bukamata.id – Lampu sorot di arena panggung bergengsi Les Mandrakes d’Or meredup perlahan. Suasana di salah satu aula pertunjukan paling megah di Paris, Prancis, mendadak berubah mencekam. Tidak ada dentuman musik pembuka yang membakar semangat, tidak ada senyum ramah, apalagi sapaan hangat “Bonjour!” yang biasa dilontarkan para penampil kelas dunia.
Di tengah keheningan yang menusuk, sesosok wanita melangkah pelan. Kepala dan bahunya patah-patah secara periodik—sebuah gerakan mekanis yang seolah dikendalikan oleh kekuatan tak kasat mata. Rambut hitam panjangnya menjuntai ke depan, menyembunyikan separuh besar wajahnya dalam bayangan. Ia mengenakan gaun khas bergaya gothic, merengkuh erat sebuah boneka kain lusuh dengan mata kepingan kancing.
Wanita itu adalah Marie Antoinette Riana Graharani. Namun, di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai The Sacred Riana.
Di hadapan para juri dan mentalis paling ketat di Eropa, Riana tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandang lurus dengan tatapan kosong yang mendinginkan suhu ruangan. Namun, dalam hitungan menit, gerakan jemarinya dan manipulasi realitas yang disajikannya berhasil menyihir ratusan pasang mata.
Bulan Oktober 2026 menjadi saksi sejarah. Riana resmi dinobatkan sebagai pesulap Indonesia pertama yang berhasil membawa pulang Les Mandrakes d’Or—sebuah piala yang dijuluki sebagai “Piala Oscar” bagi komunitas sulap dan ilusi internasional. Penghargaan yang berdiri sejak 1990 atas gagasan ilusionis legendaris Prancis Gilles Arthur ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang berada di kasta tertinggi seni ilusi global.
Di balik trofi emas yang berkilau di Paris itu, tersimpan kisah panjang tentang dedikasi pada seni peran, keteguhan menjaga komitmen persona, dan perjalanan seorang gadis Jakarta yang memilih bertutur lewat keheningan.
Ketika Sunyi Menjadi Bahasa Universal
Dalam seni pertunjukan modern, engaging the audience atau menyapa penonton kerap diidentikkan dengan keluwesan berkomunikasi, humor, dan karisma verbal. Namun, Riana mendobrak seluruh pakem konvensional tersebut. Ia memilih genre bizarre illusionist—sebuah cabang seni ilusi yang memadukan keahlian manipulasi visual dengan penceritaan bernuansa misteri, gothic, hingga horor psikologis.
Lahir di Jakarta pada 13 Juli 1992, sosok bernama lengkap Marie Antoinette Riana Graharani ini tumbuh menjadi pribadi yang tidak biasa di panggung hiburan. Ketika pesulap lain berlomba-lomba memamerkan kemeja glamor dan senyum memikat, Riana justru memilih gaun merah-putih berkesan vintage, kaus kaki panjang, serta riasan wajah yang pucat.
Ciri khas utamanya adalah keheningan. Di atas panggung, Riana hampir tidak pernah bersuara. Kalaupun harus “berkomunikasi”, ia hanya akan menunjuk, menggerakkan kepala secara tidak alami, atau membiarkan suasana mencekam yang melakukan percakapan dengan mental penonton.
“Banyak orang berpikir bahwa sulap adalah tentang apa yang dikatakan untuk mengalihkan perhatian penonton (misdirection),” ungkap seorang pengamat seni pertunjukan. “Namun bagi Riana, misdirection terbaiknya adalah ketegangan atmosfer. Penonton begitu terpaku dan ketakutan melihat penampilannya, hingga mereka lupa menganalisis logika di balik ilusinya.”
Keteguhan Riana dalam menjaga persona fiksi ini bukan hal yang mudah. Baik di depan kamera, di balik panggung, hingga dalam sesi wawancara, ia tetap mempertahankan karakternya yang dingin, kaku, dan minim kata. Kedisiplinan (commitment to character) inilah yang membuat publik internasional tidak melihat penampilannya sebagai sekadar trik sulap biasa, melainkan sebuah pertunjukan seni teatrikal yang utuh dan magis.
