Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Sabtu, 10 Oktober 2026 20:46 WIB

Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian

Sabtu, 10 Oktober 2026 20:21 WIB

Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur

Sabtu, 10 Oktober 2026 19:44 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas
  • Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian
  • Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur
  • Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit
  • Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust
  • The Next Maarten Paes? Aksi Latihan Kiper Cilik Paling Unik dan Keren Se-Indonesia!
  • Tembus 33 Ribu Tanda Tangan, Petisi Online Tolak Penutupan Jalan Diponegoro Bandung Makin Masif
  • Wacana Sistem Tidak Naik Kelas Diberlakukan 2027, Guru dan Siswa Diimbau Siapkan Strategi Baru
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 10 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur

By Aga GustianaSabtu, 10 Oktober 2026 19:44 WIB6 Mins Read
Ratu Suthida. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Gemuruh mesin jet multirole buatan Swedia, Saab JAS 39C Gripen, menggelegar membelah langit jernih di atas Pangkalan Udara Wing 7, Provinsi Surat Thani, Thailand, pada Kamis (8/10/2026). Di balik kokpit pesawat tempur supersonik bernilai jutaan dolar itu, tidak ada instruktur pendamping. Hanya ada seorang wanita yang memegang kendali penuh atas kemudi, menatap lurus ke cakrawala dengan ketenangan luar biasa.

Sosok di dalam kokpit itu bukan sekadar pilot militer biasa, melainkan Ratu Suthida, Permaisuri Kerajaan Thailand.

Penerbangan solo perdana tersebut bukan hanya sebuah atraksi penerbangan biasa, melainkan pengukuhan sejarah baru. Hari itu, Ratu Suthida resmi menjadi wanita Thailand pertama yang menerbangkan jet tempur Gripen seorang diri (solo flight). Bagi banyak orang, menjadi bagian dari keluarga kerajaan identik dengan protokol ketat dan acara-acara kenegaraan yang anggun. Namun bagi Permaisuri Suthida, keberanian di garis depan dan penguasaan teknologi penerbangan militer tingkat tinggi adalah bentuk dedikasi yang nyata.

Sorotan Publik: “Pasangan Raja dan Ratu Penerbang”

Pencapaian bersejarah Ratu Suthida di kokpit jet tempur Gripen tak pelak langsung memancing perhatian dan perbincangan hangat di media sosial. Publik dibuat kagum oleh latar belakang militer serta kemampuan penerbangan luar biasa yang dimiliki oleh pasangan monarki Thailand ini.

Banyak netizen yang teringat momen-momen saat Raja Maha Vajiralongkorn (Rama X) dan Ratu Suthida melakukan kunjungan kerja luar negeri (kunker) dengan menerbangkan sendiri pesawat kepresidenan/kerajaan mereka.

“Suami istri raja dan ratu Thailand ini bukannya pilot ya? Soalnya pernah baca ketika mereka kunker ke suatu negara, Bhutan kayaknya, pesawat kerajaan mereka piloti sendiri. Cmiiw,” ujar seorang netizen memberikan komentarnya.

Komentar tersebut disambut hangat oleh netizen lainnya yang mengagumi kekompakan pasangan pemimpin kerajaan tersebut saat bertugas di udara.

“Ini yg pergi ke acara kenegaraan ga salah raja jd pilot ratu jd copilot nya ya,” timpal netizen lain.

Ketakjuban warganet ini bukan tanpa alasan. Di dunia monarki modern, sangat jarang ditemukan pasangan kepala negara dan permaisuri yang sama-sama memegang lisensi penerbang aktif, bahkan memandu sendiri penerbangan kenegaraan lintas negara di dalam satu kokpit yang sama.

Baca Juga:  Hilang Empati di Ruang Digital! Saat Jempol Jahat Oknum Nakes Berbalik Hancurkan Karier Sendiri

Detik-Detik Menuju Langit Surat Thani

Keberhasilan menerbangkan pesawat tempur supersonik sekelas JAS 39C Gripen—yang dikenal berkat kelincahannya menjalankan berbagai misi dari pertahanan udara hingga serangan darat—tidak diraih dalam semalam. Di balik momen bersejarah selama beberapa puluh menit di udara tersebut, terdapat proses latihan yang sangat intensif, disiplin baja, dan ketahanan fisik yang mumpuni.

