Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Netizen Dukung TNI, Pro-Kontra Penertiban Rumah Dinas yang Ditempati Anak Cucu

Sabtu, 2 Mei 2026 13:03 WIB

Nihil Korban Jiwa, Proyek PLTA Upper Cisokan Diterjang Longsor Saat Pekerja Libur

Sabtu, 2 Mei 2026 11:25 WIB

Menuju Akreditasi Unggul, Prodi KPI UIN Bandung Tuntaskan Asesmen Lapangan LAMSPAK

Sabtu, 2 Mei 2026 10:22 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Netizen Dukung TNI, Pro-Kontra Penertiban Rumah Dinas yang Ditempati Anak Cucu
  • Nihil Korban Jiwa, Proyek PLTA Upper Cisokan Diterjang Longsor Saat Pekerja Libur
  • Menuju Akreditasi Unggul, Prodi KPI UIN Bandung Tuntaskan Asesmen Lapangan LAMSPAK
  • Surganya ‘Hidden Gem’! 8 Wisata Curug Hits di Bandung Raya untuk Healing Akhir Pekan
  • Borong Item Sultan! Kode Redeem FF Terbaru Sabtu 2 Mei 2026, Ada Skin M1887 & Diamond Gratis
  • Di Balik Layar Kemenangan Persib: Kemarahan Bojan Hodak Ubah Lesu Jadi Ledakan Gol di Markas Bhayangkara
  • MERINDING! Setelah Ramalan ‘Ular Besi’ Terbukti, Tirta Siregar Kini Beri Sinyal untuk Jawa Barat
  • Rumor Transfer Persib: 4 Winger Ganas dan 1 Kiper Tangguh Ini Jadi Buruan Utama Bobotoh, Siapa Saja?
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 2 Mei 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kebijakan Dedi Mulyadi Menuai Gelombang Perlawanan

By Aga GustianaKamis, 24 Juli 2025 11:29 WIB4 Mins Read
Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Rafki R/bukamata.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Serangkaian kebijakan pendidikan yang diterapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah menjadi sorotan tajam. Aturan-aturan tersebut, mulai dari larangan study tour hingga jam masuk sekolah lebih pagi, memicu reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Dampak kebijakan ini dirasakan luas, bahkan hingga sektor pariwisata dan kehidupan sosial siswa.

Larangan Study Tour Memantik Aksi Massa

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerbitkan Surat Edaran Nomor 64 Tahun 2024 yang melarang kegiatan study tour di sekolah. Menurut Dedi Mulyadi, keputusan itu dimaksudkan untuk melindungi orang tua dari beban biaya yang berlebihan.

Namun, larangan tersebut justru memantik kemarahan para pelaku industri pariwisata. Ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat menggelar demonstrasi di depan Gedung Sate, Bandung, Senin (21/7), menuntut kebijakan itu dicabut.

Koordinator aksi, Herdi Sudardja, mengungkapkan bahwa larangan study tour membuat pendapatan perusahaan bus wisata anjlok tajam.

“Dari Rp80 juta per bulan (turun) menjadi sekitar Rp30 juta atau sekitar 60 persen. Dengan angka itu, pengusaha tidak bisa membayar cicilan ke pihak leasing atau bank,” ujar Herdi.

Ia juga menyebutkan bahwa dampaknya tak hanya dirasakan pengusaha bus, melainkan juga UMKM dan pekerja yang menggantungkan hidup dari sektor wisata pelajar.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Buka Suara soal Penembakan Gas Air Mata di Unisba-Unpas, Ada Dua Versi Berbeda

“Pelarangan ini dikeluarkan tanpa solusi bagi pengusaha maupun pekerjanya,” tambahnya.

Aksi tersebut berlangsung tertib meski massa sempat menutup akses flyover Pasupati dengan puluhan armada bus sebagai bentuk protes.

Sikap Berbeda dari Wali Kota Bandung

Di tengah kontroversi, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan sikap yang lebih fleksibel.

“Selama study tour tidak memengaruhi nilai akademik siswa, ya silakan saja. Tidak ada masalah,” katanya.

Farhan menilai kegiatan semacam itu bisa menjadi sarana belajar nonformal yang efektif jika dirancang dengan baik dan mendapat pengawasan sekolah.

