bukamata.id – Kesuksesan gemilang di panggung sepak bola terakbar dunia kerap mendatangkan pujaan dan popularitas instan. Namun, bagi penjaga gawang tim nasional Cape Verde, Vozinha, lonjakan ketenaran tersebut justru menjelma menjadi beban mental yang cukup berat dalam kesehariannya.
Nama kiper berusia 40 tahun itu langsung melambung tinggi usai tampil luar biasa di ajang Piala Dunia 2026. Salah satu momen paling ikonik yang melambungkan namanya adalah ketika ia sukses mengawal gawang Cape Verde dari gempuran bintang-bintang Argentina hingga memaksakan hasil imbang tanpa gol, sebelum akhirnya perjuangan negaranya terhenti di fase 32 besar.
Dampak dari penampilan heroik tersebut langsung terasa secara masif di dunia maya. Akun Instagram pribadi Vozinha kini dibanjiri pengikut hingga menyentuh angka 28 juta pengikut. Sayangnya, ledakan popularitas digital ini berbanding terbalik dengan kenyamanan kehidupannya di dunia nyata.
Kini, ia tidak lagi bisa menikmati aktivitas harian secara bebas tanpa dikenali publik. Agenda sederhana seperti sekadar menyantap makanan di luar rumah kerap terganggu oleh kerumunan penggemar yang berebut meminta swafoto, tanda tangan, hingga oknum yang merekam gerak-geriknya secara sembunyi-sembunyi.
Dihimpun dari laporan detikSport, kiper veteran tersebut secara blak-blakan merindukan masa-masa tenang sebelum dirinya menjadi sorotan global. Tekanan psikologis akibat hilangnya ruang privat membuatnya merasa bahwa status bintang internasional yang disandangnya harus dibayar dengan harga yang sangat mahal.
“Ketenangan hidup saya telah hilang. Saya tidak lagi memiliki privasi, atau setidaknya jauh lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Sekarang, setiap kali saya keluar rumah atau pergi ke restoran, selalu ada orang yang meminta foto atau tanda tangan. Atau, yang lebih parah, ada yang merekam saya,” keluh Vozinha saat menceritakan kondisinya kepada Tribuna.
Bahkan, saat diminta membandingkan kehidupannya sebelum dan sesudah turnamen akbar tersebut, ia tidak ragu-ragu memilih masa lalunya yang jauh dari sorot kamera media dan perhatian publik masif.
“Sejujurnya, jika harus memilih antara kehidupan saya saat ini dan kehidupan saya yang dulu, saya akan memilih kehidupan saya yang dulu,” tegasnya.
Kisah Vozinha memberikan sudut pandang lain di balik megahnya turnamen sepak bola internasional—bahwa di balik sanjungan jutaan suporter dan gemerlap piala, ada harga mahal berupa ketenangan jiwa dan privasi pribadi yang harus direlakan oleh seorang atlet profesional.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









