Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana

Sabtu, 15 Agustus 2026 19:53 WIB

Mindshift 4: PKM-PM IPB University Bekali Perempuan Pekerja Migran Purna dengan Budidaya Terpadu Menuju Kemandirian Ekonomi

Sabtu, 15 Agustus 2026 19:45 WIB

Merinding! Ramalan Tirta Siregar Terbukti Lagi? di Balik Gempa Dahsyat NTT hingga Potensi Tsunami

Sabtu, 15 Agustus 2026 18:55 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana
  • Mindshift 4: PKM-PM IPB University Bekali Perempuan Pekerja Migran Purna dengan Budidaya Terpadu Menuju Kemandirian Ekonomi
  • Merinding! Ramalan Tirta Siregar Terbukti Lagi? di Balik Gempa Dahsyat NTT hingga Potensi Tsunami
  • Wujud Cinta Tanah Air, Ini Bacaan Doa 17 Agustus Lengkap dengan Teks Arab, Latin, dan Artinya
  • Update Gempa M 7,7 NTT: 14 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia, BMKG Ingatkan Gempa Susulan
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • Kabar Duka dari Penggawa Persib Saddil Ramdani, Rumah Sang Ayah Ludes Terbakar
  • Terkuat di Balik Mediasi Kasus Penjahit Bali? Alasan Arya Wedakarna Mati-matian Gertak Hilda Pakai UU ITE!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 15 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Merinding! Ramalan Tirta Siregar Terbukti Lagi? di Balik Gempa Dahsyat NTT hingga Potensi Tsunami

By Aga GustianaSabtu, 15 Agustus 2026 18:55 WIB8 Mins Read
Gempa dahsyat guncang NTT. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Guncangan dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang menghantam Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/08) meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Gempa bumi yang berpusat di 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer tersebut menelan puluhan korban jiwa dan merusak berbagai fasilitas umum serta permukiman warga. Di tengah kepanikan warga dan penanganan darurat yang tengah berlangsung, sebuah rekaman video yang diunggah oleh pemilik akun Instagram @tirtasiregar mendadak menyedot perhatian publik. Dalam video tersebut, Tirta Siregar menyampaikan klaim mengenai penglihatan supranatural terkait rencana terjadinya gempa besar, yang kemudian memicu perdebatan hangat di ruang publik: apakah ramalan tersebut sebuah kenyataan spiritual yang terbukti atau sekadar kebetulan matematis di wilayah yang secara geologis memang aktif?

Gempa NTT 7,7 SR: Guncangan Pagi Hari yang Melumpuhkan

Gempa bumi tektonik yang terjadi sekitar pukul 05:58 WITA tersebut menggetarkan wilayah Nusa Tenggara Timur hingga sebagian wilayah Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan data resmi sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 15.00 WIB di hari kejadian, tercatat sebanyak 38 orang meninggal dunia, 2 orang mengalami luka berat, 11 orang luka ringan, serta sekitar 2.000 warga mengungsi secara mandiri.

“Korban jiwa sampai dengan pukul 15:00 WIB, terdata ada 38 jiwa meninggal dunia. Dua jiwa luka berat, 11 luka ringan, dan kurang lebih ada 2.000 jiwa yang mengungsi secara mandiri,” ungkap Kepala BNPB, Letnan Jenderal TNI Suharyanto.

Rincian persebaran korban jiwa terdampak bencana ini tersebar di beberapa kawasan:

  • Kabupaten Manggarai: 16 jiwa meninggal dunia (enam korban baru teridentifikasi).
  • Kabupaten Manggarai Timur: 17 jiwa meninggal dunia.
  • Kabupaten Sikka: Tiga jiwa meninggal dunia dan dua orang luka ringan.
  • Kabupaten Ende: Satu jiwa meninggal dunia.
  • Kabupaten Manggarai Barat: Satu jiwa meninggal dunia.

