Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Misi Balas Dendam dan Rebut Puncak Grup! Indonesia vs Vietnam Jadi Laga Paling Ditunggu Piala AFF 2026

Minggu, 2 Agustus 2026 21:06 WIB

Bikin Emosi! Nekat Ejek Pria Muslim Lagi Salat di Inggris, Siapa Sebenarnya Posie Parker?

Minggu, 2 Agustus 2026 20:02 WIB

Persib Kehilangan Dua Pemain Penting Jelang Semifinal Piala Presiden 2026

Minggu, 2 Agustus 2026 19:42 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Misi Balas Dendam dan Rebut Puncak Grup! Indonesia vs Vietnam Jadi Laga Paling Ditunggu Piala AFF 2026
  • Bikin Emosi! Nekat Ejek Pria Muslim Lagi Salat di Inggris, Siapa Sebenarnya Posie Parker?
  • Persib Kehilangan Dua Pemain Penting Jelang Semifinal Piala Presiden 2026
  • Kabar Baik! Tagihan Listrik Agustus 2026 Tidak Bertambah, Cek Tarif PLN Terbaru Semua Golongan
  • Saldo Rp600 Ribu BPNT Mulai Muncul di KKS? Simak Fakta Pencairan Tahap 3 2026
  • Jadwal Semifinal Piala Presiden 2026 Resmi Dirilis, Duel Persib vs Persija Digelar di Bali
  • Kisah Rahmania Shafiatu Zahra: Mojang Bandung yang Percantik Gerobak UMKM Lewat Konten Sosial
  • Nasib Gianni Infantino Dipertaruhkan, Kontroversi Bisnis FIFA Guncang Sepak Bola Dunia
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 3 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Waspada! Ulta Levenia Ungkap Celah Ketidakpuasan Publik Dimanfaatkan Asing

By Aga GustianaKamis, 11 September 2025 07:07 WIB2 Mins Read
Ulta Levenia
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Dalam sesi wawancara di kanal YouTube Deddy Corbuzier pada Selasa (9/9/2025), pakar terorisme Ulta Levenia menyoroti bagaimana ketidakpuasan publik dapat dimanfaatkan untuk mengganggu stabilitas politik Indonesia.

Ulta membahas fenomena Color Revolution dan konsep relative deprivation, yang menurutnya berpotensi menjadi alat pihak asing untuk mempengaruhi kondisi sosial dan politik.

Ulta menjelaskan bahwa Color Revolution biasanya muncul dari kelompok yang merasa terpinggirkan secara ekonomi maupun sosial. Kelompok ini dipersatukan melalui simbol atau narasi ketidakadilan, yang dirancang untuk memberi legitimasi moral dalam menentang pemerintahan yang sah.

Mengutip teori Ted Robert Gurr dalam Why Men Rebel, Ulta menekankan bahwa relative deprivation—perasaan tertinggal atau dirugikan meski secara materiil tidak miskin—bisa memicu konflik sosial.

“Ketika masyarakat membandingkan diri dengan elit yang hidup mewah, muncul ketegangan yang berpotensi menimbulkan instabilitas,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, Ulta menyoroti praktik pejabat publik yang memamerkan fasilitas negara atau gaya hidup mewah di media sosial.

Di tengah PHK massal dan tekanan ekonomi, perilaku semacam ini dapat menimbulkan rasa ketidakadilan dan menjadi celah bagi pihak luar untuk mendeligitimasi pemerintah.

“Pemimpin yang menolak tekanan dari kekuatan asing berisiko menjadi sasaran delegitimasi melalui keresahan rakyat,” tegas Ulta.

Ia menekankan posisi strategis Indonesia di mata dunia membuat negara ini selalu menarik perhatian pihak luar. “Indonesia terlalu penting untuk dibiarkan netral,” tambahnya.

Sebagai langkah antisipatif, Ulta menyerukan agar masyarakat meningkatkan literasi politik dan bersikap kritis terhadap informasi yang beredar, termasuk dari media mainstream.

“Jangan langsung percaya begitu saja. Kita harus memeriksa fakta dan mencari kebenaran, meski itu tidak populer,” katanya.

Di tengah dinamika politik nasional, termasuk isu reshuffle kabinet dan manuver elit, Ulta menegaskan bahwa kewaspadaan publik adalah benteng terakhir untuk menjaga kedaulatan dan independensi bangsa dari ancaman operasi pengaruh asing maupun infiltrasi ideologi yang menyamar sebagai perubahan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Deddy Corbuzier Literasi politik publik Rakyat Ulta Levenia
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bikin Emosi! Nekat Ejek Pria Muslim Lagi Salat di Inggris, Siapa Sebenarnya Posie Parker?

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

Saldo Rp600 Ribu BPNT Mulai Muncul di KKS? Simak Fakta Pencairan Tahap 3 2026

Aparat Gabungan Sisir Tempat Hiburan Malam Bandung, Sejumlah Pengunjung Dites Urine

Fakta Baru Nabila Gardena Putri di Tengah Isu Kasus Timah, Kuasa Hukum Buka Suara

Siapa Sebenarnya Revanda Bangun? Ini Dosa-Dosa Masa Lalu yang Buat Namanya Kembali Viral!

Temu Media di Bandung, Ledia Hanifa Bahas MBG hingga Pendidikan

Terpopuler
  • Rindang Jadi Beton! 9 Pohon di Cihapit Ditebang Demi Lapangan Padel?
  • Rahasia Persib Tak Terkalahkan Terungkap, Igor Tolic Sebut Faktor Ini Jadi Kunci Lolos ke Semifinal
  • Kisah Pilu Om Maxim: Jadi Ayah Sekaligus Ibu Balita 1 Tahun, Intip Momen CCTV yang Bikin Mewek!
  • Salip Elektabilitas Prabowo, Pintu RI 1 Terbuka Lebar untuk Dedi Mulyadi
  • 10 Pohon Ditebang di Cihapit, Farhan Murka dan Ancam Pidanakan Pelaku
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.