Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya

Kamis, 29 Oktober 2026 01:00 WIB

Kolaborasi Fiersa Besari dan Arei Hadirkan Cerita di Balik Ekspedisi Gunung Elbrus

Rabu, 28 Oktober 2026 21:43 WIB

Balsa Sekulic Borong Dua Gol, Persib Semakin Kokoh di Puncak Grup E ACL Two

Rabu, 28 Oktober 2026 21:35 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya
  • Kolaborasi Fiersa Besari dan Arei Hadirkan Cerita di Balik Ekspedisi Gunung Elbrus
  • Balsa Sekulic Borong Dua Gol, Persib Semakin Kokoh di Puncak Grup E ACL Two
  • Dijuluki ‘Republik PKB’, Kabupaten Bandung Jadi Model Pemenangan PKB di Pemilu 2029
  • Hanya Pakaian Tertinggal di Tepi Sungai, Lansia Sumedang Ditemukan Meninggal di Cimanuk
  • Demo BEM se-Tasikmalaya Ricuh, Pagar DPRD Dijebol hingga Diseret ke Tengah Jalan
  • Dulu Dipuji Jadi Joki Karapan Kerbau, Kini Vebby Hananto Dihujat Gegara Polemik COP JRF
  • Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 29 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Naskah Kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Warnai HUT Jabar ke-80

By Aga GustianaRabu, 20 Agustus 2025 09:20 WIB2 Mins Read
Rieke Dyah Pitaloka
Rieke Dyah Pitaloka membacakan naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian. (Foto: Humas Jabar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Provinsi Jawa Barat, Selasa (19/8/2025), berlangsung dengan nuansa budaya yang kental. Salah satu prosesi utama adalah pembacaan naskah kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian, yang dibawakan oleh anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka bersama budayawan Iman Soleh di Gedung Merdeka, Bandung.

Makna Sang Hyang Siksa Kandang Karesian

Filolog Anggi Endrawan menjelaskan bahwa naskah ini bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga pedoman kehidupan yang sarat dengan nilai kemanusiaan dan sistem tata kelola pemerintahan pada masa kerajaan Sunda.

“Sang Hyang berarti suci, siksa berarti ajaran, sementara kandang karesian bermakna aturan dengan batasan tertentu. Jadi, naskah ini merupakan pedoman hidup, terutama terkait tata kenegaraan pada zamannya,” tutur Anggi.

Baca Juga:  Soroti Distorsi Anggaran Pendidikan 20 Persen, Habib Syarif Ajukan 4 Agenda Perubahan

Proses Kajian Naskah Kuno

Menurut Anggi, membuka kembali isi naskah kuno bukanlah hal mudah. Dibutuhkan keahlian khusus dari seorang filolog. Prosesnya meliputi penelusuran manuskrip, transliterasi dari aksara Sunda ke aksara Latin, penerjemahan ke bahasa Sunda atau Indonesia modern, hingga kajian teks yang mendalam.

“Dari kajian teks itulah nilai-nilai kearifan lokal bisa ditemukan kembali dan diterapkan pada kehidupan masa kini,” tambahnya.

Jejak Naskah di Garut dan Sumedang

Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian pertama kali ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Garut. Namun, beberapa catatan menyebut ajaran di dalamnya memiliki keterkaitan erat dengan Sumedang.

Baca Juga:  Heboh! Atalia Praratya Gugat Cerai Ridwan Kamil

Sumedang sendiri tercatat menyimpan ratusan naskah kuno. “Baru satu kali pencarian saja sudah ditemukan lebih dari 100 naskah, totalnya 190. Jadi, sejak masa kerajaan, Sumedang memang menjadi pusat karya intelektual,” ungkap Anggi.

Warisan Intelektual Jawa Barat

Anggi menegaskan bahwa kekayaan naskah kuno ini menjadi bukti tingginya peradaban leluhur Jawa Barat. Selain merekam sistem pemerintahan, naskah-naskah tersebut juga berisi tata nilai yang masih relevan hingga kini.

Baca Juga:  Polisi Kerahkan 1.250 Personel Amankan Aksi di DPR/MPR RI

Ia berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi, terus memberikan dukungan untuk penelitian dan pelestarian naskah kuno tersebut.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Ketika ditanya apakah ajaran dalam naskah ini bisa mengubah sistem yang berlaku saat ini, Anggi menegaskan justru sebaliknya.

“Menurut saya, naskah ini dapat memperkuat jati diri. Nilai-nilai kemanusiaan yang tertulis di dalamnya tidak ada yang bertentangan dengan aturan modern. Justru bisa menjadi penguat dalam kehidupan berbangsa,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPR RI
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Begini Langkahnya

Dijuluki ‘Republik PKB’, Kabupaten Bandung Jadi Model Pemenangan PKB di Pemilu 2029

Hanya Pakaian Tertinggal di Tepi Sungai, Lansia Sumedang Ditemukan Meninggal di Cimanuk

Demo BEM se-Tasikmalaya Ricuh, Pagar DPRD Dijebol hingga Diseret ke Tengah Jalan

Empat Kali Lolos dalam Dua Bulan, Kurir Sabu di Bandung Barat Akhirnya Tertangkap

Demo Mahasiswa di DPRD Jabar Saat Sumpah Pemuda, Soroti Karhutla hingga MBG

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Peta Potensi Bencana November 2026: Puluhan Kecamatan di Jawa Barat Siaga Longsor dan Banjir Bandang
  • Berkas Kasus UU ITE Bambang Soeharto Hampir Rampung, Simalango Law Firm Soroti Langkah Tersangka Lapor Balik Saksi
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.