bukamata.id – Malam itu, Pura Mangkunegaran di Surakarta dibalut keheningan yang magis. Aroma kemenyan dan minyak pusaka berkelindan dengan udara malam, mengiringi langkah-langkah sunyi para abdi dalem dan kerabat istana yang melakoni ritual Tapa Bisu. Di tengah pusaran tradisi Jawa yang sarat akan laku spiritual mawas diri ini, kilatan lampu gawai dan unggahan media sosial mendadak menyalakan api kontroversi.
Nama Paola Serena, seorang konten kreator sekaligus mantan aktris sinetron, mendadak menjadi episentrum perbincangan hangat di berbagai platform digital, khususnya Threads dan Instagram. Niat hati mengabadikan momen yang ia sebut “manis dan magis,” unggahan foto Paola saat menghadiri peringatan Tahun Baru Jawa 1 Suro justru berujung pada gelombang hujatan publik. Penyebabnya bukan pada sosok Paola sendiri, melainkan pada pilihan busana salah satu teman pria dalam rombongannya yang dinilai menabrak pakem adat istiadat istana.
Kronologi Polemik: Ketika Kebaya Menembus Batas Gender di Acara Adat
Kontroversi ini bermula ketika Paola Serena membagikan momen kehadirannya di Pura Mangkunegaran. Dalam foto-foto yang sempat beredar luas sebelum akhirnya dihapus, perhatian netizen langsung tertuju pada seorang pria yang diduga merupakan pemilik akun @rahadianms (Rahadian M Saputra). Pria di dalam rombongan Paola tersebut tampil mencolok dengan mengenakan kebaya hitam, kain batik, serta riasan wajah selayaknya seorang perempuan.
Bagi masyarakat umum, pilihan busana gender-fluid mungkin dianggap sebagai bagian dari ekspresi mode modern. Namun, dalam ruang sakral sekelas Kirab Pusaka 1 Suro di lingkungan kraton, tindakan ini dipandang sebagai bentuk ketidakpatuhan terhadap unggah-ungguh (tata krama) dan ageman (pakaian adat) yang telah diatur selama berabad-abad.
Meskipun unggahan asli buru-buru diturunkan, jejak digital terlanjur terekam. Sebuah akun Threads bernama @mbulny*** mengunggah ulang tangkapan layar tersebut sembari melayangkan kritik terbuka yang ditujukan kepada figur publik Sara Wijayanto. Mengingat kedekatan emosional Paola dan Sara yang sudah bak ibu dan anak kandung sendiri, netizen pun ikut menyenggol Sara dalam riuh polemik ini:
“Ibuuu @sarawijayanto, tolong ini anaknya ditegur. Dikasih tau, mana yg patut mana yang ndak. Acara sakral, bukan acara mejeng-mejeng. Dengan segala hormat nggih, Ibu. Gusti Sura @ancsud, nyuwun palilah,” tulis akun tersebut.
Kritik ini langsung memantik perdebatan masif. Netizen menyoroti tata tertib busana resmi yang dikeluarkan oleh Pura Mangkunegaran untuk para tamu dan peserta kirab. Berdasarkan aturan baku, peserta laki-laki wajib mengenakan beskap hitam, kain jarik, blangkon, serta menyelipkan keris di bagian belakang. Sementara itu, peserta perempuan wajib mengenakan kebaya hitam polos, jarik, dengan rambut yang ditata rapi dalam bentuk ukel konde tanpa perhiasan berlebihan.
Ketika aturan yang mengikat ini dilanggar demi estetika pribadi, netizen menganggapnya sebagai tindakan pelecehan budaya. Puncak perdebatan semakin memanas ketika muncul tanggapan dari pihak rombongan Paola yang menyatakan bahwa “pakaian tidak memiliki jenis kelamin,” sebuah argumen modern yang dinilai salah tempat ketika dihadapkan pada hukum adat kraton.
