bukamata.id – Sepak bola seharusnya menjadi hiburan, namun bagi keluarga Mohammed Shariful Islam di Bangladesh, pertandingan Piala Dunia 2026 berubah menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah berakhir. Sebuah insiden tragis pecah di tengah laga Argentina kontra Mesir pada Selasa (7/7/2026), di mana perselisihan sepele berujung pada hilangnya nyawa.
Semua bermula dari momen krusial di menit ke-21. Saat itu, harapan pendukung Argentina untuk menyamakan kedudukan musnah setelah Lionel Messi gagal mengeksekusi penalti akibat penyelamatan heroik kiper Mesir, Mostafa Shobeir. Di sebuah kedai teh di wilayah Cumilla, ketegangan yang sedari awal membara akhirnya meledak.
Menurut keterangan kepolisian setempat, Shankar Kumar Das, yang memimpin Pos Polisi Nazira Bazar, pertikaian fisik dipicu oleh kegagalan penalti sang bintang Argentina tersebut. Saksi mata di lokasi kejadian menuturkan bahwa Shariful, seorang pengemudi becak motor yang diketahui mendukung Mesir, melontarkan ejekan kepada para pendukung Argentina di kedai tersebut.
“Bapakmu enggak bisa cetak gol (your father could not score a goal),” ujar saksi itu menirukan Shariful, dikutip NDTV.
Kata-kata tersebut memicu kemarahan. Situasi yang awalnya hanya perdebatan sengit seketika berubah menjadi aksi kekerasan. Dua pria lokal, Babu dan Main Uddin Malu, dilaporkan memukul kepala Shariful hingga ia tersungkur. Meski warga sempat melarikannya ke Rumah Sakit Perguruan Tinggi Kedokteran Cumilla, nyawa pria berusia 35 tahun itu tidak tertolong.
Jerit Hati Seorang Istri yang Kehilangan
Kematian Shariful meninggalkan luka mendalam bagi istrinya, Beauty Banu. Di tengah duka yang menghancurkan, ia menuntut keadilan bagi suami yang kini pergi untuk selamanya meninggalkan dua putri kecil mereka.
“Bagaimana mungkin orang membunuh seseorang hanya karena pertandingan sepak bola? Saya punya dua anak perempuan. Siapa yang akan mereka panggil ayah sekarang? Kedua anak perempuan saya telah menjadi yatim piatu,” kata sang istri.
Tak hanya kehilangan sosok pelindung, Beauty kini dihadapkan pada masa depan yang suram dan penuh ketidakpastian. “Saya menginginkan hukuman terberat bagi mereka yang membunuh suami saya. Saya adalah wanita miskin dan tak berdaya. Bagaimana saya akan membesarkan kedua anak perempuan saya sekarang? Seluruh keluarga saya telah hancur,” ujarnya dengan getir.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit bagi dunia sepak bola bahwa fanatisme yang berlebihan seringkali melampaui batas kemanusiaan. Hingga saat ini, pihak berwenang di Bangladesh masih terus mengusut kasus tersebut agar pelaku mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









