Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Nama Resmi Bandara Husein Kini Ditambah ‘Bandung’, Farhan Siapkan Branding Khas Kota Kembang

Rabu, 15 Juli 2026 15:25 WIB

Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026: Inggris vs Argentina, Tayang Kapan dan di Mana?

Rabu, 15 Juli 2026 15:21 WIB
Ilustrasi begal

Waspada! Aksi Begal di Bandung Makin Marak, Polisi Siapkan Skenario Keamanan Baru

Rabu, 15 Juli 2026 14:31 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Nama Resmi Bandara Husein Kini Ditambah ‘Bandung’, Farhan Siapkan Branding Khas Kota Kembang
  • Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026: Inggris vs Argentina, Tayang Kapan dan di Mana?
  • Waspada! Aksi Begal di Bandung Makin Marak, Polisi Siapkan Skenario Keamanan Baru
  • Kode Rahasia Manusia Purba: 32 Simbol Misterius yang Mendahului Penemuan Tulisan
  • Inggris vs Argentina: Memburu Tiket Final Piala Dunia 2026, Misi Balas Dendam Harry Kane dkk
  • BURUAN KLAIM! Kode Redeem Free Fire Hari Ini Berisi Hadiah Langka dari Garena
  • Sempat Cedera, Marc Klok Bawa Kabar Mengejutkan Jelang Piala AFF 2026
  • Terungkap! Tersangka Ledakan Dadaha Tasikmalaya Ternyata Eks Napi Terorisme
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 15 Juli 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Rupiah di Ujung Tanduk, Ancaman Level Rp18.000 per Dolar AS Kian Nyata

By Aga GustianaJumat, 29 Mei 2026 11:33 WIB2 Mins Read
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/Spt
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kekhawatiran pasar keuangan Indonesia mencapai titik nadir. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), nilai tukar rupiah diprediksi akan terus tertekan hingga mendekati angka psikologis krusial di level Rp18.000 per dolar AS.

Sentimen negatif ini dipicu oleh pelemahan rupiah di pasar offshore pada Kamis (28/5/2026). Data Google Finance menunjukkan mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,46 persen ke posisi Rp17.865, bahkan sempat menyentuh level Rp17.902.

Geopolitik dan Ketergantungan Energi

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai “biang kerok” utama. Ketegangan yang memuncak pascaserangan Amerika Serikat ke fasilitas di Iran memicu investor memburu dolar AS sebagai aset safe haven.

“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat tajam. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” jelas Ibrahim, Jumat (29/5/2026).

Baca Juga:  Catat! Syarat dan Cara Tukar Uang Baru di Bank Indonesia Buat Lebaran 2024

Situasi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah WTI yang kini mendekati US$96 per barel. Kekhawatiran akan terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz mendorong kenaikan inflasi global sekaligus meningkatkan beban impor energi Indonesia, yang otomatis memicu lonjakan permintaan dolar AS di pasar domestik.

Tekanan Multidimensi

Selain faktor eksternal, Ibrahim menyoroti kerentanan internal yang membuat rupiah makin tak berdaya:

  • Faktor Domestik: Tingginya kebutuhan impor energi, jadwal pembayaran dividen, hingga besarnya kewajiban utang pemerintah dan korporasi yang jatuh tempo.
  • Sentimen Pasar: Persepsi negatif investor terhadap efektivitas beberapa program pemerintah memicu capital outflow atau arus modal keluar yang masif.
  • Kebijakan The Fed: Sikap hawkish pejabat bank sentral AS yang mengisyaratkan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama terus menyokong kekuatan indeks dolar AS.
Baca Juga:  BI: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.000 Triliun per April 2025

“Dalam perdagangan hari ini rupiah kemungkinan masih melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS,” prediksi Ibrahim.

Secercah Harapan dan Solusi

Di sisi lain, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memberikan pandangan berbeda. Ia menilai pelemahan saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Menurutnya, rupiah masih memiliki ruang untuk rebound ke level Rp16.800–Rp17.000 jika terdapat sinkronisasi kebijakan yang solid.

Baca Juga:  Jangan Antre! Begini Cara Tukar Uang Baru 2026 via PINTAR BI

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” ungkap Fakhrul.

Ia menegaskan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar bukanlah tugas tunggal Bank Indonesia (BI). Diperlukan kolaborasi kebijakan antara fiskal dan moneter yang selaras.

“Kalau BI sudah mengetatkan kebijakan, tetapi fiscal stance dan komunikasi kebijakan belum sinkron, maka tekanan terhadap rupiah tetap besar,” tutup Fakhrul.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bank Indonesia ekonomi Indonesia geopolitik Kurs Dolar AS nilai tukar rupiah Rupiah melemah
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Nama Resmi Bandara Husein Kini Ditambah ‘Bandung’, Farhan Siapkan Branding Khas Kota Kembang

Ilustrasi begal

Waspada! Aksi Begal di Bandung Makin Marak, Polisi Siapkan Skenario Keamanan Baru

Terungkap! Tersangka Ledakan Dadaha Tasikmalaya Ternyata Eks Napi Terorisme

bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.

Cek Sekarang! Ini 6 Bansos yang Berpotensi Cair Juli 2026, Lengkap dengan Jadwal dan Cara Pencairannya

Bos Koi Bongkar Rahasia Honeycomb dan Kroto, Disebut Superfood yang Diburu di Thailand!

Ilustrasi begal

Terungkap! Begal Bersajam yang Teror Flyover Kopo Bandung Ternyata Masih di Bawah Umur

Terpopuler
  • Polemik Aksi Kamisan, Kehadiran Kelompok LGBT dalam Gerakan HAM Jadi Sorotan
  • Sosok Febrie Adriansyah, Sang Pemburu Jadi Buruan? Menguak Sisi Lain Kasus Korupsi yang Mengguncang Negeri!
  • Jejak Kontroversi ‘Ratu Sound Horeg’ Mala Agatha & Icha Chellow: Dari Panggung Lokal hingga Diancam Anisa Bahar
  • Muhammad Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit, Ini Kondisi Terbarunya
  • Bongkar Defisit APBD Jabar Rp5,7 Triliun: Salah Hitung, Salah Kelola, atau Ada Faktor Lain?
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.