Selain menelan korban jiwa, dampak kerusakan fisik yang tercatat oleh BNPB mencakup 54 unit rumah rusak berat, 9 unit rumah rusak sedang, dan 11 unit rumah rusak ringan. Kerusakan juga menimpa 5 fasilitas kesehatan, 1 fasilitas pendidikan, 3 fasilitas ibadah, 6 kantor pemerintahan, 1 gudang Bulog, serta gedung terminal di lima bandara dan dua pelabuhan (Pelabuhan Reo di Manggarai dan Maumere).

Guncangan ini membuat warga berhamburan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri. Jurnalis di Sikka, Arnold Welianto, menceritakan detik-detik saat gempa mengguncang rumahnya yang berada di kawasan pesisir. Ia bergegas menarik anaknya ke luar rumah di tengah rentetan gempa susulan. Fenomena kepanikan serupa terjadi di Kota Komba, Manggarai Timur, di mana warga berbondong-bondong berlari menuju perbukitan karena khawatir akan potensi gempa susulan dan kenaikan air laut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat merilis peringatan dini tsunami usai gempa utama. Stasiun pemantau BMKG mendeteksi adanya kenaikan muka air laut di beberapa titik pesisir, seperti ketinggian 0,14 meter di Bakalang (Alor), 0,17 meter di Dompu (NTB), hingga mencapai hampir satu meter di Maurole (Ende) pada pukul 05:27 WIB. Meski peringatan dini tsunami telah resmi diakhiri oleh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi gempa susulan.

Klaim Video Tirta Siregar: “Pesan dari Laut Selatan” dan Ular Besi

Di tengah suasana duka pascabencana, unggahan video Tirta Siregar di akun Instagram @tirtasiregar menyebarkan narasi mengenai penglihatan gaib. Dalam rekamannya, Tirta menceritakan pengalamannya ketika berada di tepi pantai Laut Selatan. Ia menyebutkan bahwa pada tanggal 8 Agustus 2026 sekitar pukul 01.00 dini hari, ia menerima “pesan” terkait akan terjadinya gempa bumi berskala besar.

Tirta menegaskan dalam videonya bahwa apa yang ia sampaikan bukanlah hasil rekaan atau ramalan dukun semata. “Saya bukan dukun, saya bukan peramal. Saya tidak pernah meramal, tapi itu tergambar begitu saja di depan saya seperti monitor dan ada yang berbisik di telinga saya yang gaib,” tuturnya dalam video tersebut. Ia mengklaim melihat visual kejadian bencana secara jelas layaknya menyaksikan layar monitor dengan mata terbuka.

Dalam pernyataannya, Tirta juga menuturkan rutin mendatangi Laut Selatan saat menjalankan ritual doa khusus, baik untuk keperluan pribadi maupun saat menyambungkan doa dari orang lain. Ia mengklaim memohon bantuan dan izin kepada “Ibu Ratu dari Selatan” atas izin Tuhan. Menurutnya, fenomena gempa bumi magnitudo 7,7 yang terjadi di NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026—persis satu minggu setelah pengakuannya mendapat pesan di tepi pantai pada 8 Agustus—merupakan bukti atas apa yang ia lihat sebelumnya.

Nama Tirta Siregar sendiri sebelumnya sudah ramai menjadi perbincangan publik terkait klaim penerawangan lainnya. Salah satu narasi ramalannya yang paling menyita perhatian netizen adalah soal fenomena yang ia sebut sebagai “ular besi”. Sebelum musibah gempa NTT ini, Tirta pernah mengunggah penglihatan gaib mengenai kecelakaan atau peristiwa besar yang melibatkan instalasi atau moda transportasi bermaterial logam panjang—seperti kereta api atau struktur jalur besi. Ketika kecelakaan moda berbasis rel atau insiden fisik terkait struktur besi besar kemudian benar-benar terjadi di dunia nyata, sebagian pengikut dan pengamat media sosial mengaitkan peristiwa tersebut dengan ramalan “ular besi” Tirta yang dianggap telah menjadi kenyataan. Jejak klaim ramalan yang terbukti di mata sebagian publik inilah yang makin memperkuat atensi netizen terhadap setiap unggahan video penerawangannya, termasuk mengenai gempa Flores kali ini.

