bukamata.id – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menjadi perhatian. Salah satu nama yang mencuat adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Muncul kabar Nasaruddin Umar akan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Agama untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Namun, kabar tersebut langsung dibantah Nasaruddin.
“Nggak ada itu (kabar dirinya mundur),” kata Nasaruddin kepada wartawan, Rabu (26/8/2026).
Ia juga menegaskan tidak pernah membuat ataupun mengirimkan surat pengunduran diri kepada pihak Istana.
“Bahwa saya nggak pernah nulis surat-menulis,” tegasnya.
Terlepas dari isu tersebut, nama Nasaruddin memang masuk dalam daftar tokoh yang disebut berada dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.
Sedikitnya terdapat delapan nama yang mencuat dalam dinamika pencalonan. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pengurus PBNU dan PWNU, pengasuh pesantren, pendakwah, akademisi hingga pengusaha.
Berikut profil delapan tokoh yang masuk bursa calon Ketum PBNU.
1. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya
Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya merupakan Ketua Umum PBNU periode 2022-2027.
Tokoh kelahiran Rembang, 16 Februari 1966, tersebut sebelumnya menjabat Katib Aam PBNU. Gus Yahya merupakan putra KH M Cholil Bisri dan kakak dari Menteri Agama periode sebelumnya, Yaqut Cholil Qoumas.
Gus Yahya juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Rembang. Pengalamannya di tingkat nasional dan internasional turut memperkuat rekam jejaknya di NU.
Ia pernah menjadi juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid serta anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada era Presiden Joko Widodo.
Di tingkat internasional, Gus Yahya aktif dalam berbagai forum lintas agama. Ia juga mendirikan Bait ar-Rahmah, lembaga yang mengembangkan kajian Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Dalam Muktamar ke-35 NU, Gus Yahya menyatakan kembali maju dengan agenda melanjutkan program kepengurusan sebelumnya.
2. Zulfa Mustofa
Zulfa Mustofa dikenal sebagai pendakwah sekaligus salah satu pengurus pusat NU.
Ia lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977 dan berasal dari keluarga ulama. Dari garis ibunya, Zulfa memiliki hubungan keluarga dengan KH Ma’ruf Amin dan merupakan keturunan ulama besar Syekh Nawawi Al-Bantani.
Aktivitas dakwah Zulfa telah dimulai sejak usia muda. Setelah sang ayah meninggal dunia, ia meneruskan kegiatan mengajar di sejumlah majelis taklim yang sebelumnya diasuh ayahnya.
Pada 2000, Zulfa mendirikan Majelis Taklim Darul Mustofa.
Dalam dinamika PBNU, ia pernah ditetapkan sebagai Penjabat Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Zulfa menyatakan ingin menjadi bagian dari penyelesaian persoalan organisasi.
“Saya juga menyampaikan bahwa saya tidak ingin menjadi bagian konflik masa lalu. Tapi saya ingin menjadi solusi buat jam’iyah ini untuk masa depan,” katanya.
3. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin
Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin merupakan Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024-2029.
Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 dan berasal dari keluarga besar pesantren. Dari garis ibu, nasabnya terhubung dengan keluarga KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.
Ia menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng ke-8 sejak 2020. Di lingkungan NU, Gus Kikin juga menjabat Ketua PBNU Bidang Ekonomi sejak 2022 dan sebelumnya menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.
Pengalamannya tidak hanya berasal dari dunia pesantren dan organisasi NU. Gus Kikin juga memiliki pengalaman di sektor usaha dan pelayaran.
Ia pernah bekerja di PT Djakarta Lloyd sebelum mendirikan BBS Group pada 1997.
4. Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin
Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin merupakan putra KH MA Sahal Mahfudh dan Nyai Nafisah Sahal.
Ia tumbuh di lingkungan pesantren Kajen, Pati, dan kini menjadi Pengasuh Pesantren Maslakul Huda serta Ketua PWNU Jawa Tengah masa khidmat 2024-2029.
Pendidikan pesantrennya ditempuh di Perguruan Islam Mathali’ul Falah dan Pesantren Fathul Ulum Kwagean. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Jakarta hingga Monash University, Australia.
