaga pendidikan tersebut.
Herri juga diketahui pernah mengomentari pendakwah lain melalui kanal YouTube-nya, termasuk Habib Husein Ja’far Al Hadar.
Tantangan Duel Berujung Ricuh
Kali ini, polemik Herri tidak berhenti di kolom komentar. Perselisihan berkembang menjadi perseteruan dengan Yudi Cahyadi, petarung MMA yang pernah berlaga di ajang Road to UFC.
Perseteruan itu dipicu tantangan duel yang mengemuka di media sosial setelah Herri mengkritik UAH, UAS, dan sejumlah tokoh agama lain. Herri menyatakan, siapa pun yang ingin mengajaknya bertarung harus lebih dulu membuktikan kesalahan pernyataannya lewat argumentasi.
Pada Minggu malam (1/11/2026), Yudi bersama sejumlah orang mendatangi kediaman Herri di Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Pertemuan itu berakhir ricuh.
Menurut keterangan Herri, ia mengalami kekerasan setelah menolak langsung meladeni ajakan duel. Ia mengaku ditendang hingga terjatuh, serta mendapat serangan di bagian perut dan ulu hati.
Herri lalu menghubungi layanan darurat kepolisian 110. Kapolsek Gunung Putri, Kompol Hillal Adi Imawan, membenarkan pihaknya menerima laporan tersebut dan mengirim petugas ke lokasi. Polisi kemudian berupaya meredam ketegangan dan mempertemukan kedua pihak untuk mediasi.
Lapor ke Polres Bogor
Tak berhenti di mediasi, Herri bersama tim kuasa hukumnya melaporkan dugaan kekerasan dan intimidasi tersebut ke Polres Bogor.
Dalam laporannya, Herri menyebut sekitar 20 orang terlibat dalam kedatangan rombongan ke rumahnya. Ia juga menuding keterlibatan sejumlah pihak lain, tuduhan yang masih harus dibuktikan melalui proses hukum. Tim kuasa hukum menyatakan Herri telah menjalani pemeriksaan medis untuk keperluan visum.
Hingga Selasa (3/11/2026), belum ada informasi mengenai penetapan tersangka. Kasus ini masih ditangani kepolisian, dan keterangan dari pihak Yudi Cahyadi terkait kejadian tersebut belum diperoleh.
Dua Persoalan yang Perlu Dipisahkan
Kasus Herri Pras kini memuat dua persoalan berbeda. Yang pertama adalah polemik pernyataannya terhadap UAS, UAH, dan tokoh agama lain, yang menuai kecaman luas dari publik. Yang kedua adalah dugaan kekerasan yang ia laporkan, yang merupakan perkara hukum tersendiri dan harus diuji berdasarkan fakta serta alat bukti.
Kontroversi pertama tidak serta-merta membenarkan tindakan main hakim sendiri, dan laporan kekerasan tidak pula menghapus kritik publik atas cara Herri menyampaikan pendapat. Di tengah panasnya perdebatan, kasus ini menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan, terlebih soal agama, semestinya diselesaikan lewat ilmu dan dialog, bukan ancaman ataupun adu fisik.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











