bukamata.id – Warga Desa Rancamulya, Kabupaten Bandung, dikejutkan dengan kabar meninggalnya Sopyan Fathurahman (SF), Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pameungpeuk Rancamulya 2.
Informasi mengenai meninggalnya SF beredar melalui laporan yang diteruskan di grup WhatsApp dan bersumber dari aparat kewilayahan setempat. Dalam laporan awal tersebut disebutkan bahwa korban ditemukan telah meninggal dunia dan diduga mengakhiri hidupnya.
Peristiwa ini pun menyisakan duka mendalam bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat yang mengenalnya.
Tinggalkan Surat Berisi Permohonan Maaf
Sebelum meninggal dunia, SF diketahui meninggalkan sepucuk surat yang berisi permohonan maaf kepada keluarga, pasangan, dan rekan-rekan kerjanya.
Dalam surat tersebut, ia mengungkapkan penyesalan karena merasa belum mampu menjadi sosok yang membanggakan bagi orang-orang terdekatnya.
Kepada kedua orang tua dan saudara-saudaranya, SF menyampaikan permohonan maaf karena merasa selama ini lebih banyak memendam persoalan sendiri dan jarang terbuka mengenai apa yang sedang dihadapinya.
“Mah, pah, teh, aa, maafin Pian ya kalau jarang cerita atau ngobrol. Pian cuma tidur aja, diem aja di kamar, belum bisa berpikir dewasa, mengecewakan keluarga,” tulisnya dalam surat tersebut.
Sampaikan Pesan untuk Pasangan
Tak hanya kepada keluarga, SF juga menuliskan pesan khusus untuk pasangannya, Yulia.
Ia mengucapkan terima kasih atas kesabaran yang telah diberikan selama mendampinginya. Dalam surat itu, SF juga meminta maaf atas sikapnya yang menurutnya kerap mengecewakan dan tidak sesuai harapan.
Ungkapan tersebut menggambarkan besarnya rasa bersalah yang dirasakan SF terhadap orang-orang yang dicintainya.
Merasa Belum Maksimal Menjalankan Tugas
Dalam surat yang sama, SF juga menyinggung pekerjaannya sebagai Kepala SPPG.
Ia meminta maaf kepada rekan-rekan kerja di bagian dapur karena merasa belum mampu menjalankan tanggung jawab dengan baik dan menganggap dirinya belum layak menempati posisi tersebut.
“Kepada rekan kerja dapur, maafin saya banyak kurangnya. Saya belum pantas mendapatkan posisi itu. Saya tidak bisa bekerja dengan semestinya, maaf jadi beban kalian,” tulisnya.
Ungkap Pergulatan Mental yang Dialami
Di bagian lain surat tersebut, SF juga mengungkapkan pergulatan batin yang selama ini dirasakannya.
Ia menuliskan bahwa dirinya kerap diliputi rasa takut, kecemasan, dan kesulitan menghadapi berbagai persoalan hidup. SF juga menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang pendiam dan sulit bersosialisasi.
“Saya gak bisa jalanin hidup, banyak ketakutan,” tulisnya dalam salah satu bagian surat.
Ungkapan tersebut menjadi gambaran bahwa almarhum tengah menghadapi tekanan emosional yang berat.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya kepedulian terhadap kesehatan mental. Dukungan dari keluarga, teman, lingkungan kerja, maupun tenaga profesional dapat menjadi langkah penting bagi siapa pun yang sedang menghadapi tekanan psikologis.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









