Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital

Selasa, 20 Oktober 2026 20:40 WIB

Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu

Selasa, 20 Oktober 2026 20:16 WIB

Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?

Selasa, 20 Oktober 2026 19:31 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital
  • Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu
  • Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?
  • Ranking AFC Terbaru: Indonesia Meroket ke Posisi 16 Asia, Persib dan Borneo FC Jadi Kunci
  • Mengarungi Jadwal Horor 3 Pekan, Pelatih Persib Bongkar Resep Sederhana Jaga Stamina Pemain
  • Ubah Gulma Jadi Berkah: Petani Pasirlangu KBB Bangkit Pascalongsor Lewat Inovasi Eceng Gondok
  • Sempat Merasa Kesepian dan Frustrasi, Gakuto Notsuda Buka-bukaan Soal Cedera di Persib
  • Bukan Cuma Modal Cantik! Otak Encer & Latar Belakang Alda Callista Miss Indonesia 2026 Bikin Melongo
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Dampak Besar Larangan Study Tour untuk PO Bus di Jabar

By Aga GustianaSenin, 10 Maret 2025 11:55 WIB2 Mins Read
study tour
Ilustrasi Study tour. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang melarang kegiatan study tour bagi sekolah-sekolah di wilayahnya mulai menunjukkan dampak signifikan, terutama bagi sektor pariwisata dan transportasi.

Salah satu yang paling terdampak adalah perusahaan penyedia jasa transportasi bus pariwisata, seperti PO Tifanha di Cirebon.

Manager Marketing PO Tifanha, Irfan Firmansyah, mengungkapkan bahwa sejak kebijakan ini diterapkan, pemesanan bus mengalami penurunan drastis. Bahkan, sekitar 50 persen konsumen yang sudah memesan jasa mereka memilih untuk membatalkan perjalanan.

“Sangat berdampak sekali pada perusahaan otobus. Sedikitnya 50 persen konsumen kami memilih untuk membatalkan pesanan,” ujar Irfan dikutip Senin (10/3/2025).

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Larang PR, Minta Pembelajaran Diselesaikan di Sekolah

Menurutnya, sebagian besar sekolah yang sebelumnya telah merencanakan perjalanan study tour pascalebaran 2025, khususnya pada April dan Mei, terpaksa membatalkan agenda mereka.

Data sementara dari PO Tifanha mencatat ada 30 pemesanan untuk periode tersebut, namun 10 di antaranya sudah dibatalkan. Sementara itu, sisanya memilih untuk mengubah tujuan perjalanan ke dalam kota atau dalam provinsi.

Selain kerugian akibat pembatalan pesanan, perubahan rute perjalanan juga menjadi tantangan bagi perusahaan transportasi wisata.

Banyak sekolah yang awalnya merencanakan perjalanan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur kini memilih destinasi dalam kota atau dalam provinsi.

Baca Juga:  KDM Ancam Stop Bantuan untuk Daerah yang Gagal Atasi Sampah

Hal ini mengurangi pendapatan perusahaan, karena perjalanan jarak jauh biasanya lebih menguntungkan.

“Kami juga harus mengembalikan uang konsumen akibat kondisi ini. Padahal, banyak dari mereka yang telah melakukan pemesanan jauh-jauh hari,” tambah Irfan.

Ia menjelaskan bahwa study tour sekolah merupakan agenda tahunan yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi perusahaan bus pariwisata.

Selain periode April-Mei, bulan Oktober biasanya diisi dengan kunjungan industri, sementara akhir tahun menjadi waktu favorit untuk study tour liburan semester.

Meski mengalami kerugian signifikan, PO Tifanha berupaya bertahan dengan mencari pasar baru di luar segmen sekolah. Irfan menegaskan bahwa layanan bus mereka masih tetap tersedia bagi pelanggan dari kalangan perkantoran serta wisata religi atau ziarah, yang tidak terdampak oleh kebijakan ini.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi Dituding Anti-Islam oleh Warga Jakarta Gara-Gara Ganti Nama RS, Ini Respons Tegasnya

“Kami berharap ada solusi dari pemerintah agar sektor transportasi wisata bisa tetap bertahan. Untuk saat ini, kami akan fokus pada pelanggan di luar sekolah,” pungkasnya.

Kebijakan larangan study tour ini memang bertujuan untuk memastikan keselamatan siswa, namun dampaknya terhadap sektor ekonomi, khususnya transportasi dan pariwisata, juga perlu mendapat perhatian lebih lanjut dari pemerintah.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

cirebon Dedi Mulyadi jawa barat study tour
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital

Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu

Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?

Ubah Gulma Jadi Berkah: Petani Pasirlangu KBB Bangkit Pascalongsor Lewat Inovasi Eceng Gondok

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Pasundan Beri Rapor Merah dan Desak Evaluasi Kebijakan

Banyak Murid Belum Lancar Calistung, Disdik Cirebon Setuju Kebijakan ‘Tidak Otomatis Naik Kelas’

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.