Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Mencekam! Virgo Transport 8 Terbalik di Tengah Laut, 140 Orang Masih Dicari

Minggu, 13 September 2026 13:03 WIB

Suara Kanaya Whu di HUT ke-81 RI Kini Tinggal Kenangan, Dedi Mulyadi Sampaikan Kabar Duka

Minggu, 13 September 2026 12:27 WIB

Bikin Warga Waswas! Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan, Ini Alasannya

Minggu, 13 September 2026 12:03 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Mencekam! Virgo Transport 8 Terbalik di Tengah Laut, 140 Orang Masih Dicari
  • Suara Kanaya Whu di HUT ke-81 RI Kini Tinggal Kenangan, Dedi Mulyadi Sampaikan Kabar Duka
  • Bikin Warga Waswas! Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan, Ini Alasannya
  • Indonesia Jadi Tuan Rumah, Skuad Garuda Siap Tempur! Ini Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026
  • Sulit Diterima! Luka Menalo Buka Suara Usai Persib Dipermalukan Persija
  • Harga Emas Hari Ini Naik Rp5.000, Cek Antam, UBS, Galeri 24 dan Buyback Lengkap
  • Ruben Onsu Dikejar Badai Bertubi-tubi, Jadi Tersangka Kini Betrand Peto Dilaporkan Polisi
  • Sikat Deretan Kode Redeem FF 13 September 2026, Amankan Hadiah Eksklusif Hari Ini!
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 13 September 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rupiah di Ujung Tanduk, Ancaman Level Rp18.000 per Dolar AS Kian Nyata

By Aga GustianaJumat, 29 Mei 2026 11:33 WIB2 Mins Read
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kekhawatiran pasar keuangan Indonesia mencapai titik nadir. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), nilai tukar rupiah diprediksi akan terus tertekan hingga mendekati angka psikologis krusial di level Rp18.000 per dolar AS.

Sentimen negatif ini dipicu oleh pelemahan rupiah di pasar offshore pada Kamis (28/5/2026). Data Google Finance menunjukkan mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,46 persen ke posisi Rp17.865, bahkan sempat menyentuh level Rp17.902.

Geopolitik dan Ketergantungan Energi

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai “biang kerok” utama. Ketegangan yang memuncak pascaserangan Amerika Serikat ke fasilitas di Iran memicu investor memburu dolar AS sebagai aset safe haven.

“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” jelas Ibrahim, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga:  Cara Mudah Tukar Uang Lebaran 2026 Lewat Situs pintar.bi.go.id

Situasi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah WTI yang kini mendekati US$96 per barel. Kekhawatiran akan terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz mendorong kenaikan inflasi global sekaligus meningkatkan beban impor energi Indonesia, yang otomatis memicu lonjakan permintaan dolar AS di pasar domestik.

Tekanan Multidimensi

Selain faktor eksternal, Ibrahim menyoroti kerentanan internal yang membuat rupiah makin tak berdaya:

  • Faktor Domestik: Tingginya kebutuhan impor energi, jadwal pembayaran dividen, hingga besarnya kewajiban utang pemerintah dan korporasi yang jatuh tempo.
  • Sentimen Pasar: Persepsi negatif investor terhadap efektivitas beberapa program pemerintah memicu capital outflow atau arus modal keluar yang masif.
  • Kebijakan The Fed: Sikap hawkish pejabat bank sentral AS yang mengisyaratkan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama terus menyokong kekuatan indeks dolar AS.
Baca Juga:  bank bjb Sabet Penghargaan dari BI, Jadi Bank dengan Layanan Kas Terbaik

“Dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS,” prediksi Ibrahim.

Secercah Harapan dan Solusi

Di sisi lain, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memberikan pandangan berbeda. Ia menilai pelemahan saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Menurutnya, rupiah masih memiliki ruang untuk rebound ke level Rp16.800–Rp17.000 jika terdapat sinkronisasi kebijakan yang solid.

Baca Juga:  Menkeu Purbaya Tolak Wacana Tax Amnesty Jilid III, Sebut Bisa Rusak Kepatuhan Pajak

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” ungkap Fakhrul.

Ia menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar bukanlah tugas tunggal Bank Indonesia (BI). Diperlukan kolaborasi kebijakan antara fiskal dan moneter yang selaras.

“Kalau BI sudah mengetatkan kebijakan, tetapi fiscal stance dan komunikasi kebijakan belum sinkron, maka tekanan terhadap rupiah tetap besar,” tutup Fakhrul.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bank Indonesia ekonomi Indonesia geopolitik
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Mencekam! Virgo Transport 8 Terbalik di Tengah Laut, 140 Orang Masih Dicari

Suara Kanaya Whu di HUT ke-81 RI Kini Tinggal Kenangan, Dedi Mulyadi Sampaikan Kabar Duka

Bikin Warga Waswas! Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan, Ini Alasannya

Geger Skandal Perselingkuhan Suami Artis, Pelapor Tantang Pihak M Buktikan Video Palsu

Krisis Darurat Kantong Darah di Cianjur, Pasien Talasemia Terpaksa Andalkan Keluarga

penyaluran bansos PKH dan BPNT 2025 di kantor pos

Kemensos Gunakan Data Baru, 4,3 Juta Keluarga Resmi Masuk Daftar Penerima Bansos

Terpopuler
  • Aksi Sosial PT MBK Ventura di Purwakarta: Hadirkan Layanan Kesehatan Gratis dan Donor Darah untuk Warga
  • Link Full 7 Menit Kasir Indomaret Coolmax Viral, Benarkah Ada Video Utuh?
  • Heboh Video Viral Kasir Indomaret, Lylia Beri Klarifikasi dan Bongkar Hal Ini
  • Viral Rekaman Air Pesisir Surut Dekat Anak Krakatau, Begini Kata BMKG
  • Gemuruh GBLA Bikin Merinding, Balsa Sekulic Terpukau oleh Militansi Bobotoh Persib
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.