Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
peredaran narkoba

WNI 18 Tahun Jadi Penjaga Gudang Sindikat Narkoba di Malaysia, Barang Bukti 25,95 Kg Disita

Jumat, 18 September 2026 14:38 WIB

Professor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Belajar Dari Prabowo

Jumat, 18 September 2026 14:08 WIB

Persija Jakarta Kena Sanksi Komdis PSSI Usai Lawan Persib, Total Denda Rp130 Juta

Jumat, 18 September 2026 14:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • WNI 18 Tahun Jadi Penjaga Gudang Sindikat Narkoba di Malaysia, Barang Bukti 25,95 Kg Disita
  • Professor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Belajar Dari Prabowo
  • Persija Jakarta Kena Sanksi Komdis PSSI Usai Lawan Persib, Total Denda Rp130 Juta
  • Wulan Guritno Beri Kejutan di Ultah Ariel NOAH, Momen Pelukan Jadi Sorotan
  • Rumor Ivan Susak dan Matej Markovic Muncul Lagi, Persib Masih Cari Kiper Baru?
  • Bandung Jadi Lintasan Pocari Sweat Run 2026, Ini Ruas Jalan yang Perlu Dihindari
  • Hasil Liga Europa: Juventus Pesta 5-0, Bournemouth Bikin Kejutan di Markas Real Sociedad
  • Bukan Kuliner Kekinian, 5 Tempat Makan Legendaris Bandung Ini Wajib Dicoba
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 18 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Banjir Karangligar Karawang Bukan Lagi Masalah Sementara, Dedi Mulyadi Punya Solusi Radikal

By Muhammad Rafki Razif KiransyahKamis, 22 Januari 2026 19:26 WIB2 Mins Read
Banjir di Karangligar Karawang. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyebut penanganan banjir tahunan di Desa Karangligar, Kabupaten Karawang, tidak bisa lagi dilakukan dengan pendekatan biasa. Menurutnya, kondisi geografis wilayah yang berbentuk cekungan membuat berbagai rekayasa teknis hanya akan menjadi solusi sementara.

Dedi menilai, dibutuhkan langkah radikal dan permanen. Salah satunya dengan relokasi warga serta mengubah kawasan permukiman menjadi danau retensi atau kolam penampungan air.

“Banjir Karawang itu saya hafal betul daerahnya. Untuk kasus pertama, kalau luapan sungai BBWS, itu penanganannya sudah jalan. Saya langsung kontak Bupati Karawang, lalu terkoordinasi dengan BBWS, PJT, dan PSDA, itu bisa selesai,” ujar Dedi di Bandung, Kamis (22/1/2026).

Namun, ia menegaskan persoalan berbeda terjadi di Karangligar. “Yang kedua adalah masalah cekungan. Saya sampaikan, kalau yang di cekungan Karang Ligar, itu sampai kapan pun enggak akan pernah selesai. Karena itu cekungan alam,” katanya.

Baca Juga:  Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Pelija Desak Pemprov Jabar Hentikan Pemberian Izin KBU

Menurut Dedi, karakter alam tersebut membuat air selalu kembali menggenang, bahkan ketika permukaan rumah sudah ditinggikan. Ia mencontohkan rumah contoh yang pernah ia bangun.

“Rumah yang saya bangun dengan ketinggian 2,5 meter, lantai atasnya memang tidak terendam. Tapi sekarang bagian bawahnya masih terendam. Ke depan, tiangnya bukan lagi 2,5 meter, tapi harus 4 meter. Nah, 4 meter baru aman,” ucapnya.

Baca Juga:  Program Pemutihan Pajak Kendaraan di Jabar Resmi Berakhir, Target Tercapai Jauh di Atas Ekspektasi

Kondisi itu, kata Dedi, menjadi penanda bahwa mempertahankan permukiman di wilayah cekungan justru memperpanjang siklus bencana dan penderitaan warga.

Ia juga menyinggung dinamika sosial yang kerap menjadi tantangan dalam upaya relokasi. “Kita suka berhadapan dengan kenyataan masyarakat. Waktu banjir pengen relokasi. Begitu nanti surut, enggak mau relokasi lagi. Ini kan problem,” ujarnya.

Karena itu, Dedi menegaskan, relokasi harus diikuti dengan penataan kawasan yang tegas. Bekas permukiman tidak boleh lagi dijadikan tempat tinggal.

“Kalau direlokasi, tempat itu tidak boleh lagi jadi rumah. Kalau keinginan saya, itu jadi kawasan danau. Lumayan kan, bisa menampung berapa juta kubik air di situ,” tuturnya.

Baca Juga:  Didukung Bima Arya di Pilgub Jabar, Dedi Mulyadi: Terima Kasih Sahabatku Tercinta

Gagasan menjadikan Karangligar sebagai kawasan danau retensi menandai perubahan pendekatan Pemprov Jabar dalam melihat banjir: bukan lagi semata gangguan yang harus dibuang secepatnya, tetapi bagian dari sistem alam yang harus diberi ruang.

Di tengah bencana yang berulang dari tahun ke tahun, pernyataan Dedi sekaligus menjadi sinyal bahwa solusi permanen menuntut keberanian politik, kesiapan anggaran, serta kesediaan semua pihak terutama negara untuk memastikan relokasi tidak hanya memindahkan warga, tetapi juga memindahkan mereka ke kehidupan yang lebih aman dan layak.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Karawang Pemprov Jabar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

peredaran narkoba

WNI 18 Tahun Jadi Penjaga Gudang Sindikat Narkoba di Malaysia, Barang Bukti 25,95 Kg Disita

Kemacetan

Bandung Jadi Lintasan Pocari Sweat Run 2026, Ini Ruas Jalan yang Perlu Dihindari

gempa

Kertasari dan Pangalengan Diguncang Gempa Berulang, BMKG Jelaskan Fenomena Swarm

Jalan Terakhir Sang Pengantar Kehidupan: Kisah Nyata Aris Sanda yang Mengiris Hati

Ilustrasi gempa

Terjadi 118 Kali, Rangkaian Gempa Kabupaten Bandung Ternyata Berada di Area Ini

Polisi Amankan Pengrajin Kayu di Parongpong, Diduga Racik Bom hingga Uji Coba Puluhan Kali

Terpopuler
  • Jadwal Lengkap FC Seoul vs Persib Bandung di ACL 2: Waktu Kick-off dan Link Nonton
  • Game Free Fire
    Deretan Kode Redeem FF 15 September 2026, Klaim Reward Senjata Eksklusif Sekarang Juga!
  • Tradisi 60 Tahun Berujung Hujatan! Menelusuri Fakta di Balik Hebohnya Simbang Kulon Night Carnival 2026
  • Karpet Merah Mobilitas Publik atau Kuburan Ekonomi Rakyat: Menelisik Polemik di Balik Megaproyek BRT Bandung Raya
  • Link Live Streaming ACL 2: FC Seoul vs Persib Bandung, Nonton Gratis di Sini!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.