Sebelum diizinkan melepas landasan seorang diri, Ratu Suthida menjalani simulasi penerbangan (flight simulator) yang ketat selama bertanduk-tanduk minggu. Latihan simulator ini dirancang untuk melatih refleks, merespons situasi darurat, hingga menguasai seluruh panel instrumen rumit yang ada pada pesawat Gripen. Tidak berhenti di situ, beliau juga harus menyelesaikan sekitar 10 jam latihan penerbangan langsung menggunakan Gripen versi berkursi ganda (dual-seat) bersama pilot instruktur senior Angkatan Udara Kerajaan Thailand.

Ketika roda pesawat akhirnya terangkat dari landasan Pangkalan Udara Wing 7, Surat Thani, Ratu Suthida membuktikan bahwa penguasaan instrumen penerbangan dan disiplin militernya telah berada di level tertinggi. Menerbangkan jet tempur secara solo menuntut fokus tanpa celah; satu keputusan kecil di kokpit terjadi dalam hitungan detik pada kecepatan mendekati atau melebihi kecepatan suara. Penerbangan solo ini menegaskan bahwa gelar militer yang disandangnya bukan sekadar seragam kehormatan, melainkan cerminan dari kapasitas dan kompetensi yang diuji secara nyata.

Dari Dek Kabin Pesawat Komersial hingga Kokpit Militer

Lahir pada 3 Juni 1978 di Hat Yai, Provinsi Songkhla, wanita yang memiliki nama lahir Suthida Tidjai—atau akrab disapa “Nui”—tumbuh dalam keluarga berketurunan Tionghoa-Thailand (etnis Hokkien). Sejak muda, Suthida dikenal sebagai pribadi yang tekun, cerdas, dan memiliki ketertarikan kuat pada dunia komunikasi serta pelayanan publik.

Suthida menempuh pendidikan tingginya di salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Bangkok, Assumption University, dan berhasil meraih gelar Sarjana Seni Komunikasi (Bachelor of Arts in Communication Arts) pada tahun 2000. Setelah menyelesaikan pendidikannya, langkah pertamanya menjelajahi dunia penerbangan dimulai dari industri penerbangan komersial.

Baca Juga:  Viral, Aksi Pemalakan Travel Gelap oleh Oknum Sopir Angkot di Sukabumi

Perjalanan kariernya di udara diawali sebagai pramugari di JALways (anak perusahaan Japan Airlines) dari tahun 2000 hingga 2003. Keanggunan, kedisiplinan, dan kemampuannya melayani penumpang dengan standar internasional membuatnya dilirik oleh maskapai nasional, Thai Airways International, di mana ia mengabdi dari tahun 2003 hingga 2008.

Di sanalah benih-benih kecintaannya pada navigasi dan dunia kedirgantaraan mulai berakar kuat. Pengalaman ribuan jam melayani di kabin pesawat komersial memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika penerbangan, kebiasaan di dalam kokpit, hingga pentingnya prosedur keselamatan udara.

Transformasi Menjadi Perwira Tinggi dan Pilot Kerajaan

Tahun 2010 menjadi titik balik besar dalam jalan hidup Suthida. Ia memutus jalurnya di penerbangan sipil dan memilih untuk mengabdikan diri pada negara melalui Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand. Mengawali karier militernya dengan pangkat Letnan Dua, Suthida menunjukkan kedisiplinan dan loyalitas yang luar biasa.

Karier militernya meroket seiring dengan dedikasi dan pelatihan ketat yang dijalaninya. Ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Unit Operasi Khusus Komando Keamanan Kerajaan (Ratchawallop Guards), sebuah unit elit yang bertanggung jawab langsung atas keselamatan Raja dan keluarga kerajaan. Puncak karier militernya tercatat ketika ia dianugerahi pangkat Jenderal penuh di Angkatan Bersenjata Thailand.

Namun, tidak berhenti pada kepemimpinan taktis di darat, Suthida terus mengejar passion-nya di udara. Ia mengambil lisensi pilot transportasi udara (Air Transport Pilot License) dan dilatih untuk mengemudikan pesawat-pesawat komersial berkapasitas besar milik kerajaan.

