bukamata.id – Ancaman penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Kuningan semakin mengkhawatirkan. Laporan terbaru Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) mencatat akumulasi kasus sejak 2013 hingga 2025 telah mencapai 1.354 penderita.
Kepala Sekretariat KPA Kabupaten Kuningan, Asep Susan Sonjaya, membeberkan bahwa angka temuan infeksi baru secara konsisten terus bertambah lebih dari 100 orang setiap tahunnya.
“Tahun 2025 itu ada sekitar 1.354 kasus HIV dan AIDS. Kalau penemuan kasus per tahun itu tidak kurang dari 100. Jadi tiap tahunnya tuh memang selalu ada peningkatan. Tidak pernah penemuan kasus dari per tahun dari bulan Januari sampai Desember itu di bawah 100, semuanya di atas 100. Kayak di tahun 2021 naik 132 kasus, 2022 naik 165 kasus, 2023 naik 170 kasus baru,” tutur Asep, Kamis (20/8/2026).
Faktor Mobilitas Warga dan Pola Hubungan Berisiko
Berdasarkan pemetaan KPA, virus ini telah menyebar merata di seluruh wilayah Kuningan. Kelompok masyarakat usia produktif (25–49 tahun) menjadi populasi terbanyak yang terpapar. Selain itu, tingginya angka warga yang merantau ke luar daerah disinyalir memberi andil besar terhadap dinamika penularan.
“Warga Kuningan asli, kan Kuningan itu urban ya. Justru dari Kuningan itu urban banyak yang ke kota-kota besar. Kurang lebih 40% lah warga Kabupaten Kuningan itu urban ke luar kota. Kalau dilihat dari wilayah tingkat kecamatan, dari 32 kecamatan itu di Kabupaten Kuningan, itu semuanya sudah ada HIV. Mayoritas itu di usia produktif,” tutur Asep.
Penemuan data penderita diperoleh melalui skema skrining serta penjangkauan yang digalang pegiat HIV, LSM, dan pos pelayanan kesehatan di titik-titik rawan. Perilaku hubungan badan tanpa pengaman dan gonta-ganti pasangan kini menggeser pola penularan lama.
“Nah, yang melakukan penjangkauannya itu penggiat HIV atau LSM bersama puskesmas yang mendapatkan dana donor. Perlakuan itu yang menghasilkan data penemuan baru. Kalau yang sekarang trennya seksual. Ya, gonta-ganti pasangan dengan tidak menggunakan alat pelindung. Hubungan sesama jenis juga jadi penyebab,” tutur Asep.
Terkendala Dana Operasional dan Stigma Sosial
Meski tingkat kasus terus merangkak naik, langkah mitigasi di lapangan menemui jalan buntu akibat penghentian kucuran dana donor internasional dan keterbatasan APBD. Dampaknya, pemeriksaan medis rutin di ruang publik seperti tempat hiburan malam kini tidak bisa berjalan optimal.
“Jadi, ketika melakukan kegiatan katakan kalau di kita biasanya 3 bulan sekali itu melakukan kegiatan tes HIV di kafe-kafe, di tempat hiburan, tempat wisata, di hotel, itu sering kita lakukan. Nah, pasca tidak didukung oleh dana donor dan daerah tidak bisa menyediakan anggaran tersebut, akhirnya kan terhenti. Stigma dan diskriminasi masih ada, SDM yang concern terhadap HIV AIDS tidak banyak,” tutur Asep.
Merespons krisis ini, Asep menegaskan pentingnya mengubah cara pandang publik terhadap para penderita HIV/AIDS (ODHIV) agar penanganan bisa dilakukan secara inklusif tanpa perlakuan diskriminatif.
“Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kuningan menghimbau seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat upaya pencegahan dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kuningan. Peningkatan temuan kasus HIV harus menjadi perhatian bersama bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah. Kondisi ini tidak boleh direspons dengan stigma maupun diskriminasi terhadap orang dengan HIV,” pungkas Asep.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










