bukamata.id – Pemerintah Kota Bandung memperkuat upaya pencegahan bullying dan menjaga kesehatan mental siswa seiring dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027. Berbagai langkah disiapkan, mulai dari pelatihan guru bimbingan konseling (BK), penguatan pendidikan karakter, hingga kajian penambahan jam pelajaran olahraga di sekolah.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan pencegahan perundungan menjadi salah satu perhatian utama Pemkot Bandung agar budaya kekerasan tidak berkembang di lingkungan sekolah.
“Untuk pengawasan bullying, tahun lalu kita sudah mulai melakukan pelatihan kepada para guru BP oleh para psikolog. Nanti kita evaluasi apakah efektif, karena kita ingin mencegah berkembangnya budaya kekerasan atau bully sejak awal,” ujar Farhan saat ditemui di SDN 047 Balonggede, Senin (13/7/2026).
Selain itu, Pemkot Bandung kembali menjalankan program pendidikan penguatan karakter bagi siswa kelas IX dengan pendekatan bela negara yang melibatkan instruktur dari TNI dan Polri setiap hari Jumat.
Menurut Farhan, program tersebut telah dimulai sejak 2025 sebagai upaya membentuk karakter remaja yang sedang berada pada fase pencarian jati diri.
“Anak-anak remaja ini lagi rentan-rentannya. Mereka mencari identitas, mencari kelompok tertentu. Kita pastikan mereka tidak tersesat,” katanya.
Ia menambahkan, pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga dipadukan dengan pendekatan psikologi modern. Karena itu, Pemkot Bandung akan mengevaluasi efektivitas pelatihan guru BK sekaligus mengkaji peran psikolog klinis yang saat ini tersedia di 12 puskesmas.
“Agama sudah pasti masuk karena itu bagian dari program kita. Tapi yang pasti sekarang pendidikan karakter juga harus dikombinasikan dengan psikologi modern,” ucapnya.
Di sisi lain, Farhan mengungkapkan pemerintah juga tengah mengkaji penambahan frekuensi pelajaran olahraga menjadi tiga kali dalam sepekan melalui kolaborasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta Dinas Pemuda dan Olahraga.
Menurutnya, kebijakan tersebut didorong oleh hasil pemeriksaan kesehatan gratis yang menunjukkan masih tingginya kerentanan anak terhadap masalah kesehatan mental, seperti stres dan depresi, serta meningkatnya risiko penyakit akibat pola hidup kurang aktif.
“Anak-anak perlu bergerak minimal 30 sampai 60 menit setiap hari. Kita mulai mengadopsi konsep seperti FIFA Active karena hasil cek kesehatan gratis menunjukkan anak-anak kita rentan terhadap kesehatan mental dan juga peningkatan konsumsi gula, lemak, serta karbohidrat yang bisa mengakibatkan diabetes jangka panjang,” jelasnya.
Farhan berharap berbagai program tersebut mampu menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik, baik dari sisi karakter, kesehatan fisik, maupun kesehatan mental.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










