bukamata.id – Babak baru rekonsiliasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mulai menemui titik terang. Di balik draf perjanjian damai kedua negara yang tengah digodok, terselip sebuah komitmen investasi fantastis dari sektor swasta global dengan nilai mencapai US$ 300 miliar, atau setara lebih dari Rp 5.000 triliun, yang diproyeksikan untuk membangkitkan kembali perekonomian Teheran.
Rencana besar yang masih tersimpan rapat ini sedianya baru akan diresmikan dalam penandatanganan memorandum di Swiss pada Jumat (19/6) besok. Melansir laporan eksklusif dari Reuters dan Al Arabiya, seorang informator internal yang mengetahui detail negosiasi membeberkan bahwa separuh dari total dana raksasa tersebut sebenarnya sudah mulai mengalir secara bertahap.
Sebelumnya, kedua belah pihak pada Minggu (14/6) lalu memang telah mengumumkan tercapainya kesepakatan kerangka kerja dasar untuk menyudahi konflik bersenjata yang sempat meletus sejak akhir Februari silam.
Namun, berbeda dengan skema bantuan internasional pascaperang pada umumnya, sumber tepercaya menegaskan bahwa suntikan dana murni berasal dari korporasi non-pemerintah. Dana ini murni instrumen bisnis berbasis investasi komersial, bukan dana hibah kemanusiaan ataupun biaya ganti rugi perang dari kas negara AS.
Sejumlah raksasa korporasi yang berbasis di Amerika Serikat, negara-negara Teluk, Asia, Amerika Selatan, hingga benua Afrika dilaporkan telah sepakat mengunci komitmen mereka. Aliran modal ini nantinya akan diprioritaskan untuk memulihkan sektor-sektor vital seperti logistik, industri manufaktur, energi, dan jaringan transportasi.
Lahirnya “Dana Rekonstruksi dan Pembangunan”
Di balik layar diplomasi, proses negosiasi ini sempat berjalan alot. Seorang pejabat tinggi dari pemerintahan Iran mengungkapkan bahwa pada awalnya pihak Teheran sempat menuntut biaya ganti rugi kerusakan akibat perang sebesar US$ 400 miliar langsung kepada pihak Washington. Kendati demikian, AS menolak mentah-mentah tuntutan kompensasi tersebut.
Sebagai jalan tengah untuk memecah kebuntuan diplomasi, kedua negara akhirnya sepakat menginisiasi sebuah wadah pendanaan mandiri yang akan dinamai “Dana Rekonstruksi dan Pembangunan”.
Melalui wadah tersebut, korporasi swasta dapat berpartisipasi lewat berbagai instrumen keuangan. Mulai dari penyediaan fasilitas pinjaman, pembukaan jalur kredit baru, hingga pembiayaan langsung untuk memulihkan objek-objek vital yang terdampak konflik, seperti kilang minyak, kompleks industri Baja Mobarakeh, pelabuhan udara, hingga restrukturisasi infrastruktur publik lainnya.
Menariknya, pembentukan pos dana investasi komersial ini berjalan sepenuhnya terpisah dari meja perundingan paralel yang membahas mengenai pencabutan sanksi ekonomi AS serta polemik pencairan aset-aset keuangan Iran yang saat ini masih dibekukan di luar negeri.
Skema ini juga baru akan resmi diaktifkan setelah adanya kesepakatan final dari kedua belah pihak. Setelah nota kesepahaman (MoU) diteken di Swiss, akan ada masa transisi selama dua bulan untuk mematangkan konsep operasionalnya di lapangan.
“Dana itu hanya akan dibentuk setelah kesepakatan akhir ditandatangani. Selama 60 hari ini, administrator pendanaan akan bekerja sama dengan warga Iran dan para investor untuk merencanakan dan menentukan ruang lingkup proyek,” papar sumber tersebut memungkasi penjelasannya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










