Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Arsenal vs Man City Malam Ini: Duel Panas, Siapa Bawa Pulang Trofi Community Shield 2026?

Minggu, 16 Agustus 2026 10:02 WIB

DI LUAR NALAR! Limbah Daun Nanas dari Bogor Disulap Jadi Karya Mewah, Laras Bikin Australia Bertekuk Lutut

Minggu, 16 Agustus 2026 09:27 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 Agustus 2026: 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta

Minggu, 16 Agustus 2026 08:05 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Arsenal vs Man City Malam Ini: Duel Panas, Siapa Bawa Pulang Trofi Community Shield 2026?
  • DI LUAR NALAR! Limbah Daun Nanas dari Bogor Disulap Jadi Karya Mewah, Laras Bikin Australia Bertekuk Lutut
  • Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 16 Agustus 2026: 1 Gram Tembus Rp2,78 Juta
  • Menang Telak 3-0! Persib Tampil Menggila Lawan Sabah FC di Dewata Challenge Series
  • Daftar Kode Redeem Free Fire 16 Agustus 2026: Dapatkan Skin Senjata & Bundle Gratis Hari Ini
  • Kesempatan Klaim Hadiah Digital! Simak Cara Dapatkan Saldo DANA Gratis Hari Ini 16 Agustus 2026
  • Spesial Akhir Pekan! Buruan Klaim Kode Redeem FF 16 Agustus 2026 Sebelum Kuota Keburu Kehabisan
  • Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 16 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kebijakan Dedi Mulyadi Menuai Gelombang Perlawanan

By Aga GustianaKamis, 24 Juli 2025 11:29 WIB4 Mins Read
Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Foto: Rafki R/bukamata.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Serangkaian kebijakan pendidikan yang diterapkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tengah menjadi sorotan tajam. Aturan-aturan tersebut, mulai dari larangan study tour hingga jam masuk sekolah lebih pagi, memicu reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Dampak kebijakan ini dirasakan luas, bahkan hingga sektor pariwisata dan kehidupan sosial siswa.

Larangan Study Tour Memantik Aksi Massa

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerbitkan Surat Edaran Nomor 64 Tahun 2024 yang melarang kegiatan study tour di sekolah. Menurut Dedi Mulyadi, keputusan itu dimaksudkan untuk melindungi orang tua dari beban biaya yang berlebihan.

Namun, larangan tersebut justru memantik kemarahan para pelaku industri pariwisata. Ratusan massa yang tergabung dalam Solidaritas Pekerja Pariwisata Jawa Barat menggelar demonstrasi di depan Gedung Sate, Bandung, Senin (21/7), menuntut kebijakan itu dicabut.

Koordinator aksi, Herdi Sudardja, mengungkapkan bahwa larangan study tour membuat pendapatan perusahaan bus wisata anjlok tajam.

“Dari Rp80 juta per bulan (turun) menjadi sekitar Rp30 juta atau sekitar 60 persen. Dengan angka itu, pengusaha tidak bisa membayar cicilan ke pihak leasing atau bank,” ujar Herdi.

Ia juga menyebutkan bahwa dampaknya tak hanya dirasakan pengusaha bus, melainkan juga UMKM dan pekerja yang menggantungkan hidup dari sektor wisata pelajar.

“Pelarangan ini dikeluarkan tanpa solusi bagi pengusaha maupun pekerjanya,” tambahnya.

Aksi tersebut berlangsung tertib meski massa sempat menutup akses flyover Pasupati dengan puluhan armada bus sebagai bentuk protes.

Sikap Berbeda dari Wali Kota Bandung

Di tengah kontroversi, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan sikap yang lebih fleksibel.

“Selama study tour tidak memengaruhi nilai akademik siswa, ya silakan saja. Tidak ada masalah,” katanya.

Farhan menilai kegiatan semacam itu bisa menjadi sarana belajar nonformal yang efektif jika dirancang dengan baik dan mendapat pengawasan sekolah.

