bukamata.id – Sejumlah pedagang yang terdampak pembongkaran lapak di Kota Bandung mengeluhkan minimnya solusi dari pemerintah setelah tempat usaha mereka ditertibkan. Para pedagang mengaku tidak menolak program penataan kota, namun berharap pemerintah menyediakan alternatif lokasi usaha agar mereka tetap dapat mencari nafkah.
Hal tersebut disampaikan para pedagang saat diwawancarai di lokasi pembongkaran pada Rabu (24/6/2026).
Salah seorang pedagang kacamata, Faqri, mengatakan pihaknya sebenarnya telah menerima pemberitahuan mengenai rencana pembongkaran dari Satpol PP. Namun, menurutnya, para pedagang juga telah meminta pendampingan kepada pemerintah untuk mencari solusi terbaik sebelum penertiban dilakukan.
“Memang sebelumnya kami sudah diberitahukan dari Satpol PP. Cuma kami juga mengajukan permohonan agar bisa didampingi mencari solusinya bersama-sama dengan pemerintah,” kata Faqri.
Ia mengaku memahami keberadaan mereka sebagai pedagang yang menempati area yang tidak semestinya. Namun di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit, para pedagang hanya berusaha mempertahankan mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami di sini hanya mencari makan. Untuk makan saja sudah bersyukur. Kami tidak macam-macam, cuma minta solusi dari pihak pemerintah,” ujarnya.
Faqri mengungkapkan bahwa para pedagang sempat mendatangi kecamatan hingga DPRD untuk menyampaikan aspirasi mereka. Namun hingga pembongkaran dilakukan, belum ada kepastian mengenai lokasi relokasi maupun bantuan yang dapat menjadi jalan keluar bagi para pedagang terdampak.
“Dari hasil audiensi juga tidak ada solusi yang baik yang bisa kami terima. Sampai saat ini akhirnya pembongkaran juga terjadi,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Yuyu Koswara, pedagang stempel yang mengaku telah berjualan di kawasan tersebut selama sekitar 43 tahun. Menurutnya, beberapa hari sebelum pembongkaran, ia sempat mendapat informasi dari petugas bahwa proses penertiban belum akan dilakukan dan akan ada pemberitahuan lebih lanjut.
“Nah, nanti bilamana ada pembongkaran, itu pasti ada kabar berita ke Pak Yuyu sendiri. Juga nanti akan hadir KDM dan wali kota langsung terjun ke lapangan,” tutur Yuyu menirukan informasi yang diterimanya saat itu.
Karena merasa pembongkaran belum akan dilakukan dalam waktu dekat, Yuyu mengaku tidak melakukan persiapan untuk memindahkan barang-barang usahanya. Ia pun terkejut ketika pembongkaran berlangsung secara mendadak.
“Tiba-tiba saat ini ada pembongkaran. Saya heran, saya tidak punya persiapan seperti ini dibongkar,” ujarnya.
Akibat pembongkaran tersebut, sejumlah perlengkapan usaha dan barang miliknya tidak sempat diamankan. Bahkan, alat cetak stempel yang menjadi sumber penghasilannya disebut mengalami kerusakan.
“Seperti alat cetak stempel. Itu harga alat cetak stempel kan puluhan juta. Hancur,” katanya.
Yuyu mengaku kini menghadapi ketidakpastian karena belum memiliki lokasi usaha baru. Di sisi lain, sebagian peralatan yang digunakan untuk bekerja juga telah rusak akibat pembongkaran.
“Satu, belum tentu saya bekerja lagi karena lapak pun di mana. Kedua, barang-barang sudah hancur,” ujarnya.
Meski demikian, para pedagang menegaskan mereka mendukung program pemerintah untuk menata dan memperindah Kota Bandung. Mereka hanya berharap penataan tersebut dibarengi dengan solusi nyata bagi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas berdagang.
“Intinya sebenarnya kita sebagai pedagang mendukung penuh program pemerintah. Cuma dengan catatan, berilah kami solusi, berilah kami jalan,” kata Yuyu.
Ia berharap pemerintah dapat menunjukkan keberpihakan kepada pelaku usaha kecil dengan menyediakan lokasi relokasi atau alternatif usaha yang layak.
“Kami cinta Kota Bandung ini. Kami ingin kota bersih. Cuman, berikan kami solusi,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









