bukamata.id – Badai yang menerpa influencer Irenna Kristyn Daiyana belum juga reda. Setelah kehilangan kontrak manajemen dan akun media sosial utamanya, Irenna kembali menjadi sasaran kritik warganet.
Kali ini, pemicunya adalah penjelasan yang ia berikan tentang asal mula keributan, yang dinilai publik justru meleset dari inti persoalan.
Pesan Irenna yang Kembali Memantik Reaksi
Kritik terbaru mencuat setelah akun X @komisarisnetzen mengunggah pesan yang disebut berasal dari Irenna. Dalam pesan itu, Irenna menyebut kegaduhan bermula dari sikap politiknya.
“Halo kak, mohon maaf atas keributan yang terjadi, itu berawal dari postinganku yang pro ke Prabowo dan banyak yang ga terima jadi akhirnya dihujat,” tulis Irenna dalam pesan tersebut.
Pemilik akun @komisarisnetzen menilai penjelasan itu menunjukkan Irenna belum memahami mengapa dirinya dikritik. Menurutnya, dukungan politik kepada Prabowo maupun tokoh lain adalah hak setiap orang dan tidak akan dipersoalkan. Yang menjadi masalah, kata dia, adalah cara Irenna memandang biaya hidup dan gaya hidup, di tengah kenyataan bahwa jutaan orang di Indonesia masih hidup dalam kemiskinan struktural. Ia pun mendesak Irenna untuk belajar berempati.
Warganet: Bukan Soal Pilihan Politik
Unggahan tersebut memancing gelombang komentar baru. Banyak warganet sepakat bahwa persoalannya tidak terletak pada pilihan politik Irenna.
“Masalahnya bukan pro Bowo atau ngak, empati kepada masyarakat luas yang saat ini sedang berjuang bertahan hidup,” tulis akun @agu***.
Sebagian lainnya menanggapi dengan sindiran. “Udah, kasih dia MBG seminggu aja biar pinteran dikit, spt kata penemu sosialisme, MBG bikin pinter,” tulis akun @el***.
Ada pula warganet yang menyoroti dampak ulah Irenna terhadap banyak pihak di belakang layar industri kreatif.
“Dia ga sadar apa ya, dengan dia kaya gitu dia lagi nyusahin banyak orang? Pdhl sebuah brand itu ga cuma ngasi makan ke talentnya, banyak yang harus dikasi makan. Dari pegawai, kurir pengantar, pengemas dsbnya. Tapi dia cm mikir pandangan pribadinya, tanpa mau berbenah diri,” tulis akun @gov***.
Berawal dari Satu Unggahan Instagram Story
Polemik ini bermula ketika keresahan masyarakat atas melonjaknya biaya kebutuhan pokok sedang memuncak. Salah satu momen yang paling banyak disorot adalah aksi Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, berisi seruan penurunan biaya hidup.
Foto spanduk itu viral. Banyak warganet hingga sesama influencer membagikannya ulang sebagai bentuk solidaritas.
Irenna mengambil sikap berbeda. Melalui Instagram Story di akun @irennakristyn, ia mengunggah kalimat yang langsung memicu polemik:
“Gaya hidupku tinggi, makanya aku kerja keras, bukan repost spanduk ‘turunkan biaya hidup’,” tulisnya.
Bagi publik yang tengah bergulat dengan inflasi, mahalnya biaya pendidikan, dan sulitnya mencari pekerjaan, kalimat itu dianggap minim empati. Pesan tersirat bahwa kesulitan hidup semata akibat kurang kerja keras dinilai menyederhanakan persoalan dan merendahkan perjuangan kelas pekerja.
Irenna mengaku menghapus unggahan itu sekitar 10 menit kemudian. Namun, tangkapan layarnya sudah lebih dulu menyebar ke X, TikTok, akun-akun gosip, hingga berbagai forum diskusi daring.
Pembelaan yang Tak Meredam Amarah
Upaya awal Irenna meredam situasi lewat Threads tidak membuahkan hasil. Dalam penjelasan pertamanya, ia meminta maaf dan berdalih bahwa tulisan itu dibuat dalam kondisi emosional setelah melihat banyaknya komentar bernada fitnah dan hujatan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyebut niatnya adalah mengajak publik berhenti merundung dan menyebar kabar bohong. Namun, warganet tetap berfokus pada isi unggahannya yang dianggap mengecilkan kesulitan hidup masyarakat.
