Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Kakang Rudianto Ungkap Sosok di Balik Perkembangannya di Persib

Senin, 2 November 2026 14:03 WIB

Tiwi/Fadia Taklukkan Wakil Taiwan, Gelar HYLO Open 2026 Jadi Milik Indonesia

Senin, 2 November 2026 13:37 WIB
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini

Senin, 2 November 2026 13:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Kakang Rudianto Ungkap Sosok di Balik Perkembangannya di Persib
  • Tiwi/Fadia Taklukkan Wakil Taiwan, Gelar HYLO Open 2026 Jadi Milik Indonesia
  • Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini
  • Persib Gilas Isenmulang 4-0, Runje: Mental Pemain Luar Biasa!
  • Panik Didatangi Polisi, Tiga Pemuda Bersajam di Karasak Bandung Tak Berkutik
  • Cuma Butuh Hasil Seri di Australia! Ini Skenario Mulus Persib Melenggang ke 16 Besar ACL 2
  • Jadwal Padat Persib, Bobotoh Soroti Risiko Cedera dan Pentingnya Recovery
  • Awal November, BMKG Prediksi Hujan Sedang hingga Lebat di Sejumlah Wilayah Jabar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 3 November 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Lampu Kuning Ekonomi! Rupiah Terkapar Akibat ‘Perang’, APBN Mulai Terancam?

By Aga GustianaSelasa, 7 April 2026 16:19 WIB2 Mins Read
ilustrasi bansos
Ilustrasi uang rupiah. (Foto: Pixabay)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Tekanan terhadap mata uang Garuda kian tak terbendung. Pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), nilai tukar rupiah terpantau merosot tajam sebesar 70 poin atau 0,41 persen, hingga mendarat di posisi Rp17.105 per dolar AS.

Gejolak geopolitik di Timur Tengah dan rapuhnya ketahanan fiskal domestik menjadi kombinasi maut yang menekan nilai tukar hari ini.

Ancaman Blokade Selat Hormuz Picu ‘Panic Buying’ Dolar

Kondisi pasar global sedang berada dalam fase siaga tinggi. Investor cenderung mengamankan aset mereka ke dalam dolar AS seiring mendekatnya deadline dari Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran.

Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas, menyoroti bahwa kemacetan di jalur logistik energi tersebut telah mengganggu stabilitas pasar.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Tembus US$ 100, Rupiah Melemah ke Angka Rp17.000

“Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Gagalnya diplomasi antara AS dan Iran semakin memperkeruh suasana. Iran secara tegas menolak tawaran gencatan senjata 45 hari dan menuntut pencabutan sanksi secara permanen serta kompensasi kerugian, sebuah posisi yang membuat pasar khawatir akan terjadinya konfrontasi militer lebih lanjut.

Domestik: Dilema Subsidi Energi di Tengah Melambungnya Harga Minyak

Dari dalam negeri, sorotan tertuju pada anggaran negara (APBN) yang kian sesak. Harga minyak mentah dunia yang kini menyentuh 113 dolar AS per barel jauh melampaui asumsi awal pemerintah yang hanya 70 dolar AS per barel.

Baca Juga:  Dolar AS Semakin Perkasa, Rupiah Tertekan hingga Level Rp 17.858

Situasi ini diperparah dengan sistem subsidi BBM yang dianggap masih belum tepat sasaran, sehingga kelompok mampu masih leluasa menikmati fasilitas yang seharusnya untuk rakyat kecil.

“Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi kondisi fiskal Indonesia di tengah ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga yang jauh di atas asumsi APBN memperbesar beban subsidi energi,” ungkap Ibrahim.

Keterbatasan ruang fiskal membuat pemerintah berada di posisi sulit. Menaikkan harga BBM bukan pilihan populer di tengah ancaman inflasi, namun mempertahankan subsidi tanpa efisiensi akan memperlebar defisit anggaran secara berbahaya.

Baca Juga:  Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini 6 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Naik Tipis? Cek Detailnya!

Prediksi Besok: Rupiah Masih Akan Bergejolak

Pelaku pasar kini sedang menantikan data inflasi Amerika Serikat yang akan rilis Jumat mendatang untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed. Selama ketegangan di Timur Tengah belum mereda, rupiah diprediksi sulit untuk rebound.

Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental saat ini, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS pada perdagangan esok hari.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Berita Ekonomi dolar AS ekonomi Indonesia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Apakah Namamu Terdaftar? Cek Penerima Bansos November 2026 di Sini

Panik Didatangi Polisi, Tiga Pemuda Bersajam di Karasak Bandung Tak Berkutik

Awal November, BMKG Prediksi Hujan Sedang hingga Lebat di Sejumlah Wilayah Jabar

Viral Video Pasien Diduga Ditelantarkan di Puskesmas Majalengka, Kadinskes Buka Suara

Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat

Ancaman Musim Hujan di Cimahi, Dari Puting Beliung Hingga Potensi Pergerakan Tanah

Terpopuler
  • Perang Estetika Kota: Utopia Art Deco vs Megalomania Kerajaan di Saat Kas Pemprov Jabar Sekarat
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
  • KHW 400 OTW Layar Lebar? Heboh Rumah Produksi Daftarkan Judul Film Mirip Konten Nadia Omara!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.