bukamata.id – Aktivitas seismik di tatar Sunda belakangan ini menunjukkan intensitas yang cukup menyita perhatian publik. Catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya 118 kali getaran gempa yang mengguncang wilayah Kabupaten Bandung dan sekitarnya—meliputi Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, hingga Pangandaran—dalam rentang waktu sebulan lebih dari pertengahan Agustus hingga pertengahan September 2026. Fenomena alam ini sontak memicu pertanyaan publik mengenai eksistensi patahan bumi di balik rentetan bencana tersebut.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, Edy Slameto, membeberkan bahwa wilayah Jawa Barat memang diselimuti oleh jaringan patahan atau sesar aktif yang cukup padat. Menurutnya, terdapat setidaknya lima struktur sesar utama yang memiliki catatan historis memicu gempa merusak di bumi parahyangan.
“Selain Sesar Lembang, ada Sesar Baribis di utaranya ya. Kemudian ada Sesar Tomo, Sesar Cimandiri itu juga tidak kalah terkenalnya gitu ya di Sukabumi, itu sering terjadi aktif kembali reaktivasi. Karena namanya sesar aktif itu kan kalau dipicu menimbulkan pergerakan yang mengakibatkan kerusakan tadi,” ujar Edy.
Selain nama-nama populer tersebut, Edy juga memetakan sejumlah sesar lain yang membentang secara regional di tanah Sunda, seperti Sesar Garsela di Garut, Rajamandala, Kertasari, Cugenang, hingga Citarik dan Cisadane. Karakteristik geologi Jawa Barat yang didominasi batuan vulkanik muda membuat struktur tanahnya cenderung rapuh dan mudah mengalami patahan ketika mendapati tekanan tektonik maupun vulkanik.
Ancaman Nyata Gempa Darat Dibanding Megathrust
Di tengah diskursus publik yang sering kali mengaitkan potensi bencana dengan ancaman megathrust, Edy memberikan perspektif pembanding yang krusial. Kendati gempa megathrust kerap diasosiasikan dengan kekuatan magnitudo raksasa, karakteristik pusatnya yang berada di laut dan berkedalaman jauh berbeda dengan gempa darat akibat sesar lokal.
Menariknya, Badan Geologi justru menilai gempa darat berkekuatan relatif kecil jauh lebih berisiko menimbulkan kerusakan fatal karena pusatnya yang dangkal dan berada tepat di bawah permukiman warga.
“Justru yang di darat. Meskipun magnitudonya kecil. Kecil tapi dia dangkal, dan celakanya umumnya orang membangun di sekitarnya,” tegasnya.
Di sisi lain, ancaman megathrust tidak serta-merta terjadi setiap tahun mengingat pergerakan lempeng subduksi membutuhkan proses akumulasi energi yang sangat lambat—hanya berkisar dalam hitungan milimeter per tahun.
“Karena megathrust itu butuh akumulasi energi yang besar dan pergerakan lempeng itu kan sedikit-sedikit ya kan. Sehingga itu akan butuh waktu ratusan tahun untuk terjadinya akumulasi energi yang besar… Sehingga megathrust itu nggak akan setiap tahun terjadi. Dipastikan itu butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun akan terjadi. Kalau sesar aktif yang di darat yang di permukaan tadi, itu bisa anytime terjadi,” jelas Edy.
Jejak Historis Kuno dan Misteri Waktu Gempa
Berdasarkan arsip sejarah kegempaan, titik-titik pusat gempa di Jawa Barat—seperti di Cianjur, Bogor, Sukabumi, Cirebon, hingga Garut—ternyata tidak pernah bergeser dari lokasi geografis yang sama sejak abad ke-19 hingga era modern saat ini. Catatan historis tersebut sebagian besar berhasil diabadikan berkat budaya literasi kolonial Belanda di masa lampau, mengingat era kerajaan sebelumnya masih mengandalkan tradisi tutur lisan.
Meski posisi patahan bersifat permanen dan tidak dapat dimanipulasi, ilmu pengetahuan modern hingga detik ini tetap belum mampu merumuskan teknologi akurat untuk memprediksi waktu pasti terjadinya sebuah gempa bumi.
“Belum ada teknologi yang bisa memprediksi gempa terjadinya kapan. Hari, tanggal, belum ada. Jadi kalaupun ada katakanlah paper, publikasi atau ahli yang mengatakan bahwa sekian ratus tahun ke depan kemungkinan akan terjadi gempa, pasti dia akan bicara kemungkinan dia nggak bisa memastikan,” pungkas Edy.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