Gempa Bumi: Kenyataannya Ramalan atau Sekadar Kebetulan?

Pertanyaan utama yang kemudian muncul di tengah publik adalah: Apakah pengakuan Tirta Siregar merupakan sebuah kenyataan yang terbukti, atau sekadar kebetulan matematis?

Untuk menjawab hal ini, pemahaman mendalam dari sudut pandang ilmu geofisika dan seismologi menjadi sangat krusial.

Penjelasan Ilmiah BMKG mengenai Gempa NTT

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menegaskan bahwa fenomena gempa bumi di Flores dan wilayah NTT secara keseluruhan murni disebabkan oleh mekanisme geologi alam. Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut berakar dari aktivitas sesar aktif yang membentang di sepanjang utara Pulau Flores (Flores Back Arc Thrust). Patahan aktif ini memiliki riwayat kegempaan historis yang sangat kuat, salah satunya adalah gempa bumi dan tsunami dahsyat yang pernah melanda kawasan Flores pada tahun 1992.

Ketidakmungkinan Memprediksi Gempa secara Spesifik

Hingga saat ini, lembaga sains global maupun BMKG menegaskan bahwa belum ada satu pun teknologi atau metode ilmiah di dunia yang mampu memprediksi waktu (hari, tanggal, jam), lokasi presisi, dan besaran magnitudo gempa bumi secara pasti sebelum kejadian. Gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi akumulatif tektonik secara mendadak di dalam kerak bumi yang tidak dapat diukur linieritas waktu letupannya.

Probabilitas Statistik dan Fenomena Kebetulan

Indonesia berada di kawasan Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) serta pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia. Dengan kondisi geologis ini, Indonesia mengalami ribuan getaran gempa setiap tahunnya. Pernyataan umum seperti “akan terjadi gempa besar dalam waktu dekat di Indonesia” memiliki probabilitas kebenaran statistik yang sangat tinggi untuk terjadi kapan saja. Ketika seseorang menyampaikan klaim umum mengenai bencana alam dan tak lama kemudian bencana terjadi di salah satu wilayah aktif tektonik seperti NTT, ilmu pengetahuan mengategorikan hal tersebut sebagai kebetulan kontingensi (coincidence) atau fenomena confirmation bias—kecenderungan masyarakat untuk lebih mengingat ramalan yang kebetulan ‘cocok’ ketimbang ratusan ramalan lain yang meleset.

Perbandingan Karakteristik Klaim Supranatural dan Sains Geofisika

Jika ditinjau dari sumber informasinya, klaim supranatural berlandaskan pada penglihatan batin, bisikan gaib, serta ritual pribadi, sementara sains geofisika mengandalkan jaringan sensor seismograf dan pemantauan pergerakan patahan aktif oleh lembaga resmi seperti BMKG. Dari segi penyebab, pandangan mistik cenderung mengaitkannya dengan isyarat alam atau pesan spiritual, berbeda dengan analisis ilmiah yang membuktikan bahwa pergerakan fisik patahan aktif—seperti Sesar Utara Flores—adalah pemicu utamanya. Metode validasinya pun bertolak belakang: ramalan bergantung pada pengakuan subjektif dan klaim kesesuaian pasca-kejadian, sedangkan sains mengukur parameter objektif seperti magnitudo, kedalaman, dan koordinat secara rinci. Pada akhirnya, tujuan akhir penyampaian informasi ilmiah berfokus pada mitigasi risiko, peringatan dini tsunami, dan evakuasi warga, sementara klaim supranatural lebih sering bermuara pada pembuktian kebenaran penglihatan pribadi.