Kebijakan Masuk Sekolah Pukul 06.30 Ditolak di Bekasi

Tak hanya larangan study tour, kebijakan lain yang mengundang perdebatan adalah pengaturan jam masuk sekolah yang dimajukan menjadi pukul 06.30 WIB. Aturan ini tertuang dalam SE Nomor 58/PK.03/DISDIK yang berlaku mulai tahun ajaran baru Juli 2025.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Siap Bertarung Lawan Ridwan Kamil di Pilgub Jabar: Gak Bisa Nawar

Namun, Pemerintah Kota Bekasi memilih tak mengikuti kebijakan tersebut. Wali Kota Tri Adhianto mengaku menerima banyak keluhan dari orang tua siswa.

“Masuk jam 06.30 menimbulkan kemacetan karena bersamaan dengan jam berangkat kerja. Anak-anak juga jadi terburu-buru dan belum siap belajar,” ungkap Tri, Senin (21/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa beberapa sekolah di jalur utama seperti SMPN 1, 2, dan 3 mengalami kemacetan parah saat jam masuk dimajukan.

“Bukan soal anak bisa bangun pagi atau tidak. Tapi kita harus realistis. Orang tua juga perlu waktu mempersiapkan anak-anak. Kami ingin siswa datang dalam kondisi siap secara fisik dan mental,” tegasnya.

Polemik Jam Malam untuk Pelajar

Kebijakan lain yang tak kalah kontroversial adalah penerapan jam malam bagi pelajar. Dalam SE Nomor 51/PA.03/Disdik tertanggal 23 Mei 2025, siswa dilarang berkegiatan di luar rumah pada pukul 21.00–04.00 WIB, kecuali dalam keadaan tertentu.

Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Jawa Barat menyuarakan keberatannya. Ketua Fortusis Jabar, Dwi Subianto, menilai kebijakan ini kurang mempertimbangkan dinamika pendidikan dan peran keluarga.

Baca Juga:  Koalisi Pilpres Diprediksi Lanjut ke Pilkada, Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi Bisa Bersatu

“Anak sudah sekolah dari pagi sampai sore, malam tidak boleh keluar, nilai edukasinya di mana?” ujarnya, Selasa (27/5/2025).

Ia juga menyoroti bahwa tidak semua pelajar yang beraktivitas di malam hari melakukan hal negatif.

“Ada anak yang justru mendapat inspirasi saat malam hari. Misalnya, diskusi atau mengerjakan proyek bersama teman,” katanya.

Dwi menekankan pentingnya pemerintah untuk lebih dulu menyediakan fasilitas publik seperti ruang kreatif atau olahraga sebelum memberlakukan pembatasan.

“Kewajiban pemerintah dulu yang dipenuhi. Jangan karena punya wewenang, lalu seenaknya mengatur tanpa solusi,” ujarnya.

Penutup

Berbagai kebijakan baru yang diterapkan di Jawa Barat menuai reaksi beragam dari masyarakat. Sementara pemerintah provinsi berdalih ingin menciptakan disiplin dan efisiensi, banyak pihak menilai pendekatan tersebut minim dialog dan solusi nyata. Seiring dengan meluasnya kritik dan protes, publik kini menunggu apakah pemerintah akan mengevaluasi kebijakan-kebijakan tersebut demi kepentingan bersama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat Larangan Study Tour pendidikan Jawa Barat protes warga
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Netizen Dukung TNI, Pro-Kontra Penertiban Rumah Dinas yang Ditempati Anak Cucu

Nihil Korban Jiwa, Proyek PLTA Upper Cisokan Diterjang Longsor Saat Pekerja Libur

Menuju Akreditasi Unggul, Prodi KPI UIN Bandung Tuntaskan Asesmen Lapangan LAMSPAK

Bansos PKH dan BPNT 2026 Belum Cair, Ini Fakta Terbaru dan Jadwalnya

Jumat Malam yang Mencekam di Tamansari Bandung: Massa Serba Hitam Kocar-kacir Diterjang Aparat

UMKM Pangan Sulit Tembus Ekspor? Ledia Hanifa Ungkap Rahasia di Balik Kemasan Produk

Terpopuler
  • Link Video Viral Vell Blunder Durasi Panjang, Waspada Modus Phising!
  • Link Video Bandar Batang Viral! Waspada Phising
  • Link Asli Video Bandar Membara Full Durasi, Ini Fakta Sebenarnya!
  • Viral ‘Video Bandar Membara’ di Media Sosial, Warganet Cari Link Asli No Sensor
  • Gebrakan Mewah di Bursa Transfer: Persib Bandung Incar Bintang-bintang Eks Eropa
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.