Riuh Suara Netizen di Jagat Digital
Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar dari warganet yang menyayangkan hingga merasa heran dengan kelonggaran aturan yang diperlihatkan rombongan sang influencer. Ruang siber pun menjadi panggung penyampaian rasa tidak percaya atas pudarnya rasa hormat terhadap ritual sakral.
“Kepala ku ga bisa memvisualisasikan pria berkebaya itu kaya gimana sii aneh banget,” ujar salah satu netizen yang kebingungan melihat tabrakan budaya tersebut.
Kegeraman publik juga memicu desakan agar pihak Pura Mangkunegaran memberikan sanksi sosial yang tegas di masa mendatang.
“Diblacklist mawon diacara-acara berikutnya hehehe,” sahut netizen lain di kolom komentar.
Menariknya, beberapa warganet di lokasi kejadian ternyata sudah merasakan adanya gelagat yang tidak biasa sejak ritual berlangsung.
“Wkwkw kemarin sempet kaget pas rombongan kaka ini minta foto pake hp š, bener juga firasat saya bakalan rame š,” ungkap seorang netizen yang menyaksikan langsung rombongan Paola di area kraton.
Tak sedikit pula yang melayangkan kritik lebih tajam mengenai pentingnya menjaga marwah tradisi. “Kok bisa dengan PD nya dia menyebutkan ‘pakaian gak punya jenis kelamin’, wkwkwkk.. kan konteknya dia memakai pakaian jawa untuk kebudayaan jawa yg teramat sakral. Gini nih.. kalo Mangkunegaran ngundangin influencer yg tak tau adat, kurang tata krama, dan kelihatan asal ngundang2 gtu dah. Bagi warga khususnya Solo, tradisi kirab 1 Suro tapa bisu mah sakral. Sebenere gak mau nanggepin cuman kebangetan statement doi,” tulis seorang warga net yang merasa terusik.
Menilik Sejarah dan Kesakralan Malam 1 Suro
Untuk memahami mengapa publik begitu geram terhadap pelanggaran busana ini, kita harus menjelami jauh ke belakang, memahami lembaran sejarah dan filosofi mendalam di balik Malam 1 Suro.
Asal-usul Kalender Jawa-Islam Sultan Agung
Malam 1 Suro merupakan awal bulan pertama dalam kalender Jawa, yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah. Keberadaan sistem penanggalan ini tidak lepas dari kecerdasan geopolitik dan spiritual Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja terbesar Kesultanan Mataram Islam, pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka).
Pada masa itu, masyarakat Jawa terpecah dalam dua sistem penanggalan: kalender Saka (berbasis matahari) yang warisan Hindu-Buddha, dan kalender Hijriah (berbasis bulan) yang digunakan oleh masyarakat pesisir yang Islami. Demi menyatukan rakyatnya dan memperkuat legitimasi Mataram Islam, Sultan Agung menciptakan kalender Jawa dengan memadukan sistem lunar Hijriah namun tetap mempertahankan angka tahun Saka. Hari pertama dari bulan pertama penanggalan baru ini dinamakan 1 Suro.
Ritual Spiritual: Bukan Sekadar Perayaan
Bagi masyarakat Jawa, khususnya di pusat-pusat kebudayaan seperti Surakarta dan Yogyakarta, Malam 1 Suro bukanlah waktu untuk pesta pora atau hura-hura. Ini adalah malam yang dianggap keramat, sebuah momen pergantian tahun yang diisi dengan laku spiritual tinggi untuk membersihkan diri dari energi negatif (ruwatan) serta mendekatkan diri kepada Sang Khalik.
Ada beberapa ritual utama yang dipegang teguh lintas generasi:
- Kirab Pusaka: Prosesi mengarak benda-benda pusaka kraton mengelilingi benteng istana. Ritual ini melambangkan perlindungan dan permohonan keselamatan bagi seluruh negeri.
- Tapa Bisu (Laku Bisu): Selama kirab berlangsung, para peserta dilarang keras berbicara satu patah kata pun. Tapa Bisu adalah simbol dari pengendalian diri, mengunci lisan dari ucapan buruk, dan mengalihkan fokus batin untuk melakukan refleksi diri (muhasabah atau mawas diri).
