bukamata.id – Ketika banyak pesohor memilih diam, Vicky Prasetyo justru mengangkat suara paling keras. Dengan julukan Gladiator yang kini melekat padanya, Vicky lantang mengajak para artis dan influencer yang ia sebut sedang “tidur panjang” untuk bangun dan ikut menyuarakan penderitaan rakyat.
Seruan itu tidak datang dari ruang hampa. Ia muncul di tengah polemik peringatan Sumpah Pemuda di Bundaran HI, Jakarta, yang menyeret nama Raffi Ahmad. Yang membuatnya istimewa, sindiran Sang Gladiator diarahkan kepada figur yang selama ini berada di lingkar pergaulan dunia hiburan yang sama dengannya.
“Saatnya Gladiator Turun ke Jalan”
Semuanya bermula dari sebuah unggahan di akun Instagram pribadi Vicky, @vickyprasetyo777. Kalimatnya pendek, tetapi cukup untuk mengguncang lini masa.
“Saatnya Gladiator turun ke jalan… Menyuarakan aspirasi rakyat… Saya lebih siap kehilangan teman-teman daripada mengkhianati perjuangan rakyat…” tulisnya.
Tak lama, Vicky kembali mengunggah tulisan yang oleh banyak warganet dibaca sebagai sindiran langsung kepada Raffi Ahmad.
“Sumpah Pemuda itu 28 Oktober teman-teman… Kalau 29 itu ulang tahun Sari…” tulisnya.
Dua unggahan singkat itu menjadi pembuka. Babak berikutnya jauh lebih tajam.
Ketika Bundaran HI Menjadi Dua Panggung Berbeda
Untuk memahami amarah Vicky, publik perlu mundur beberapa hari ke belakang.
Rabu (28/10/2026), tepat di Hari Sumpah Pemuda, sejumlah mahasiswa merencanakan aksi demonstrasi damai di Bundaran HI untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Namun, izin kegiatan itu ditolak. Kawasan ikonik di jantung ibu kota tersebut dijaga ketat, menutup ruang bagi suara-suara kritis mahasiswa.
Sehari kemudian, Kamis (29/10/2026), pemandangan di lokasi yang sama berbalik total. Sebuah acara bertajuk Deklarasi Sumpah Pemuda digelar meriah. Sejumlah pesohor hadir, termasuk Raffi Ahmad dan Willie Salim, tampil kompak dengan pakaian putih dan ikat kepala merah putih.
Satu tempat, dua hari berturut-turut, dua perlakuan yang berbeda. Kontras itulah yang menyulut kemarahan warganet. Kehadiran para pesohor dinilai nir-empati di tengah situasi ekonomi dan sosial yang sensitif. Isu soal dugaan pengerahan massa bayaran ikut beredar dan memperkeruh suasana, meski belum ada pihak yang membuktikannya.
Raffi Ahmad, yang kini menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni, telah memberikan klarifikasi. Ia menyebut kehadirannya murni karena undangan mendadak dan tidak terlibat dalam kepanitiaan. Namun bagi sebagian publik, penjelasan itu datang ketika kekecewaan telanjur meluas.
Sang Gladiator Lantang Bersuara
Di tengah situasi itulah Vicky tak lagi sekadar menulis. Ia bersuara terbuka, dan pesannya ditujukan kepada para artis serta influencer yang hadir pada 29 Oktober.
“Catat di kalender kalian baik-baik, para artis dan influencer serta adik-adik yang dikondisikan, Hari Sumpah Pemuda itu tanggal 28 Oktober, bukan tanggal 29 Oktober. Kalau niat kalian murni mau turun ke jalan, membela negeri, harusnya tanggal 28 Oktober kalian berdiri bersama rakyat dan adik-adik mahasiswa, meneriakkan keadilan di bawah terik matahari, bukan malah baru nongol di 29 Oktober merayakan ulang tahun Sari,” paparnya.
Vicky lalu menyentuh hal yang selama ini menjadi kekuatan citra sejumlah pesohor: konten bagi-bagi uang.
“Peka sedikit, tindakan kemarin kalian bukan aksi heroik, itu blunder paling memalukan yang pernah kalian bikin di ruang publik. Mentang-mentang di konten media sosial kalian sering bagi-bagi uang, rajin pamer giveaway, dan dicitrakan dermawan, kalian pikir kalian otomatis kebal dari salah? Kalian pikir bagi-bagi uang di konten bisa menutup mata publik dari keberpihakan yang keliru?” ungkapnya.
Ia menutup dengan seruan yang menjadi inti pesannya.
