Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

PMJB Resmi Berdiri, Mitra MBG Jawa Barat Soroti Perubahan Kebijakan BGN

Kamis, 16 Juli 2026 11:02 WIB

Polemik Infrastruktur Persib: Prestasi Juara yang Belum Dibarengi Fasilitas Ideal

Kamis, 16 Juli 2026 11:00 WIB

Cek Harga Emas 16 Juli 2026: Antam dan UBS Kompak Naik Rp21 Ribu

Kamis, 16 Juli 2026 10:26 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • PMJB Resmi Berdiri, Mitra MBG Jawa Barat Soroti Perubahan Kebijakan BGN
  • Polemik Infrastruktur Persib: Prestasi Juara yang Belum Dibarengi Fasilitas Ideal
  • Cek Harga Emas 16 Juli 2026: Antam dan UBS Kompak Naik Rp21 Ribu
  • Kepanasan Dicecar Pertanyaan, Bupati Gowa Husniah Pilih Walk Out Ketimbang Klarifikasi?
  • Dilema SPP Jabar vs MBG: Ketika Program Unggulan Dedi Mulyadi Berbenturan dengan Prioritas Prabowo
  • Lionel Messi Jadi Penentu, Argentina Pulangkan Inggris Lewat Laga Dramatis 2-1
  • Bansos Rp Jutaan Siap Dicairkan! Ini Cara Cek Apakah NIK KTP Kamu Terdaftar sebagai Penerima PKH BPNT
  • Gedung Pensil Bandung, Bangunan 108 Tahun yang Masih Berdiri Kokoh dan Jadi Ikon Kota Kembang
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 16 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Di Balik Megah Aspal Jabar: Menakar Paradox Kepuasan Publik dan Bayang-bayang Kemiskinan

By Aga GustianaSenin, 23 Februari 2026 09:00 WIB5 Mins Read
Ilustrasi paradox Jabar. (Foto: Hasil ChatGPT)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Jawa Barat hari ini adalah sebuah panggung kontradiksi yang megah. Di satu sisi, keriuhan tepuk tangan publik membahana untuk Sang Gubernur, Dedi Mulyadi (KDM). Namun di sisi lain, di sudut-sudut sempit pemukiman urban dan pematang sawah yang kian tergerus, bayang-bayang kemiskinan dan pengangguran masih menjadi hantu yang nyata.

Hasil survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia periode 30 Januari hingga 8 Februari 2026 menempatkan KDM di puncak legitimasi publik dengan angka kepuasan mencapai 95,5 persen. Sebuah angka yang nyaris absolut, namun sekaligus menyimpan tanya besar: Apakah kepuasan ini adalah cermin kesejahteraan yang merata, atau sekadar euforia atas pembangunan fisik yang tampak di mata?

Antara Aspal Mulus dan Realitas Sosial

Survei tersebut mengungkap bahwa magnet utama kepuasan masyarakat terletak pada sektor-sektor fundamental yang kasat mata: penyediaan listrik, akses pendidikan, layanan kesehatan, dan yang paling menonjol adalah kualitas infrastruktur.

“Approval rating KDM sebagai Gubernur Jawa Barat itu masih tinggi ya. Saya sebut sangat tinggi karena mencapai 95,5 persen,” ucap Founder Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia, Prof. Burhanudin Muhtadi, saat merilis hasil survei di Bandung, Senin (16/2/2026).

Namun, Burhanudin memberikan catatan tebal. Meski figur KDM dipuja, mesin birokrasi di bawahnya tidak berlari secepat sang pemimpin. Rata-rata kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) secara keseluruhan hanya berada di angka 71 persen. Bahkan, pada sektor ekonomi, angkanya merosot tajam. Sektor akses peningkatan modal berada di bawah 50 persen, pengentasan kemiskinan hanya 51 persen, dan peningkatan kualitas tenaga kerja di angka 58 persen.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Dorong Beasiswa SMK Industri, Targetkan Lahir Kelas Menengah Baru di Jabar

Ini mengonfirmasi data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat per November 2025. Di balik megahnya jembatan dan mulusnya aspal, masih ada 1,77 juta orang yang menganggur. Lebih getir lagi, angka kemiskinan masih bertengger di angka 3,55 juta orang (6,78 persen). Meskipun trennya menurun, dominasi warga miskin di wilayah perkotaan (2,83 juta orang) menunjukkan bahwa industrialisasi di Jawa Barat belum sepenuhnya menjadi “obat mujarab” bagi kesejahteraan penduduknya.

Obsesi Infrastruktur: Solusi atau Sekadar Etalase?

Sepanjang tahun 2025, KDM memang tancap gas di sektor fisik. Sebanyak 361 paket pekerjaan infrastruktur bernilai Rp2,287 triliun telah digelontorkan. Fokusnya jelas: jalan dan jembatan. Untuk tahun 2026, ambisinya lebih besar lagi dengan alokasi Rp4,8 triliun demi mengejar target kemantapan jalan hingga 95 persen.

KDM berdalih, percepatan ini adalah kunci urat nadi ekonomi. “Betul begitu (lelang dini). Agar pembangunannya berkualitas, bermanfaat bagi kepentingan masyarakat Jawa Barat,” ujarnya pada Selasa (17/2/2026).

Namun, pembangunan fisik yang masif ini dikritik karena dianggap belum selaras dengan kapasitas birokrasi dan pemenuhan kebutuhan ekonomi mikro. Firman Manan, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran (Unpad), melihat adanya kesenjangan komunikasi yang lebar antara visi gubernur dengan eksekusi di lapangan.