Gus Rozin memiliki pengalaman panjang dalam organisasi NU. Ia pernah aktif di IPNU, GP Ansor, LP Ma’arif PBNU hingga Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).
Ia juga pernah menjadi Ketua RMI PBNU dan Staf Khusus Presiden bidang Keagamaan Dalam Negeri.
Dalam bursa calon Ketum PBNU 2026, Gus Rozin menyatakan kesiapan maju dengan salah satu fokusnya adalah pembenahan organisasi.
5. Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar menjadi salah satu nama yang menarik perhatian karena posisinya sebagai Menteri Agama.
Nasaruddin lahir di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959. Ia dilantik sebagai Menteri Agama pada 21 Oktober 2024 dan saat ini juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.
Sebelum menjadi menteri, Nasaruddin pernah menjabat Wakil Menteri Agama dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.
Latar belakangnya kuat di bidang pendidikan dan kajian Islam. Ia pernah menjadi guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Rektor PTIQ Jakarta.
Nasaruddin juga memiliki pengalaman akademik internasional, antara lain melalui program di McGill University, Leiden University, Paris University, SOAS University of London, dan Georgetown University.
Namanya masuk bursa calon Ketum PBNU. Namun, isu bahwa ia akan mengundurkan diri sebagai Menteri Agama untuk maju dalam Muktamar ke-35 telah dibantah langsung.
6. Gudfan Arif
Gudfan Arif merupakan kader NU yang berasal dari keluarga pesantren. Ia adalah putra KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan.
Gudfan memiliki pengalaman dalam struktur organisasi NU, antara lain sebagai Bendahara PP Pagar Nusa, Bendahara RMI PWNU Jawa Timur, hingga Bendahara PBNU.
Selain aktif di organisasi, Gudfan juga dikenal sebagai pengusaha.
Ia mulai menggeluti dunia bisnis sejak 2003 setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Darul Ulum Jombang.
Bidang usaha yang digelutinya mencakup minyak dan gas, petrokimia, teknologi informasi, telekomunikasi, hingga pertambangan batu bara.
7. Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf
Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf merupakan Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.
Ia lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Pesantren API Tegalrejo sendiri didirikan oleh ayahnya, KH Chudlori.
Gus Yusuf menempuh pendidikan keagamaan di sejumlah pesantren, termasuk Lirboyo, Kedung Banteng Purwokerto, dan Bulus, Kebumen.
Selain aktif dalam organisasi, Gus Yusuf memiliki pengalaman politik. Ia pernah memimpin DPW PKB Jawa Tengah dan aktif dalam konsolidasi jaringan NU menjelang Muktamar ke-35.
Sebanyak 22 PCNU Jawa Tengah disebut menyampaikan dukungan terhadap pencalonannya.
Gus Yusuf membawa gagasan penguatan tata kelola organisasi dan pesantren sekaligus menekankan pentingnya menjaga persatuan NU.
“Yang terpenting, muktamar ini semangatnya ayo bareng-bareng memperbaiki NU. Kita kasih ruang semua, jangan saling mencegat,” kata Gus Yusuf.
8. Abdussalam Shohib atau Gus Salam
Abdussalam Shohib atau Gus Salam merupakan cucu salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri.
Ia lahir di Bangkalan, Madura, pada 1977 dan tumbuh dalam lingkungan pesantren.
Setelah menempuh pendidikan dasar di pesantren keluarga, Gus Salam melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri. Setelah itu, ia mengabdi di pesantren tersebut.
Kiprah organisasinya dimulai dari Lembaga Bahtsul Masail NU di Kediri dan Jombang. Ia kemudian masuk jajaran Syuriyah PCNU Jombang, menjadi Katib PBNU, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, hingga pernah menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PBNU periode 2022-2027 sebelum mengundurkan diri.
Namanya kemudian ikut mencuat dalam bursa calon Ketua Umum PBNU bersama tujuh tokoh lainnya.
Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang
Delapan nama tersebut menunjukkan beragam latar belakang dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Ada pengurus pusat dan wilayah, pengasuh pesantren, pendakwah, akademisi hingga pengusaha.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Perhelatan tersebut akan menjadi momentum penting bagi NU untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi sekaligus memilih Ketua Umum PBNU untuk periode berikutnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