“Rakyat sedang memperjuangkan masa depannya, tapi panggung kalian justru untuk membungkam suara adik-adik mahasiswa lewat panggung tandingan pesanan. Akui saja kalian tidak sedang membela tanah air, kalian semua panik mengamankan kepentingan yang bikin kalian semua khawatir. Ayo semua artis dan influencer lain, bangun dari tidur panjang kalian. Saatnya kita bersatu membantu rakyat, tanpa harus khawatir pada siapa pun,” tandasnya.
Siap Kehilangan Teman, Tak Siap Khianati Rakyat
Yang membuat seruan Vicky menjadi sorotan bukan hanya isi kritiknya, melainkan siapa yang ia sindir.
Di industri hiburan, jejaring pertemanan adalah segalanya. Undangan tampil, kerja sama konten, hingga peluang bisnis kerap lahir dari kedekatan antarpesohor. Mengkritik sesama artis secara terbuka, terlebih figur sebesar Raffi Ahmad yang dikenal berada di lingkar pergaulan yang sama dengan Vicky, adalah langkah yang jarang diambil.
Vicky tampaknya sadar betul akan harga yang mungkin harus ia bayar. Kalimat pembukanya sejak awal sudah menjadi pernyataan sikap: ia lebih siap kehilangan teman-teman daripada mengkhianati perjuangan rakyat.
Kalimat itu seperti garis yang ia tarik sendiri. Di satu sisi ada kenyamanan pertemanan di dunia hiburan. Di sisi lain ada keberpihakan yang ia pilih. Sang Gladiator memilih sisi kedua.
Namun, langkah ini juga menyimpan pertaruhan. Hingga kini belum diketahui bagaimana Raffi Ahmad maupun rekan-rekan artis lain menanggapi sindiran tersebut. Apakah seruan Gladiator akan mengundang pesohor lain untuk bersuara, atau justru membuat Vicky berjalan sendirian, masih menjadi tanda tanya.
Warganet: “Ambil Mahkotamu, King”
Di kolom komentar, sambutan untuk Vicky mengalir deras. Banyak warganet menyebutnya pahlawan baru dari kalangan selebritas.
“Gladiator semoga selalu dilindungi Tuhan YME,” tulis akun @nin***.
“King of Gladiator 🔥🔥🔥🔥,” tulis akun @die***.
“Bersuaralah atas kebenaran! Jangan jadi manusia yang takut kehilangan jabatan! Bravo Bung Vicky,” tulis akun @ana***.
“Ambil mahkotamu, King,” tulis akun @yog***.
Komentar senada datang dari warganet yang menyoroti kedekatan Vicky dengan Raffi.
“Padahal Bang Vicky termasuk dekat dengan Raffi, tapi berani speak up nyindir Raffi. Keren banget, Bang. Semoga keberuntungan mengikutimu,” tulis akun @ita***.
Tiga Jari di Panggung Kemenpora
Sementara Vicky menuai pujian, gelombang penolakan terhadap Raffi justru merembet ke panggung resmi.
Dalam Indonesia Youth Summit 2026 yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 29–30 Oktober 2026, suasana sempat memanas. Saat Raffi berdiri di panggung mendampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, seorang peserta tiba-tiba bangkit dan mengacungkan simbol tiga jari ke arahnya sebagai bentuk protes. Petugas keamanan bergerak cepat membawa pria tersebut keluar ruangan.
Raffi memilih tidak menghentikan pidatonya. Ia melanjutkan dengan tenang dan berbicara tentang perubahan dalam hidup seseorang, yang menurutnya tidak harus dipandang negatif dan bisa membawa ke kondisi lebih baik bila diarahkan dengan tepat. Ia juga menekankan pentingnya beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Di media sosial, kritik terhadap Raffi terus berdatangan. “Berpolitik sekarang itu mana mau dengerin suara rakyat, entar dengerinnya buat janji pas mau pemilihan umum,” tulis seorang warganet. Yang lain menyapa langsung akun sang presenter: “Merasa berkuasa kah, Raff @raffinagita1717? Ingat, dadu sudah bergulir.”
Menunggu Artis Lain Bangun
Polemik Bundaran HI telah membuka satu pertanyaan besar tentang posisi para pesohor di tengah suara rakyat. Sebagian memilih hadir di panggung yang dinilai berseberangan dengan aspirasi mahasiswa. Sebagian lain memilih diam.
Vicky Prasetyo memilih jalan berbeda. Dengan risiko kehilangan teman di dunia yang membesarkan namanya, Sang Gladiator turun gunung dan bersuara. Kini publik menanti: akankah ajakannya membangunkan artis lain dari “tidur panjang” mereka?
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










