bukamata.id – Kawasan pesisir selatan Jawa Barat saat ini tengah berada dalam sorotan serius menyusul potensi ancaman gempa bumi megathrust yang dapat memicu gelombang tsunami. Berdasarkan kajian serta dokumen resmi penanggulangan bencana, hantaman gelombang air laut tersebut diprediksi mampu mencapai daratan hanya dalam kurun waktu 10 hingga 18 menit saja setelah guncangan gempa terjadi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat mencatat ada lima kabupaten yang masuk dalam zona merah atau berpotensi terdampak langsung. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, hingga Kabupaten Pangandaran.
Ancaman ini bersumber dari aktivitas dua segmen zona subduksi megathrust, yakni segmen Selat Sunda serta segmen Jawa Barat-Tengah. Berdasarkan rujukan kajian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terbaru, segmen Selat Sunda diidentifikasi berpotensi memberikan dampak terparah bagi wilayah Sukabumi dan Cianjur. Di sisi lain, potensi hantaman dari segmen Jawa Barat-Tengah diwaspadai berdampak langsung terhadap wilayah Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran.
Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Provinsi Jawa Barat, Edy Heryadi, menegaskan bahwa jajarannya memandang serius eskalasi ancaman tersebut dengan merumuskan langkah antisipasi yang terukur.
“BPBD Jawa Barat serius untuk melihat potensi ancaman tsunami zona subduksi megathrust wilayah Jabar Selatan sehingga segera dibuatkan Rencana Kontingensi dan menjadi prioritas bencana yang harus dilakukan langkah-langkah mitigasinya,” ujar Edy, Sabtu (10/10/2026).
Luas Wilayah Terdampak dan Pemodelan Ketinggian Gelombang
Merujuk pada Rencana Kontingensi BPBD Jabar, total kawasan yang masuk dalam zona ancaman tsunami ini membentang luas hingga 24.868 hektare. Dari angka tersebut, sebagian besar wilayahnya yakni seluas 20.784 hektare berada pada kategori kelas bahaya tinggi, 1.448 hektare berstatus kelas sedang, dan 2.636 hektare masuk kelas rendah. Dari kelima daerah yang diidentifikasi, Kabupaten Sukabumi memegang catatan wilayah berpotensi terdampak paling luas, yakni mencapai 6.546 hektare.
Pemodelan skenario terburuk yang disandarkan pada kajian BMKG memperkirakan potensi gempa berkekuatan magnitudo 8,7 dengan kedalaman sekitar 10 kilometer pada kedua segmen megathrust tersebut.
Berdasarkan simulasi di sejumlah titik pantai:
- Palabuhanratu (Sukabumi): Ketinggian tsunami diproyeksikan mencapai 15,9 meter dengan estimasi waktu tiba sekitar 18 menit di kawasan pantai depan PLTU Palabuhanratu.
- Pantai Sereg & Dudukuy (Cianjur): Ketinggian gelombang diperkirakan menyentuh angka 9 meter dengan waktu kedatangan kilat sekitar 12 menit.
- Pameungpeuk (Garut): Potensi tinggi gelombang maksimum diestimasi mencapai 19 meter dengan rentang waktu tiba 10 sampai 15 menit.
- Cipatujah & Ciandum (Tasikmalaya): Ketinggian gelombang diprediksi paling tinggi di antara wilayah lain, yakni mencapai 23 meter, dengan waktu tiba sekitar 15 menit.
- Pangandaran: Khusus di kawasan pantai timur, gelombang maksimum diperkirakan setinggi 14 meter dengan waktu tiba yang sedikit lebih panjang, yakni sekitar 42 menit.
Kendati demikian, pihak berwenang menegaskan bahwa deretan angka dan pemodelan tersebut merupakan simulasi skenario terburuk untuk mitigasi, dan bukan sebuah prediksi pasti kapan bencana akan terjadi.
Meski begitu, tingkat kerentanan di lapangan tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Edy menyoroti bahwa faktor demografi dan infrastruktur membuat beberapa wilayah memiliki tantangan evakuasi yang jauh lebih berat.
“Kalau dilihat dari asumsi dampak terhadap penduduk terpapar, rumah dan infrastruktur maka Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Garut dan Kabupaten Sukabumi memiliki tingkat kerawanan dan tantangan evakuasi,” jelas Edy.
Tantangan Waktu Evakuasi dan Kesiapan Warga
Sempitnya rentang waktu antara terjadinya gempa dan datangnya gelombang tsunami menuntut kesiapan mental serta infrastruktur evakuasi yang matang. BPBD menilai edukasi berkelanjutan merupakan kunci utama penyelamatan jiwa.
“Waktu tersebut memang cukup krusial untuk melakukan langkah-langkah evakuasi untuk menyelamatkan diri sehingga perlu dilakukan langkah-langkah edukasi kepada masyarakat, menyusun Tim Siaga Bencana kewilayahan, latihan dan simulasi secara rutin serta menetapkan tempat titik kumpul atau shelter-shelter yang terdekat dan aman,” kata Edy.
Berbagai upaya mitigasi sebenarnya telah digulirkan, seperti simulasi evakuasi di Pantai Pangandaran serta rangkaian Ekspedisi Jabar Selatan. Kendati demikian, pihak BPBD secara jujur mengakui bahwa tingkat kesiapan masyarakat secara menyeluruh belum sepenuhnya sempurna. Kerentanan yang bersifat sosial, ekonomi, fisik, hingga lingkungan masih menjadi tantangan nyata di lapangan.
Oleh karena itu, penyelesaian dan mitigasi risiko bencana di wilayah selatan Jawa Barat tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah saja, melainkan membutuhkan kolaborasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga pengelola pariwisata.
“Untuk itu kerja sama seluruh pihak (pentahelix) dalam upaya bersama membangun kesadaran ini sangat penting dan tidak harus saling menunggu, inisiatif semua pihak sangat diperlukan,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