Sejalan dengan komentar netizen, fakta menunjukkan bahwa beliau memang kerap bertugas sebagai kopilot pada pesawat Kerajaan Thailand, termasuk pesawat jet Boeing 737, mendampingi Raja Maha Vajiralongkorn (Rama X) yang bertindak sebagai kapten penerbang. Kolaborasi mereka di kokpit pesawat kerajaan saat perjalanan kenegaraan menjadi salah satu daya tarik keunikan monarki Thailand di mata dunia.

Sejak tahun 2010 hingga pertengahan 2026, Ratu Suthida tercatat telah mengumpulkan 1.188,48 jam terbang menggunakan berbagai jenis pesawat. Jam terbang yang masif ini menjadi fondasi kokoh yang melandasi keberhasilannya menaklukkan jet tempur JAS 39C Gripen pada Oktober 2026.

Baca Juga:  Tampil Gemilang, Vietnam Sukses Rebut Gelar Juara Piala ASEAN 2024

Tahta Kerajaan, Olahraga, dan Simbol Ketangguhan

Pada 1 Mei 2019, sebuah pengumuman resmi Kerajaan Thailand mengejutkan sekaligus membahagiakan publik. Raja Maha Vajiralongkorn menikahi Suthida Tidjai secara resmi dalam sebuah upacara kerajaan yang megah di Istana Dusit, Bangkok. Suthida kemudian dianugerahi gelar resmi Somdet Phra Nang Chao Suthida Bajrasudhabimalalakshana Phra Borrommarachini dan diangkat sebagai Permaisuri Kerajaan Thailand. Upacara penobatannya dilangsungkan berangkaian dengan penobatan Raja pada 4–6 Mei 2019.

Sebagai Ratu, Suthida membawa angin segar dalam tradisi monarki Thailand. Ia berhasil memadukan keanggunan seorang permaisuri dengan ketangguhan seorang perwira militer modern. Dalam berbagai acara kenegaraan, beliau kerap tampil memukau dengan busana tradisional Thailand yang elegan, namun di kesempatan lain, ia tak ragu mengenakan seragam tempur lengkap dengan atribut penerbang.

Kehidupan Ratu Suthida juga diwarnai dengan semangat olahraga yang tinggi. Tidak hanya aktif dalam menjaga kebugaran fisik untuk mendukung tugas militernya, beliau juga merupakan seorang atlet yang berprestasi di tingkat internasional.

Salah satu pencapaian olahraganya yang paling membanggakan terjadi pada ajang SEA Games 2025. Bertindak sebagai navigator dalam tim olahraga perahu layar (sailing) kategori SSL47, Ratu Suthida bersama timnya berhasil menyumbangkan medali emas bagi kontingen Thailand. Perannya sebagai navigator membutuhkan kecermatan membaca arah angin, arus laut, dan taktik pelayaran—keterampilan yang selaras dengan kapasitas navigasi udaranya di dunia penerbangan.

Pencapaian Ratu Suthida pada 8 Oktober 2026 saat menerbangkan jet Gripen secara solo membawa pesan mendalam yang melampaui batas-batas tembok istana. Keberhasilannya mengendalikan jet tempur canggih tersebut membuktikan bahwa dengan ketekunan, pendidikan, latihan tanpa henti, serta keberanian, batas-batas gender dapat dilompati. Ratu Suthida kini dipandang tidak hanya sebagai simbol pemersatu bangsa dan pendamping setia Raja Rama X, tetapi juga sebagai inspirasi ketangguhan, kepemimpinan, dan profesionalisme bagi kaum wanita di Thailand dan seluruh dunia.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Ratu Suthida Thailand viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

The Next Maarten Paes? Aksi Latihan Kiper Cilik Paling Unik dan Keren Se-Indonesia!

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos

Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan

Transformasi Penyaluran Bansos: Cukup Pakai KTP, Proses Verifikasi Rampung dalam Hitungan Menit

5 Tempat Makan Keluarga di Bandung yang Cocok buat Akhir Pekan, Nomor 2 Punya Suasana Asri!

Bansos

Cek Nama Anda di Sini! Informasi Lengkap Penyaluran dan Nominal Bantuan PKH Tahap Akhir

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.