bukamata.id – Gelombang pemadaman listrik secara bergantian melanda berbagai wilayah di Jawa Barat belakangan ini. Mulai dari urusan dapur rumah tangga, operasional bisnis mikro, pasokan air bersih, hingga konektivitas internet untuk bekerja mendadak lumpuh. Menanggapi keluhan masif dari masyarakat, PT PLN (Persero) akhirnya membeberkan penyebab utama di balik gangguan massal ini.
Manager Komunikasi PLN UID Jawa Barat, Nurmalitasari, menjelaskan bahwa stabilitas daya listrik di area Jawa sebenarnya masih dalam koridor aman. Kendati demikian, penyesuaian distribusi daya terpaksa diambil demi menjaga kestabilan jaringan secara makro.
“PT PLN (Persero) menyampaikan bahwa sistem kelistrikan Jawa saat ini beroperasi dan terkendali secara baik. Namun demikian, untuk menjaga keandalan pasokan listrik kepada pelanggan, PLN melakukan manajemen beban secara terbatas dan terukur di sejumlah wilayah,” kata Nurmalitasari dalam keterangan resminya.
Masalah utama bersumber pada kendala teknis di sektor hulu. Dua unit pembangkit listrik skala besar dilaporkan mengalami malafungsi mendadak, sehingga memaksa operasionalnya dihentikan sementara waktu dan memangkas total pasokan listrik ke jaringan grid.
“Langkah tersebut dilakukan karena terdapat kendala teknis operasional pembangkit serta ada dua unit pembangkit besar yang mengalami gangguan sehingga tidak beroperasi sementara dan menurunkan kemampuan sistem pasokan listrik,” ujarnya.
Guna mengatasi defisit setrum ini, PLN tengah memacu proses perbaikan sistem dan mengalihkan beban ke cadangan energi dari pembangkit alternatif lainnya.
“PLN terus bekerja sama melakukan percepatan pemulihan, mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain, serta melakukan pengaturan operasi sistem guna menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik serta meminimalkan dampak kepada pelanggan,” tuturnya.
Pihak manajemen juga menjamin bahwa kebijakan pemadaman berkala ini tidak akan berlangsung lama.
“PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Manajemen beban ini bersifat sementara dan akan segera dihentikan secara bertahap seiring dengan membaiknya kondisi pasokan sistem,” katanya.
Imbas Nyata di Lapangan: Jalanan Bandung Semrawut & Bisnis Seret
Dampak matinya aliran listrik langsung dirasakan nyata oleh warga Kota Bandung sejak Kamis (18/6) siang. Di koridor Jalan Ahmad Yani, sebuah warung makan bahkan terpaksa beroperasi dalam temaram cahaya lilin.
Sang pemilik warung, Eza, mengeluhkan matinya pompa air elektronik yang menjadi urat nadi usahanya.
“Pertamanya memang ada pemberitahuan di sekitar ini ada pemadaman bergilir, soalnya sebelumnya ada di daerah lain sama pemadaman,” ujar Eza.
“Dampaknya, kita butuh air, apalagi air sedot, kita butuh listrik untuk nyedot air,” tuturnya.
“Harapannya kalau ada pemadaman jangan lama-lama, karena butuh air dan es juga ya di freezer cair,” sambungnya.
Kondisi serupa merugikan usaha fotokopi di kawasan Cikutra. Aura (26), pengelola gerai tersebut, terpaksa gigit jari karena seluruh perangkat kerjanya mati total saat pelanggan sedang padat-padatnya.
“Mesin-mesin mati, tadi juga lagi ramai, jadi pada balik lagi,” kata Aura.
“Harapannya mungkin, jangan dadakan, karena tadi ada yang ngerjain tugas, listrik mati jadi nggak bisa ngerjain dan terlambat ngumpulin tugas,” ujarnya.
Tak cuma sektor usaha, matinya lampu lalu lintas di persimpangan besar seperti kawasan Samsat Soekarno-Hatta pada Jumat (19/6) memicu kemacetan parah. Petugas kepolisian harus berjibaku mengurai kendaraan secara manual.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian, mengakui sistem traffic light di wilayahnya belum dilengkapi fasilitas mandiri.
“Iya, pemadaman dari sananya, pemadaman arus ini PLN. Jadi berpengaruh ke kita. Karena yang penggunaan solar cell-nya kan nggak ada kita mah, semuanya konvensional,” katanya.
Ketiadaan pasokan daya cadangan berbasis surya ini membuat beberapa titik lain seperti Jalan Riau dan Buahbatu ikut gelap gulita.
“Karena kalau kita ngandelin sollar cell, enggak bisa itu. Kalau mati lampu otomatis jadi blank, jadi mati kita mah semuanya konvensional,” pungkasnya.
Solat Jumat Sunyi di Tasikmalaya hingga Radio Kuningan yang Gagal Mengudara
Bergeser ke Tasikmalaya, imbas padamnya listrik merembet ke ranah ibadah. Warga di Kecamatan Mangkubumi terpaksa melaksanakan ibadah salat Jumat tanpa bantuan pengeras suara akibat listrik mati berjam-jam.
Ketua DKM Almarhamah Perumahan Baitul Marhamah, Dadan Ali Sundana, terpaksa mengumumkan situasi tersebut sebelum ibadah dimulai.
“Sudah masuk waktu jumatan, maaf adzan tidak pakai speaker karena listrik padam,” ucap Dadan.
Bagi wilayah yang tidak memiliki mesin genset, krisis air bersih pun langsung melanda.
“Kebagian juga padam listrik, mana air gak ada. Kan mati airnya,” kata Ujang, warga Tamansari.
Sementara itu, warga Bungursari bernama Aris mengekspresikan kekesalannya karena pekerjaannya mendadak macet.
“Saya lagi bikin pemberkasan pekerjaan malah mati listrik. Bagaimana PLN ini,” ujarnya.
Kerugian tidak kalah besar dirasakan oleh industri penyiaran di Kabupaten Kuningan. Kepala Stasiun Radio Kuningan FM, Ajun, mengungkapkan ada agenda interaktif penting yang terpaksa batal total.
“Jelas berdampak. Apalagi inikan pakai listrik langsung nggak pakai genset. Kayak saat kemarin pemadaman itu kita jadi gagal siaran. Padahal saat itu ada talkshow, jadi nggak jadi. Sekalinya pemadaman itu lama, bisa lebih dari 3 jam. Belum lagi kalau pemadamannya mendadak. Itu jelas merugikan kita sama narasumber yang sudah janjian,” tutur Ajun.
Ia juga mencemaskan potensi kerusakan pada investasi perangkat elektroniknya akibat tegangan yang naik-turun.
“Pengaruh juga pada peralatan, dari mulai komputer, alat siaran, apalagi kalau mati lampunya lama,” katanya.
Terakhir, desakan agar PLN mengevaluasi pemeliharaan ini disuarakan oleh Azam, seorang pekerja digital di Kuningan.
“Saya memahami. Tapi kalau bisa jangan sering-sering karena listrik kan sudah jadi kebutuhan vital,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










