Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

Sabtu, 10 Oktober 2026 17:16 WIB
Ilustrasi tsunami

Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust

Sabtu, 10 Oktober 2026 16:14 WIB

The Next Maarten Paes? Aksi Latihan Kiper Cilik Paling Unik dan Keren Se-Indonesia!

Sabtu, 10 Oktober 2026 13:37 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit
  • Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust
  • The Next Maarten Paes? Aksi Latihan Kiper Cilik Paling Unik dan Keren Se-Indonesia!
  • Tembus 33 Ribu Tanda Tangan, Petisi Online Tolak Penutupan Jalan Diponegoro Bandung Makin Masif
  • Wacana Sistem Tidak Naik Kelas Diberlakukan 2027, Guru dan Siswa Diimbau Siapkan Strategi Baru
  • Ditinggal Bojan Hodak Malah Makin Gacor! Inilah 2 Rekor ‘Gila’ Persib di Bawah Racikan Igor Tolic
  • BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Update Kasus Dugaan Keracunan Makanan di 88 Seoul Bandung: Korban Dimintai Keterangan, Sampel Diuji
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 10 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

By Aga GustianaSabtu, 10 Oktober 2026 17:16 WIB3 Mins Read
Anggota DPRD Jabar Maulana Yusuf . Foto: Ist.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang baru saja menandatangani kesepakatan fasilitas kesehatan dengan 65 rumah sakit jaringan di Depok, Rabu (7/10/2026), memicu kritik mendalam dari gedung parlemen daerah. Kebijakan perluasan jangkauan berobat yang menggandeng RSUD, RS pusat, hingga RS swasta tersebut diminta tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang duduk di DPRD Jabar, Maulana Yusuf Erwinsyah, mendesak Pemprov untuk membenahi akar masalah pelayanan medis, mulai dari persoalan anggaran, kerumitan klaim pembayaran, hingga nasib para tenaga kesehatan di lapangan.

Meski menilai niat ekspansi layanan hingga ke luar provinsi sebagai terobosan positif bagi rakyat, Maulana mengingatkan agar efektivitas di lapangan menjadi tolok ukur utama.

“Kerja sama Pemprov Jawa Barat dengan beberapa rumah sakit swasta maupun rumah sakit di luar Jawa Barat saya kira bagus. Namun, jangan sampai hal tersebut hanya menjadi gimik, sekadar simbolis, atau riuh di permukaan saja,” kata Maulana, Sabtu (10/10/2026).

Baca Juga:  RAPBD Jabar 2026 Diperketat, DPRD Pastikan Program Prioritas Tetap Jalan

Alokasi Anggaran Kesehatan Justru Menyusut

Isu krusial yang diungkapkan Maulana adalah pos pembiayaan kesehatan Jabar yang justru menunjukkan tren penurunan. Saat ini, alokasi untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) di Dinas Kesehatan berada di angka Rp815 miliar. Sayangnya, angka tersebut diproyeksikan merosot menjadi Rp614 miliar pada dokumen perencanaan 2027.

Kondisi ini memicu tanda tanya besar terkait kesiapan dana Pemprov. Apalagi skema pembiayaan bersama (cost sharing) antara provinsi dan kabupaten/kota kerap memicu kerancuan dalam pembagian beban finansial.

“Ketika jangkauan perjanjian diperluas, bagaimana skema pembiayaan? Ini yang harus jelas. Jangan sampai skema ‘cost sharing’ justru membuat tanggung jawab pembiayaan menjadi tidak jelas,” ujarnya.

Maulana menegaskan, tanpa adanya MoU baru pun, daerah wajib mengalokasikan minimal 10 persen anggarannya untuk pos kesehatan. Dana tersebut sangat vital untuk menjangkau masyarakat pemegang Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang belum terdaftar di BPJS Kesehatan. Pemprov Jabar dipinta memberikan transparansi agar kesepakatan baru tidak malah mengaburkan kewajiban pokok pemda.

Baca Juga:  Tren Positif Partai Geser PDIP, Golkar Yakin Duduki 25 Kursi DPRD Jabar di Pileg 2024

Realita Lapangan: Dari Antrean IGD Hingga Jasa Medis Rp20 Ribu

Kritik tajam Maulana juga menyasar realitas pahit yang masih sering ditemui warga miskin saat berobat. Dari sekitar 86 rumah sakit yang berpotensi masuk dalam jangkauan Pemprov, masalah klasik seperti diskriminasi pasien BPJS dan non-BPJS masih marak terjadi akibat buruknya sistem pembayaran ke pihak rumah sakit.

“Faktanya di lapangan masih terjadi perbedaan perlakuan layanan. Permasalahannya adalah sistem pembayaran dan keuangannya,” katanya.

Masalah finansial ini berimbas langsung pada minimnya apresiasi terhadap tenaga medis. Maulana membeberkan bahwa terdapat jasa medis yang dihargai sangat minim, tak lebih dari Rp20.000 untuk sekali konsultasi atau pemeriksaan. Di sisi lain, lamanya birokrasi administrasi kerap memicu defisit pengadaan obat-obatan.

Bukan hanya persoalan finansial, daya tampung fasilitas medis juga dinilai memprihatinkan. Maulana menggambarkan situasi di RS Welas Asih, di mana pasien darurat terpaksa tertahan berjam-jam di atas kursi roda karena kehabisan bed IGD.

Baca Juga:  KKJ-PKJB 2024, Pemprov Jabar Targetkan Kunjungan 100 Juta Wisatawan

Kondisi senada terlihat pada fasilitas rumah singgah pendamping pasien tidak mampu milik Pemprov yang jumlahnya baru ada satu unit dan kurang terawat akibat dampak pemangkasan anggaran operasional dan petugas kebersihan.

Ukur Keberhasilan dari Manfaat Nyata, Bukan Jumlah Mitra

Menutup keterangannya, Maulana mengimbau agar Pemprov Jabar segera menuntaskan masalah-masalah fundamental ini secara menyeluruh daripada sekadar memamerkan banyaknya deretan mitra rumah sakit baru.

“Urusan orang sakit di Jawa Barat tidak cukup hanya diselesaikan dengan memunculkan atau membanggakan perjanjian saja. Sejauh mana sistem keuangan dan pembayaran diperbaiki? Sejauh mana anggaran diperbesar dan berpihak nyata kepada masyarakat tidak mampu serta kesejahteraan tenaga kesehatan?” ujarnya.

“Hal-hal fundamental itulah yang akan menentukan kualitas pelayanan kesehatan Jawa Barat ke depan,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPRD Jabar Pemprov Jabar rumah sakit
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi tsunami

Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust

Tembus 33 Ribu Tanda Tangan, Petisi Online Tolak Penutupan Jalan Diponegoro Bandung Makin Masif

Wacana Sistem Tidak Naik Kelas Diberlakukan 2027, Guru dan Siswa Diimbau Siapkan Strategi Baru

Update Kasus Dugaan Keracunan Makanan di 88 Seoul Bandung: Korban Dimintai Keterangan, Sampel Diuji

Viral Aksi Pria Ngaku Satnarkoba dan BNN di Garut, Korban Bongkar Gelagat Mencurigakan

Kabupaten Bekasi

Dampak El Nino Masih Mengancam, Warga Cirebon Diminta Waspada Air Bersih dan Kebakaran Lahan

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.