Kebijakan Masuk Sekolah Pukul 06.30 Ditolak di Bekasi

Tak hanya larangan study tour, kebijakan lain yang mengundang perdebatan adalah pengaturan jam masuk sekolah yang dimajukan menjadi pukul 06.30 WIB. Aturan ini tertuang dalam SE Nomor 58/PK.03/DISDIK yang berlaku mulai tahun ajaran baru Juli 2025.

Namun, Pemerintah Kota Bekasi memilih tak mengikuti kebijakan tersebut. Wali Kota Tri Adhianto mengaku menerima banyak keluhan dari orang tua siswa.

“Masuk jam 06.30 menimbulkan kemacetan karena bersamaan dengan jam berangkat kerja. Anak-anak juga jadi terburu-buru dan belum siap belajar,” ungkap Tri, Senin (21/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa beberapa sekolah di jalur utama seperti SMPN 1, 2, dan 3 mengalami kemacetan parah saat jam masuk dimajukan.

“Bukan soal anak bisa bangun pagi atau tidak. Tapi kita harus realistis. Orang tua juga perlu waktu mempersiapkan anak-anak. Kami ingin siswa datang dalam kondisi siap secara fisik dan mental,” tegasnya.

Polemik Jam Malam untuk Pelajar

Kebijakan lain yang tak kalah kontroversial adalah penerapan jam malam bagi pelajar. Dalam SE Nomor 51/PA.03/Disdik tertanggal 23 Mei 2025, siswa dilarang berkegiatan di luar rumah pada pukul 21.00–04.00 WIB, kecuali dalam keadaan tertentu.

Forum Orang Tua Siswa (Fortusis) Jawa Barat menyuarakan keberatannya. Ketua Fortusis Jabar, Dwi Subianto, menilai kebijakan ini kurang mempertimbangkan dinamika pendidikan dan peran keluarga.

“Anak sudah sekolah dari pagi sampai sore, malam tidak boleh keluar, nilai edukasinya di mana?” ujarnya, Selasa (27/5/2025).

Ia juga menyoroti bahwa tidak semua pelajar yang beraktivitas di malam hari melakukan hal negatif.

“Ada anak yang justru mendapat inspirasi saat malam hari. Misalnya, diskusi atau mengerjakan proyek bersama teman,” katanya.

Dwi menekankan pentingnya pemerintah untuk lebih dulu menyediakan fasilitas publik seperti ruang kreatif atau olahraga sebelum memberlakukan pembatasan.

“Kewajiban pemerintah dulu yang dipenuhi. Jangan karena punya wewenang, lalu seenaknya mengatur tanpa solusi,” ujarnya.

Penutup

Berbagai kebijakan baru yang diterapkan di Jawa Barat menuai reaksi beragam dari masyarakat. Sementara pemerintah provinsi berdalih ingin menciptakan disiplin dan efisiensi, banyak pihak menilai pendekatan tersebut minim dialog dan solusi nyata. Seiring dengan meluasnya kritik dan protes, publik kini menunggu apakah pemerintah akan mengevaluasi kebijakan-kebijakan tersebut demi kepentingan bersama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi Gubernur Jawa Barat Larangan Study Tour pendidikan Jawa Barat protes warga
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

DI LUAR NALAR! Limbah Daun Nanas dari Bogor Disulap Jadi Karya Mewah, Laras Bikin Australia Bertekuk Lutut

Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana

Merinding! Ramalan Tirta Siregar Terbukti Lagi? di Balik Gempa Dahsyat NTT hingga Potensi Tsunami

gempa

Update Gempa M 7,7 NTT: 14 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia, BMKG Ingatkan Gempa Susulan

Terkuat di Balik Mediasi Kasus Penjahit Bali? Alasan Arya Wedakarna Mati-matian Gertak Hilda Pakai UU ITE!

Tembus 1 Juta Jam Kerja Tanpa Kecelakaan, Proyek PLTP Patuha Unit 2 Cetak Rekor Penting!

Terpopuler
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
  • Kehabisan Akal Promosi? Brand Miras Buat Challenge Ayat Al-Qur’an Berhadiah Alkohol!
  • BPRS HIK Parahyangan Akui Hadapi Penyesuaian Likuiditas, Dana Deposito Tetap Jadi Kewajiban
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.