bukamata.id – Kasus ledakan di Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, memasuki babak baru setelah terungkap bahwa tersangka berinisial AAS memiliki latar belakang sebagai mantan narapidana terorisme (eks napiter).
Fakta tersebut disampaikan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya. Lembaga tersebut menyebut AAS sebelumnya pernah terlibat kasus hukum pada tahun 2000 dan telah menyelesaikan seluruh proses hukum yang dijalaninya.
Meski memiliki rekam jejak sebagai eks napiter, Kesbangpol menegaskan bahwa AAS selama ini telah mengikuti proses pembinaan dan kembali berbaur dengan masyarakat.
Kepala Kesbangpol Kota Tasikmalaya, Ade Hendar, mengatakan pihaknya mengetahui latar belakang AAS sebagai eks napiter dan selama ini melakukan pemantauan melalui program pembinaan bersama berbagai instansi.
“A ini tersangkut kasus tahun 2000, yang jelas dia eks napiter,” kata Ade saat ditemui usai mendampingi Wali Kota Tasikmalaya meninjau lokasi ledakan, Selasa (14/7/2026).
Eks Napiter AAS Disebut Sudah Kembali Membaur dengan Masyarakat
Ade menjelaskan, setelah menyelesaikan hukuman atas kasus sebelumnya, AAS menjalani proses pembinaan agar dapat kembali menjalani kehidupan normal di tengah masyarakat.
Menurutnya, selama beberapa tahun terakhir AAS dikenal sebagai warga yang menjalankan aktivitas seperti masyarakat pada umumnya.
Ia bahkan diketahui berdagang dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar tanpa menunjukkan adanya permasalahan.
“Sepengetahuan kami, yang bersangkutan eks napiter dan sudah berproses seperti biasa. Ada pembinaan hingga sudah membaur,” ujar Ade.
Kesbangpol menilai proses reintegrasi sosial terhadap eks napiter merupakan langkah penting agar mereka dapat kembali diterima masyarakat sekaligus mencegah munculnya kembali paham-paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
Pembinaan Eks Napiter Melibatkan Banyak Instansi
Ade menegaskan bahwa pembinaan terhadap mantan narapidana terorisme tidak hanya menjadi tanggung jawab Kesbangpol Kota Tasikmalaya.
Program tersebut melibatkan berbagai pihak dengan pendekatan deradikalisasi dan pencegahan.
Menurutnya, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan upaya komunikasi dan pengawasan untuk memastikan eks napiter tetap berada dalam lingkungan sosial yang positif.
“Pola pembinaan tidak hanya di kita saja, instansi lain ada. Kita lebih ke salah satunya dengan deradikalisasi,” jelas Ade.
Ia menyebut AAS selama ini masih menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar.
“Saya tahu Angga ini komunikasinya seperti biasa, buktinya berdagang dan membaur seperti yang lain.”
Kesbangpol Sebut Motif Ledakan Bukan Terorisme
Meski tersangka diketahui memiliki latar belakang eks napiter, Kesbangpol Kota Tasikmalaya menilai kasus ledakan di Dadaha lebih mengarah pada persoalan pribadi, khususnya terkait persaingan dagang.
Ade mengatakan pihaknya tidak melihat adanya indikasi bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan aktivitas jaringan terorisme.
“Kalau kami melihat sebagai persaingan dagang saja, dan kami tidak melihat ruang-ruang itu,” ungkapnya.
Menurutnya, persoalan yang muncul lebih berkaitan dengan konflik di lingkungan usaha, meskipun tindakan yang dilakukan dianggap sebagai bentuk spontanitas yang berbeda dari permasalahan sebelumnya.
“Kami juga tidak memonitor soal adanya ejekan hingga berujung tindakan, hanya spontanitasnya ini lain.”
Pengawasan Terhadap Eks Napiter Tetap Dilanjutkan
Pasca ledakan di Kompleks Olahraga Dadaha, Kesbangpol memastikan proses pembinaan dan pemantauan terhadap eks napiter di Tasikmalaya tetap berjalan.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar proses adaptasi sosial para eks napiter tetap berlangsung dengan baik.
“Tetap dilakukan upaya tersebut bagi saudara kita eks napiter. Kami upayakan preventif secara terus-menerus, dan semuanya orang Tasikmalaya,” kata Ade.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan bukan hanya berupa pengawasan, tetapi juga membangun komunikasi agar para eks napiter dapat menjalani kehidupan bermasyarakat secara normal.
Data Jumlah Eks Napiter Masih Diverifikasi
Saat ditanya mengenai jumlah eks napiter yang berada di wilayah Kota Tasikmalaya, Ade belum memberikan angka pasti.
Ia mengatakan data tersebut harus kembali diverifikasi agar informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar akurat.
“Untuk urusan data, itu harus buka lagi, khawatir salah. Yang jelas tersangka ini eks napiter. Urusan angka harus benar dan tidak boleh nebak-nebak,” ujarnya.
Kasus ledakan di Kompleks Olahraga Dadaha kini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian. Sementara itu, berbagai pihak masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut untuk mengungkap secara lengkap kronologi maupun motif sebenarnya di balik kejadian tersebut.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