Di titik inilah benang merah polemik terlihat. Sejak awal, Irenna membingkai persoalan sebagai soal dukungan politik. Sementara publik, seperti terlihat dari kritik terbaru, terus menegaskan bahwa yang mereka persoalkan adalah soal empati.
Diputus Manajemen, Akun Menghilang
Kecaman publik dengan cepat berimbas pada karier Irenna. Samudra Management, agensi yang selama ini menaunginya, mengumumkan pemutusan kerja sama melalui akun Instagram resmi @samudra.management.
“Pemberhentian Talent: Per hari ini, Irenna Kristyn telah resmi dikeluarkan dan bukan lagi bagian dari Samudra Management. Seluruh bentuk kerja sama dengannya telah kami putus secara sepihak,” tulis manajemen.
Samudra Management juga menegaskan bahwa mereka adalah entitas independen yang tidak berhubungan dengan pihak pemerintah mana pun. Tak lama kemudian, akun Instagram dan Threads milik Irenna hilang dari peredaran.
Hilangnya akun justru memicu rasa penasaran. Sebagian warganet menelusuri keberadaan Irenna hingga ke platform lain.
“Penasaran sama org nya, akhirnya cari di tiktok ternyata ada, kalo ig lg non aktif kayaknya,” tulis seorang warganet.
Ada pula yang melontarkan sindiran atas nasib Irenna setelah kehilangan kontrak. “Selamat menjalani hidup yg merasakan dampak tingginya biaya hidup,” tulis warganet lainnya.
Sebagian warganet bahkan mengaitkan polemik ini dengan dinamika politik yang lebih luas, termasuk menyerukan aksi berhenti mengikuti figur publik yang dikenal sebagai pendukung pemerintah.
Dari Pemateri UMKM ke Pusat Kontroversi
Sebelum namanya ramai diperbincangkan, Irenna dikenal sebagai kreator konten gaya hidup, fesyen, dan ulasan kecantikan. Gaya kontennya yang dekat dengan kehidupan anak muda perkotaan membuatnya mengumpulkan banyak pengikut di Instagram dan Threads.
Popularitas itu tak hanya mendatangkan tawaran endorsement. Irenna juga pernah menjadi pemateri program pelatihan UMKM di Kota Yogyakarta. Di hadapan sekitar 40 pelaku usaha yang bermitra dengan Jogja Pasaraya, Yudhistira, dan Forum Komunikasi (Forkom), ia berbagi wawasan soal branding dan pemasaran digital.
Reputasi sebagai praktisi media sosial yang membimbing pelaku usaha kecil itu kini tertutup oleh satu kalimat yang hanya bertahan 10 menit di Instagram Story.
Klarifikasi di TikTok dan Kekhawatiran soal Keluarga
Setelah Instagram dan Threads-nya hilang, Irenna muncul di TikTok melalui akun @irennakristyn. Kali ini nadanya berbeda: lebih tenang, penuh penyesalan, dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Saya menyadari bahwa menghapus postingan tidak serta-merta menghilangkan dampak yang telah ditimbulkan. Saya menyesali hal tersebut dan memohon maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersinggung,” ujarnya.
Irenna juga mengungkapkan bahwa polemik ini telah merambah ke kehidupan pribadinya.
“Namun, persoalan ini masih terus bergulir hingga merambah ke ranah pribadi dan menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan serta kenyamanan keluarga saya. Saya berharap persoalan ini dapat disikapi secara bijak tanpa melibatkan atau mengancam pihak yang tidak berkaitan langsung dengan permasalahan ini,” katanya.
Pelajaran dari Satu Unggahan
Kasus Irenna Kristyn menjadi pengingat bagi kreator konten dan figur publik bahwa setiap unggahan dibaca oleh audiens dengan latar belakang ekonomi yang beragam. Di tengah tekanan biaya hidup, narasi “kerja keras pribadi” yang terkesan meremehkan kesulitan orang lain mudah memicu penolakan.
Namun, polemik ini juga memperlihatkan sisi lain penghakiman massal di media sosial. Kritik atas sebuah unggahan bisa dengan cepat bergeser menjadi tekanan terhadap kehidupan pribadi, bahkan keluarga.
Hingga kini, perdebatan belum benar-benar usai. Selama Irenna masih memandang kritik yang ia terima sebagai persoalan pilihan politik, jarak antara dirinya dan publik tampaknya belum akan menyempit.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