- Jamasan Pusaka: Ritual memandikan atau menyucikan senjata-senjata pusaka, keris, atau tombak milik kraton maupun personal, yang melambangkan pembersihan batin manusia dari noda dosa.
Dengan kedalaman nilai sejarah dan mistisisme tersebut, setiap elemen dalam peringatan 1 Suroātermasuk pakaian yang dikenakanāadalah simbol ketundukan, kesederhanaan, dan penghormatan. Melanggar tata busana tersebut dianggap merusak kesucian ritual yang telah dijaga ratusan tahun.
Jejak Langkah Paola Serena: Dari Layar Kaca hingga Panggung Digital
Di tengah riuhnya tudingan netizen mengenai “influencer yang minim tata krama,” sosok Paola Serena seketika menjadi magnet rasa ingin tahu publik. Wanita yang berada di pusaran badai kritik ini sebenarnya bukanlah nama baru di jagat hiburan tanah air. Memiliki nama lengkap Paola Serena Novelli Tobing, perempuan kelahiran 29 Juli 1990 ini tumbuh di lingkungan keluarga yang akrab dengan dunia seni peran, salah satunya sebagai adik kandung dari aktor watak ternama, Giovanni Yosafat Tobing.
Generasi penonton televisi era 2000-an awal tentu sangat familier dengan parasnya. Paola merintis karier di industri hiburan sejak usia belia sebagai aktris cilik dan remaja. Namanya langsung melejit dan membekas di hati pemirsa saat ia membintangi sinetron remaja yang sangat populer pada masanya, Inikah Rasanya (2003ā2005), beradu akting dengan Alyssa Soebandono dan Gilbert Marciano.
Kelihaian aktingnya membawa Paola membanjiri layar kaca lewat deretan judul sinetron sukses lainnya produksi SinemArt. Wajahnya kerap menghiasi sinetron-sinetron hits seperti Culunnya Pacarku, Menanti Cinta, Benci Bilang Cinta, Mini, Sentuh Hatiku, Baby Doll, Cowok Impian, hingga Kasih Ibu. Peran-peran ikonik yang ia mainkan perlahan mengukuhkan namanya sebagai salah satu pesinetron muda berbakat pada era emas sinetron remaja tersebut.
Setelah sempat menepi dari gemerlap layar kaca pasca menikah di usia muda dan memilih fokus mengurus buah hatinya, Paola tidak lantas meredup. Ia melakukan metamorfosis karier yang sukses dengan bertransformasi menjadi seorang beauty and fashion influencer papan atas di era digital. Melalui akun Instagram pribadinya, @paola.serena, yang kini telah diikuti oleh lebih dari 321 ribu pengikut, ia dikenal luas memiliki selera mode yang tinggi, estetika visual yang glamor, serta gaya hidup urban yang dikurasi dengan sangat apik. Posisinya sebagai figur publik terpandang inilah yang membuatnya kerap mendapatkan undangan VIP ke berbagai acara eksklusif, termasuk upacara kebudayaan kraton. Namun, popularitas digital ini pula yang menjadi pisau bermata dua ketika langkahnya dianggap menyinggung nilai-nilai komunal masyarakat adat.
Benturan Narasi: “Izin Pihak Acara” versus Bantahan Tegas Mangkunegaran
Sebelum menghapus foto kontroversialnya, Paola Serena sempat membela diri di kolom komentar. Ketika seorang netizen bertanya, “Maaf kak, itu temennya cowo kok pakai kebaya?”, Paola dengan singkat menjawab, “Karena yg punya acara mengijinkan.”
Pernyataan ini rupanya menggelinding menjadi bola salju yang panas, hingga akhirnya memaksa pihak otoritas tertinggi Pura Mangkunegaran untuk turun tangan memberikan pernyataan resmi demi meluruskan simpang siur perizinan.
GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, selaku Pengageng Kawedanan Panti Budaya Pura Mangkunegaran, merilis keterangan tertulis yang secara tegas membantah klaim adanya izin khusus tersebut. Gusti Sura menegaskan bahwa institusi istana tidak pernah berkompromi soal aturan pakaian adat dalam ritual sakral ini.
āMangkunegaran telah mengeluarkan panduan ageman untuk ritual adat 1 Sura, panitia penyelenggara 1 Sura Be 1960 tidak pernah memberikan izin, dispensasi, ataupun perlakuan khusus kepada pihak mana pun,ā ungkap GRAj Ancillasura.
Gusti Sura juga mengimbau agar seluruh lapisan masyarakat, termasuk para tokoh publik, melihat momentum Malam 1 Suro sebagai ajang kontemplasi yang penuh ketertiban dan rasa saling menghormati, bukan sebagai panggung eksistensi personal yang menabrak batas budaya.
Klarifikasi dan Permohonan Maaf Paola Serena
Sadar bahwa situasi di media sosial sudah terlalu gaduh dan tak terkendali (chaos), Paola Serena akhirnya mengunggah sebuah video klarifikasi di akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, dengan nada bicara yang tenang namun bersungguh-sungguh, Paola mencoba mengurai benang kusut kesalahpahaman terkait masalah perizinan busana temannya.
Paola menegaskan bahwa dirinya tidak berbohong ketika mengatakan pakaian tersebut sudah mendapatkan izin. Namun, ia mengklarifikasi posisi dirinya dalam birokrasi perizinan tersebut bahwa bukan dirinya yang meminta izin langsung. Urusan perizinan itu kebetulan bukan ranah dirinya untuk menjelaskan secara detail karena yang meminta izin pun bukan dia orangnya. Alasan ia berani mengatakan sudah diizinkan adalah karena memang informasi itulah yang ia ketahui, dengan logika bahwa jika tidak berizin, maka temannya tidak akan bisa masuk ke area acara.
Meski demikian, Paola secara berbesar hati menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada pihak Pura Mangkunegaran dan masyarakat adat Jawa atas kegaduhan yang ditimbulkan oleh unggahannya. Ia menegaskan tidak memiliki motif tersembunyi untuk melecehkan tradisi. Baginya, kehadiran di sana murni untuk memenuhi undangan pribadi dan ia hanya ingin mengabadikan momen yang ia anggap magis bersama sahabat-sahabatnya, tanpa mengantisipasi bahwa dampaknya akan melukai sensitivitas budaya banyak pihak.
Terkait rumor di Threads yang menyebut dirinya anti-kritik karena memblokir banyak akun netizen, Paola memberikan pembelaan. Ia menyatakan terbuka terhadap kritik yang membangun dan disampaikan dengan bahasa yang sopan. Langkah pemblokiran terpaksa diambil semata-mata untuk menyaring komentar yang mengandung umatan kasar dan kata-kata tidak senonoh yang tidak layak dibaca oleh publik, terutama anak-anak.
Pelajaran Budaya dari Ruang Digital
Tragedi kultural di era digital seperti yang dialami Paola Serena dan rekannya menjadi alarm penting bagi ekosistem pembuat konten tanah air. Kasus ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara kebebasan berekspresi dalam dunia mode modern (modern fashion expression) dengan kepatuhan mutlak pada aturan ruang adat yang sakral (sacred cultural space).
Sebuah ritual adat seperti Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran bukanlah festival kostum atau ajang pameran busana tanpa makna. Setiap helai kain, keris, konde, hingga jenis beskap yang dikenakan adalah simbol dari doa, hierarki, dan penghormatan kosmis masyarakat Jawa terhadap leluhur dan Sang Pencipta. Ketika seorang kreator konten melangkah masuk ke dalam ruang sakral tersebut, popularitas digital dan jumlah pengikut di media sosial harus ditanggalkan, digantikan oleh sikap andhap asor (rendah hati) dan kepatuhan penuh pada paugeran (aturan adat) yang berlaku.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