Dari ‘The Next Mentalist’ hingga Menaklukkan Asia dan Amerika
Jalan Riana menuju panggung Paris tidak terbentuk dalam semalam. Publik Indonesia pertama kali mengenal potensi besarnya pada tahun 2014, saat ia tampil sebagai salah satu kontestan dalam ajang The Next Mentalist yang diproduseri oleh Deddy Corbuzier. Kala itu, Riana berhasil menyabet posisi runner-up. Publik langsung tersedot oleh kontras antara paras cantiknya dan aksi horor yang ia bawakan.
Namun, potensi Riana terlalu besar untuk hanya berdiam di dalam negeri. Langkah besarnya dimulai ketika ia menghentak panggung Asia’s Got Talent Musim 2 pada tahun 2017.
Aksinya yang menggerakkan benda tanpa disentuh (telekinesis), menghadirkan bayangan misterius di foto Polaroid juri, hingga mengejar para juri yang ketakutan di atas panggung, menjadi viral di seluruh belahan bumi. Video penampilannya ditonton puluhan juta kali di YouTube. Di akhir musim, Riana dinobatkan sebagai Juara Pertama Asia’s Got Talent 2017 dan berhak atas hadiah USD 100.000.
Tidak berhenti di Asia, Riana melangkah ke panggung yang lebih menantang: America’s Got Talent (AGT) pada tahun 2018. Di sana, ia berhadapan dengan juri-juri kritis berkelas dunia seperti Simon Cowell, Heidi Klum, dan Mel B. Meskipun tidak keluar sebagai juara utama di AGT, keberadaannya di sana mempertegas statusnya sebagai salah satu bizarre illusionist paling menonjol di industri hiburan global.
Popularitas karakter “bidadari kegelapan” ini bahkan merambah ke layar lebar. Karakter teatrikalnya diadaptasi menjadi waralaba film horor tanah air, seperti The Sacred Riana: Beginning (2019) dan sekuelnya The Sacred Riana 2: Bloody Mary, memperluas jangkauan seni penampilannya dari panggung live ke dunia sinema.
‘Riani’ dan Simbolisme di Atas Panggung
Dalam setiap penampilannya, Riana hampir tidak pernah terpisah dari Riani—boneka kain lusuh bermata kancing yang selalu digenggamnya. Bagi publik, Riani adalah properti sulap yang menambah kesan mistis. Namun dalam konteks naratif seni pertunjukan Riana, Riani adalah “teman” sekaligus ekstensi dari jiwanya di atas panggung.
Penggunaan elemen boneka, gaun bergaya era Victoria, serta gestur telekinetic menciptakan sebuah lanskap dongeng kelam (dark fairy tale). Riana berhasil membawa budaya pop horor Asia—yang identik dengan keheningan, rambut panjang, dan misteri—ke hadapan publik Barat yang biasanya lebih terbiasa dengan ilusi megah berskala besar (grand illusion) ala David Copperfield.
Inilah yang menjadi alasan utama mengapa penyelenggara Les Mandrakes d’Or mengundang Riana secara resmi pada 18 September 2026 lalu. Pada festival yang berlangsung tanggal 16, 17, dan 19 Oktober 2026 di Paris tersebut, Riana menyajikan serangkaian ilusi yang dirancang khusus untuk memukau para pakar sulap dunia.
Ia tidak membawa trik-trik yang mengandalkan teknologi canggih atau ledakan api yang heboh. Sebaliknya, ia menyajikan orisinalitas cerita, manipulasi psikologis, dan kedalaman karakter yang jarang dimiliki oleh pesulap-pesulap Eropa maupun Amerika.
Gelombang Kebanggaan Warganet: “Setara Ballon d’Or”
Pencapaian bersejarah ini tak pelak memicu riuh rendah apresiasi di linimasa media sosial Tanah Air. Unggahan mengenai kemenangan Riana di Paris langsung disebekati ucapan selamat, rasa bangga, hingga kelakar khas warganet Indonesia yang membandingkan gengsi piala sulap ini dengan ajang olahraga paling bergengsi di dunia.
