Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Tak Sekadar Tempat Nongkrong, Asia Afrika Bandung Simpan Jejak Sejarah Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 05:00 WIB
Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos PKH Tahap 2 Juni 2026 Kapan Cair? Simak Jadwal, Syarat Penerima, dan Cara Cek Status

Jumat, 12 Juni 2026 04:00 WIB

Nama Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Link Video Beredar Tuai Kontroversi

Jumat, 12 Juni 2026 03:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Tak Sekadar Tempat Nongkrong, Asia Afrika Bandung Simpan Jejak Sejarah Dunia
  • Bansos PKH Tahap 2 Juni 2026 Kapan Cair? Simak Jadwal, Syarat Penerima, dan Cara Cek Status
  • Nama Cut Salwa Viral di TikTok dan X, Link Video Beredar Tuai Kontroversi
  • Ramai Diburu di TikTok dan X, Mengapa Netizen Harus Waspada dengan Isu Video Viral Cut Salwa?
  • Buruan Klaim! Kode Redeem FF Terbaru 12 Juni 2026, Dapatkan Skin Senjata dan Bundel Langka Gratis
  • Hasil Semifinal Piala AFF U19: Kalah Tipis dari Australia, Indonesia Harus Puas Rebutan Tempat Ketiga
  • Saingi iPad Mini? Huawei Boyong MatePad Mini ke RI, Tablet Tipis 5,2 mm Bertabur Fitur Premium
  • Berburu Pilar Baru: Intip 7 Amunisi Gahar yang Masuk Radar Transfer Persib Bandung
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 12 Juni 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Naskah Kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian Warnai HUT Jabar ke-80

By Aga GustianaRabu, 20 Agustus 2025 09:20 WIB2 Mins Read
Rieke Dyah Pitaloka
Rieke Dyah Pitaloka membacakan naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian. (Foto: Humas Jabar)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Provinsi Jawa Barat, Selasa (19/8/2025), berlangsung dengan nuansa budaya yang kental. Salah satu prosesi utama adalah pembacaan naskah kuno Sang Hyang Siksa Kandang Karesian, yang dibawakan oleh anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka bersama budayawan Iman Soleh di Gedung Merdeka, Bandung.

Makna Sang Hyang Siksa Kandang Karesian

Filolog Anggi Endrawan menjelaskan bahwa naskah ini bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga pedoman kehidupan yang sarat dengan nilai kemanusiaan dan sistem tata kelola pemerintahan pada masa kerajaan Sunda.

“Sang Hyang berarti suci, siksa berarti ajaran, sementara kandang karesian bermakna aturan dengan batasan tertentu. Jadi, naskah ini merupakan pedoman hidup, terutama terkait tata kenegaraan pada zamannya,” tutur Anggi.

Baca Juga:  MKD Jadi Sorotan: Putusan Etik Lima Anggota DPR Picu Perbincangan Publik

Proses Kajian Naskah Kuno

Menurut Anggi, membuka kembali isi naskah kuno bukanlah hal mudah. Dibutuhkan keahlian khusus dari seorang filolog. Prosesnya meliputi penelusuran manuskrip, transliterasi dari aksara Sunda ke aksara Latin, penerjemahan ke bahasa Sunda atau Indonesia modern, hingga kajian teks yang mendalam.

“Dari kajian teks itulah nilai-nilai kearifan lokal bisa ditemukan kembali dan diterapkan pada kehidupan masa kini,” tambahnya.

Jejak Naskah di Garut dan Sumedang

Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian pertama kali ditemukan di Kabuyutan Ciburuy, Garut. Namun, beberapa catatan menyebut ajaran di dalamnya memiliki keterkaitan erat dengan Sumedang.

Baca Juga:  Purbaya Yudhi Sadewa, Menkeu 'Koboi' dengan Jejak Jabatan Mentereng

Sumedang sendiri tercatat menyimpan ratusan naskah kuno. “Baru satu kali pencarian saja sudah ditemukan lebih dari 100 naskah, totalnya 190. Jadi, sejak masa kerajaan, Sumedang memang menjadi pusat karya intelektual,” ungkap Anggi.

Warisan Intelektual Jawa Barat

Anggi menegaskan bahwa kekayaan naskah kuno ini menjadi bukti tingginya peradaban leluhur Jawa Barat. Selain merekam sistem pemerintahan, naskah-naskah tersebut juga berisi tata nilai yang masih relevan hingga kini.

Baca Juga:  Heboh! Atalia Praratya Gugat Cerai Ridwan Kamil

Ia berharap pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi, terus memberikan dukungan untuk penelitian dan pelestarian naskah kuno tersebut.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Ketika ditanya apakah ajaran dalam naskah ini bisa mengubah sistem yang berlaku saat ini, Anggi menegaskan justru sebaliknya.

“Menurut saya, naskah ini dapat memperkuat jati diri. Nilai-nilai kemanusiaan yang tertulis di dalamnya tidak ada yang bertentangan dengan aturan modern. Justru bisa menjadi penguat dalam kehidupan berbangsa,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

DPR RI HUT Jabar naskah kuno Rieke Dyah Pitaloka Sang Hyang Siksa Kandang Karesian
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos PKH Tahap 2 Juni 2026 Kapan Cair? Simak Jadwal, Syarat Penerima, dan Cara Cek Status

Dua Motor Tabrakan di Flyover Kiaracondong, Arus Lalu Lintas Jalan Ibrahim Adjie Lumpuh

Padam Listrik

Listrik Tiba-Tiba Padam di Banyak Kota Termasuk Bandung, ESDM Buka Suara

Antisipasi Demo Mahasiswa Memanas, 2.300 Personel Gabungan TNI-Polri Jaga Ketat Kota Bandung

Gedung DPRD Jabar Dikepung Mahasiswa, Kebijakan Ekonomi hingga RUU Polri Jadi Sorotan Utama

ilustrasi gempa

Sesar Naik Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Ahli BRIN Ingatkan Potensi Gempa Darat Jawa

Terpopuler
  • Dari Buku ‘Broken Strings’ Sampai Urusan Istri: Mengapa Eza Gionino dan Robby Tremonti Mendadak Panas?
  • Viral! Link Video Full Durasi Cut Salwa Ramai Diburu Netizen, Apa Isinya?
  • Link Telegram Video Cut Salwa Full Durasi Ramai Dicari, Benarkah Ada?
  • Viral di TikTok, Video Cut Salwa Jadi Perbincangan Publik, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
  • Video Full Cut Salwa di Telegram Viral, Link Dicari Warganet! Ini Faktanya
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.