Baca Juga:  Jawa Barat Sukses Gelar Piala Presiden 2025, Dedi Mulyadi: Ini Kehormatan Besar

“Apa yang jadi ide KDM belum sepenuhnya dipahami Pemprov Jabar,” ujar Firman secara kritis. Ia menilai popularitas personal KDM tidak otomatis mendongkrak kinerja institusi Pemprov secara keseluruhan, yang berakibat pada lambannya penanganan masalah-masalah struktural seperti ketimpangan pendapatan.

Kritik Akademisi: Kualitas Hidup vs Persepsi Publik

Mengapa masyarakat tetap puas meski kemiskinan masih menghimpit? Putri Diesy Fitriani, SE.Sy., ME, Dosen Ekonomi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, memberikan analisis tajam. Menurutnya, publik seringkali terjebak pada persepsi atas gaya kepemimpinan dan program jangka pendek yang bersifat visual.

“Angka kepuasan 95,5% merupakan capaian yang sangat tinggi dan menunjukkan adanya legitimasi publik. Namun, dalam analisis kebijakan publik, kita perlu membedakan antara persepsi kepuasan dan kinerja objektif berbasis indikator makro dan mikro ekonomi,” ungkap Putri kepada bukamata.id, Minggu (22/2/2026).

Putri menekankan bahwa persoalan kemiskinan adalah masalah multidimensi yang tidak bisa selesai hanya dengan membangun jalan. Ia menyoroti beberapa poin krusial yang harus segera dibenahi oleh Pemprov Jawa Barat:

Penciptaan Lapangan Kerja: Pertumbuhan ekonomi harus benar-benar menyerap tenaga kerja, terutama lulusan muda dan pekerja informal, bukan sekadar angka di atas kertas.

Penguatan UMKM: Bantuan tidak boleh hanya bersifat karitatif atau bantuan sosial sekali putus, melainkan harus berupa pemberdayaan melalui akses modal, pelatihan, dan pendampingan usaha yang berkelanjutan.

Baca Juga:  Sani Aqila, 'Ibu Kelinci' Dedi Mulyadi Resmi Menikah

Akurasi Data: Data kemiskinan harus terus diperbarui agar intervensi pemerintah benar-benar menjangkau mereka yang paling membutuhkan (tepat sasaran).

Menagih Janji Kesejahteraan di Sisa Jabatan

Ke depan, tantangan KDM bukan lagi sekadar memoles citra atau membangun gedung sekolah baru—meskipun rencana pembangunan 24 Unit Sekolah Baru (USB) senilai Rp112,5 miliar tahun ini patut diapresiasi sebagai upaya menambah daya tampung 5.000 siswa. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati segelintir orang.

Indikator Gini Ratio Jawa Barat yang tercatat di angka 0,397 poin memang menunjukkan penurunan tipis, namun akses terhadap modal yang masih rendah menjadi bom waktu bagi ketimpangan sosial. “Kebijakan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pemerataan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” pungkas Putri Diesy Fitriani.

Angka 95,5 persen adalah modal politik yang sangat besar bagi Dedi Mulyadi. Namun, jika angka kemiskinan dan pengangguran tidak segera ditekan dengan kebijakan yang lebih membumi, legitimasi tersebut bisa saja luruh seiring waktu. Jawa Barat tidak boleh hanya menjadi daerah dengan jalanan mulus yang dilewati oleh kendaraan logistik industri, sementara di pinggirannya, warga hanya menjadi penonton pertumbuhan tanpa bisa mencicipi hasilnya. Rakyat tidak hanya butuh jalan untuk dilewati, tapi juga butuh “jalan” untuk keluar dari jerat kemiskinan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

5 persen Dedi Mulyadi HL infrastruktur Jabar jawa barat kemiskinan Jabar kepuasan publik 95 pengangguran Jawa Barat survei Indikator Politik
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

PMJB Resmi Berdiri, Mitra MBG Jawa Barat Soroti Perubahan Kebijakan BGN

Kepanasan Dicecar Pertanyaan, Bupati Gowa Husniah Pilih Walk Out Ketimbang Klarifikasi?

Dilema SPP Jabar vs MBG: Ketika Program Unggulan Dedi Mulyadi Berbenturan dengan Prioritas Prabowo

Bansos

Bansos Rp Jutaan Siap Dicairkan! Ini Cara Cek Apakah NIK KTP Kamu Terdaftar sebagai Penerima PKH BPNT

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Bansos PKH dan BPNT Cair 20 Juli 2026, Siap-siap! Ada Penerima Baru dan KPM yang Dicoret

Info Orang Hilang: Mahasiswi Unisba Belum Kembali ke Rumah, Hubungi Nomor Ini Jika Melihatnya

Terpopuler
  • Polemik Aksi Kamisan, Kehadiran Kelompok LGBT dalam Gerakan HAM Jadi Sorotan
  • Jejak Kontroversi ‘Ratu Sound Horeg’ Mala Agatha & Icha Chellow: Dari Panggung Lokal hingga Diancam Anisa Bahar
  • Muhammad Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit, Ini Kondisi Terbarunya
  • Bongkar Defisit APBD Jabar Rp5,7 Triliun: Salah Hitung, Salah Kelola, atau Ada Faktor Lain?
  • Gempar Penemuan Jasad di Lantai 12 Parkiran Mal Kings Bandung, Polisi Temukan Surat Wasiat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.