Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima

Jumat, 30 Oktober 2026 11:45 WIB

Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167

Jumat, 30 Oktober 2026 11:23 WIB

Kemarau Belum Usai, Jawa Barat Justru Diintai Hujan Lebat dan Angin Kencang

Jumat, 30 Oktober 2026 11:12 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima
  • Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167
  • Kemarau Belum Usai, Jawa Barat Justru Diintai Hujan Lebat dan Angin Kencang
  • Pengamat Nilai Transjabodetabek Blok M-Bandung Tak Efektif, Ini Alasannya
  • Jadwal Persib vs Isen Mulang Kalteng FC di Super League, Cek Harga Tiketnya
  • Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi
  • Harga Emas Antam Anjlok Lagi! Hari Ini Dibanderol Rp 2.546.000 per Gram
  • Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 30 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rupiah di Ujung Tanduk, Ancaman Level Rp18.000 per Dolar AS Kian Nyata

By Aga GustianaJumat, 29 Mei 2026 11:33 WIB2 Mins Read
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kekhawatiran pasar keuangan Indonesia mencapai titik nadir. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), nilai tukar rupiah diprediksi akan terus tertekan hingga mendekati angka psikologis krusial di level Rp18.000 per dolar AS.

Sentimen negatif ini dipicu oleh pelemahan rupiah di pasar offshore pada Kamis (28/5/2026). Data Google Finance menunjukkan mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,46 persen ke posisi Rp17.865, bahkan sempat menyentuh level Rp17.902.

Geopolitik dan Ketergantungan Energi

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai “biang kerok” utama. Ketegangan yang memuncak pascaserangan Amerika Serikat ke fasilitas di Iran memicu investor memburu dolar AS sebagai aset safe haven.

“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” jelas Ibrahim, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga:  Purbaya Yudhi Sadewa, Menkeu 'Koboi' dengan Jejak Jabatan Mentereng

Situasi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah WTI yang kini mendekati US$96 per barel. Kekhawatiran akan terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz mendorong kenaikan inflasi global sekaligus meningkatkan beban impor energi Indonesia, yang otomatis memicu lonjakan permintaan dolar AS di pasar domestik.

Tekanan Multidimensi

Selain faktor eksternal, Ibrahim menyoroti kerentanan internal yang membuat rupiah makin tak berdaya:

  • Faktor Domestik: Tingginya kebutuhan impor energi, jadwal pembayaran dividen, hingga besarnya kewajiban utang pemerintah dan korporasi yang jatuh tempo.
  • Sentimen Pasar: Persepsi negatif investor terhadap efektivitas beberapa program pemerintah memicu capital outflow atau arus modal keluar yang masif.
  • Kebijakan The Fed: Sikap hawkish pejabat bank sentral AS yang mengisyaratkan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama terus menyokong kekuatan indeks dolar AS.
Baca Juga:  Viral Uang Rp75 Ribu Ditolak Kasir, Begini Kata BI

“Dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS,” prediksi Ibrahim.

Secercah Harapan dan Solusi

Di sisi lain, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memberikan pandangan berbeda. Ia menilai pelemahan saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Menurutnya, rupiah masih memiliki ruang untuk rebound ke level Rp16.800–Rp17.000 jika terdapat sinkronisasi kebijakan yang solid.

Baca Juga:  Pemprov Jabar Bersama BI Kembali Gelar KKJ-PKJB 2024, Dorong UMKM Naik Kelas

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” ungkap Fakhrul.

Ia menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar bukanlah tugas tunggal Bank Indonesia (BI). Diperlukan kolaborasi kebijakan antara fiskal dan moneter yang selaras.

“Kalau BI sudah mengetatkan kebijakan, tetapi fiscal stance dan komunikasi kebijakan belum sinkron, maka tekanan terhadap rupiah tetap besar,” tutup Fakhrul.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bank Indonesia ekonomi Indonesia geopolitik
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Bisa Dapat Rp2,7 Juta! Ini Rincian Bansos PKH Tahap 4 2026 untuk 8 Kategori Penerima

Kualitas Udara Bandung Memburuk, Indeks AQI Sempat Capai Angka 167

Kemarau Belum Usai, Jawa Barat Justru Diintai Hujan Lebat dan Angin Kencang

Pengamat Nilai Transjabodetabek Blok M-Bandung Tak Efektif, Ini Alasannya

Wacana Transjabodetabek Blok M-Bandung, Dishub: Perlu Koordinasi Lintas Provinsi

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Bansos Digital Meluncur 10 November? Luhut Targetkan 100 Juta Warga Terdaftar

Terpopuler
  • Megalomania Arsitektur: Ketika Kota Bandung Dipaksa Berbaju Kerajaan
  • Ruang Bicara Resmi Berdiri di Bandung, Hadir Sebagai Wadah Anak Muda Bertumbuh dan Berdampak
  • Gelar Tabligh Akbar, Pemuda Pancasila Jabar Usung Semangat Gaya Baru di HUT ke-67
  • Dikukuhkan di Depan Gubernur Lemhannas, Tatang Suherman Siap Gerakkan FWK Jabar
  • Pengurus DPC PKB Kabupaten Bandung Dikukuhkan, Dadang Supriatna Mulai Jaring Caleg 2029
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.