Suara Netizen: Antara Doa, Kekhawatiran, dan Kepercayaan

Unggahan video dan kabar fenomena ini memantik beragam respons dari warganet di kolom komentar media sosial. Ragam komentar tersebut mencerminkan spektrum sikap masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana alam—mulai dari memanjatkan doa, merujuk pada informasi resmi BMKG, hingga meyakini klaim ramalan yang disampaikan.

Sebagian netizen memilih untuk memfokuskan perhatian pada keselamatan bersama dan mendoakan sang pembuat konten. “Semoga kita & keluarga semuanya selalu dalam lindungan Allah, Aamiin. Semoga mba Tirta selalu sehat..,” ujar netizen.

Ada pula warganet yang menyoroti rentetan kejadian gempa serta merujuk pada pemantauan resmi dari lembaga berwenang. “Dari kmaren gempa terus info dari bmkg,semoga TDK terjadi apa2 aamiin,” ujar netizen lainnya yang mengekspresikan rasa khawatir atas intensitas kegempaan yang dilaporkan BMKG.

Di sisi lain, tidak sedikit netizen yang terpengaruh dan mulai mempercayai kebenaran penglihatan gaib tersebut setelah gempa benar-benar mengguncang NTT. “Allah mengabulkan ucapan ibu tirta, hingga akhirnya lama kelamaan beberapa org yg awalnya tidak percaya, menjadi percaya ramalan nya..” ujar netizen yang meyakini fenomena tersebut sebagai bukti spiritual, terlebih dengan adanya rekam jejak ramalan terdahulu seperti peristiwa “ular besi”.

Mitigasi Bencana dan Sikap Bijak Masyarakat

Terlepas dari perdebatan mengenai fenomena ramalan media sosial dan ragam tanggapan netizen, peristiwa gempa NTT magnitudo 7,7 menjadi pengingat nyata betapa pentingnya kesiapsiagaan bencana. Langkah pemerintah pusat melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang berkoordinasi dengan Menko PMK, Basarnas, BMKG, BNPB, dan Gubernur NTT menunjukkan pentingnya respons cepat dalam penanganan darurat.

Di tingkat tapak, kesadaran masyarakat Flores yang langsung melakukan evakuasi mandiri ke tempat tinggi saat merasakan guncangan hebat dan melihat air laut surut merupakan langkah mitigasi berbasis kearifan lokal yang patut diapresiasi.

Menghadapi isu-isu seputar ramalan bencana di media sosial, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, berpatokan pada sumber data resmi BMKG dan BNPB, serta memfokuskan energi pada tindakan mitigasi nyata. Fenomena alam yang terjadi di NTT adalah pengingat atas dinamika bumi yang terus bergerak, di mana sains dan kesiapsiagaan diri tetap menjadi kunci utama keselamatan bersama.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Flores gempa NTT Tirta Siregar
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pidato Presiden Sebut Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg Viral, Begini Kata Istana

gempa

Update Gempa M 7,7 NTT: 14 Orang Dilaporkan Meninggal Dunia, BMKG Ingatkan Gempa Susulan

Terkuat di Balik Mediasi Kasus Penjahit Bali? Alasan Arya Wedakarna Mati-matian Gertak Hilda Pakai UU ITE!

Tembus 1 Juta Jam Kerja Tanpa Kecelakaan, Proyek PLTP Patuha Unit 2 Cetak Rekor Penting!

Panas! Iran Desak AS Akui Kekalahan, Tolak Klaim Donald Trump

gempa

Mengenal Flores Back-Arc Thrust: Patahan Purba di Balik Gempa M 7,7 NTT

Terpopuler
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Genap 1 Tahun, PRI Jawa Barat Tegaskan Komitmen Jadi Rumah Rakyat
  • MUSWIL VII KAHMI Jabar Tuntas, 7 Presidium Terpilih Bawa Mandat Baru
  • Teti Ratnasih Terpilih Pimpin FORHATI Jabar, Bawa Misi Besar Transformasi Keumatan
  • 10 Pohon Hilang di Jalan Riau Bandung, Pemkot Kecolongan? Pengamat Bongkar Lemahnya Pengawasan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.