“Bravo kak Riana, we here in Indonesia are so proud of you ❤️❤️❤️,” tulis salah seorang netizen yang mengekspresikan rasa bangganya atas nama publik Indonesia.
Tak sedikit pula warganet yang mengaitkan piala Les Mandrakes d’Or dengan penghargaan sepak bola tertinggi di Prancis. “setara Ballon D’or kah? fix beliau setara Zidane, kalo om Ded setara Pele,” celeduk netizen lainnya di kolom komentar, menyamakan kelas Riana dengan legenda sepak bola dunia Zinedine Zidane dan Deddy Corbuzier sebagai pionir seniornya.
Banyak pihak menilai dedikasi Riana selama bertahun-tahun dalam mempertahankan persona misteriusnya memang layak mendapatkan ganjaran tertinggi di level internasional. “Sangat layak sih ini mah🔥,” timpal netizen lain singkat.
Mengukir Tinta Emas bagi Indonesia
Kemenangan di Les Mandrakes d’Or 2026 bukan sekadar piala pribadi bagi Marie Antoinette Riana Graharani. Pencapaian ini adalah sebuah tinta emas bagi sejarah seni pertunjukan Indonesia.
Selama ini, panggung ilusi dunia kerap didominasi oleh nama-nama dari Barat atau kawasan Asia Timur. Keberhasilan Riana menyejajarkan namanya di panggung yang sama dengan para legenda sulap dunia membuktikan bahwa karya kreatif dari Indonesia memiliki daya saing yang sangat tinggi, orisinal, serta mampu melampaui batasan bahasa dan budaya.
Ketika Riana menerima trofi Les Mandrakes d’Or di Paris, ia tetap berada dalam karakternya. Tidak ada pidato kemenangan yang panjang atau tetesan air mata emosional yang diumbar. Ia hanya berdiri, memeluk trofinya pelan, dan menatap kamera dalam sunyi.
Namun justru dalam keheningan itulah, pesan Riana bergema paling keras ke seluruh dunia: bahwa seni yang digarap dengan konsistensi, orisinalitas, dan dedikasi total akan mampu menyentuh panggung tertinggi di dunia—tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Di balik sosok ‘mengerikan’ dan aura mistis The Sacred Riana, Indonesia kini memiliki seorang seniman sejati yang telah menundukkan panggung dunia lewat karya, daya khayal, dan keberanian untuk tampil beda.
Bio-File: The Sacred Riana
- Nama Lengkap: Marie Antoinette Riana Graharani
- Nama Panggung: The Sacred Riana / Riana Antoinette
- Tempat, Tanggal Lahir: Jakarta, 13 Juli 1992
- Profesi: Ilusionis, Pesulap (Bizarre Illusionist), Aktris
- Genre Ilusi: Bizarre Illusion, Telekinesis, Psychological Horror Teatrikal
- Ciri Khas Penampilan: Gaun merah-putih vintage, rambut panjang menutupi separuh wajah, gestur kaku patah-patah, sedikit/tanpa bicara, serta membawa boneka ikonik bernama Riani.
Rekam Jejak Prestasi Utama:
- Runner-Up The Next Mentalist (2014): Ajang pembuka karier di televisi nasional Indonesia.
- Juara 1 Asia’s Got Talent Musim 2 (2017): Menjuarai kompetisi bakat terbesar se-Asia dan menjadi fenomena global.
- Quarter-finalist America’s Got Talent (2018): Memukau jutaan penonton dan juri internasional di Amerika Serikat.
- Aktris Utama Film Layar Lebar: Membintangi The Sacred Riana: Beginning (2019) & The Sacred Riana 2: Bloody Mary.
- Penerima Les Mandrakes d’Or Prancis (2026): Menjadi pesulap Indonesia pertama yang meraih penghargaan tertinggi (“Piala Oscar Dunia Sulap”) di Paris.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










