Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dandanan Sel Mewah Pakai Dana Napi, Irjen Kemen Imipas Ungkap Peran Indra Kenz di Lapas Cibinong

Senin, 5 Oktober 2026 14:45 WIB
Ilustrasi razia PSK

Bejat! Tiga Pelajar SMA di Cianjur Dijual Jadi PSK Online

Senin, 5 Oktober 2026 14:30 WIB

Lepas dari Masalah Parkir Sempit, Samsat Pajajaran Resmi Pindah ke Pusdai Jabar

Senin, 5 Oktober 2026 14:25 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dandanan Sel Mewah Pakai Dana Napi, Irjen Kemen Imipas Ungkap Peran Indra Kenz di Lapas Cibinong
  • Bejat! Tiga Pelajar SMA di Cianjur Dijual Jadi PSK Online
  • Lepas dari Masalah Parkir Sempit, Samsat Pajajaran Resmi Pindah ke Pusdai Jabar
  • Siaga Musim Hujan, Wali Kota Bandung Kerahkan Seluruh Wilayah Bersihkan Drainase
  • Revitalisasi Pasar Ciroyom Dimulai, Pemkot Bandung Pastikan Legalitas Lahan Aman
  • Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Catat Jam Mainnya Malam Ini
  • BSU 2026 Rp900 Ribu Bakal Diterima Sekaligus, Siapa Saja yang Berhak?
  • Wali Kota Buka Suara soal Polemik Harga Sewa dan Penyegelan Kios Pasar Ciroyom
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 5 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Gaya Hidup

Kisah Mojang Bandung Tembus University of Melbourne: Jatuh Bangun Kejar PhD Politik!

By Muhammad Rafki Razif KiransyahMinggu, 8 Maret 2026 13:31 WIB4 Mins Read
Mojang Bandung, Tika Tazkya Nurdyawati. Foto: Dok. Pribadi.
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Mojang Bandung, Tika Tazkya Nurdyawati, terus menorehkan prestasi di bidang akademik internasional. Perempuan asal Bandung ini baru saja menyelesaikan studi Master of International Relations di University of Melbourne, Australia, dan kini tengah mempersiapkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral (PhD) dengan spesialisasi politik.

Hal tersebut disampaikan Tika saat berbagi cerita perjalanan studinya dalam sebuah kegiatan yang digelar di rooftop Hotel Zest Bandung, Sabtu (8/3/2026).

“Perkenalkan, aku Tika, asli Bandung. Sekarang sedang menempuh studi di University of Melbourne, Australia. Aku baru saja lulus dari program Master of International Relations, dan sekarang alhamdulillah sedang dalam proses untuk melanjutkan ke PhD dengan spesialisasi politik,” ujarnya.

Perjalanan Studi Penuh Tantangan

Tika mengungkapkan, perjalanan menuju studi di luar negeri tidak selalu mudah. Ia harus melewati berbagai fase, mulai dari penolakan beasiswa hingga proses adaptasi di lingkungan baru.

Menurutnya, tantangan sudah dimulai sejak tahap pendaftaran. Ia sempat beberapa kali mengalami kegagalan sebelum akhirnya berhasil melanjutkan studi di Australia.

“Dari awal pendaftaran saja aku melewati banyak fase kegagalan. Beberapa kali mengalami penolakan beasiswa, lalu harus berjuang lagi sampai akhirnya diterima,” katanya.

Setelah tiba di Melbourne, tantangan berikutnya adalah proses adaptasi dengan ritme kehidupan yang berbeda. Selain itu, tuntutan akademik yang tinggi juga menjadi ujian tersendiri.

“Ekspektasi mereka terhadap critical thinking sangat tinggi agar kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita,” jelasnya.

Menghadapi Culture Shock

Selama tinggal di Australia, Tika juga merasakan perbedaan budaya yang cukup signifikan. Ia menilai pengalaman tersebut memberikan banyak pelajaran, terutama mengenai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan.

“Sisi positifnya, aku belajar banyak tentang toleransi. Kita diajarkan menghargai orang lain bukan dari siapa dia, tapi dari nilai yang dia bawa,” ujarnya.

Namun di sisi lain, ia juga menghadapi tantangan karena menjadi bagian dari kelompok minoritas, baik dari segi ras, budaya, maupun agama.

“Karena aku memakai hijab, tentu ada penyesuaian dalam pergaulan dan ibadah. Kita harus bisa menavigasi bagaimana tetap mempertahankan identitas kita tapi juga bisa beradaptasi dengan lingkungan,” katanya.

Selain itu, ia juga merasakan perbedaan budaya kerja yang lebih disiplin dibandingkan di Indonesia.

Membangun Komunitas Pemuda

Saat ini Tika tengah menjalani masa transisi sebelum melanjutkan studi doktoralnya. Ia memanfaatkan waktu tersebut dengan kembali ke Indonesia dan aktif berkolaborasi dengan berbagai komunitas.

Selain bekerja sama dengan NGO dan media untuk membuat program inspiratif bagi pemuda, Tika juga mendirikan komunitas bernama Muda Empati yang berfokus pada isu pembangunan berkelanjutan atau SDGs.

Komunitas tersebut menekankan pentingnya empati sebagai dasar bagi generasi muda untuk memahami sekaligus terlibat dalam berbagai persoalan sosial.

“Kami fokus pada delapan dari 17 poin SDGs, dengan empati sebagai dasar bagi pemuda untuk belajar secara kognitif sekaligus terlibat secara emosional dalam isu sosial,” ujarnya.

Bandung sebagai Kota Inspirasi

Sebagai lulusan Universitas Padjadjaran, Tika mengaku memiliki banyak kenangan di Kota Bandung. Salah satu yang paling membekas adalah masa sekolah di SMA Negeri 8 Bandung yang menurutnya menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.

Menurut Tika, Bandung memiliki potensi besar sebagai kota kreatif sekaligus kota pendidikan. Banyak tokoh besar lahir dan berkembang dari kota ini, termasuk Soekarno yang pernah menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung.

“Bandung bukan hanya kota perjuangan, tapi juga kota kreatif dan kota pendidikan. Banyak ide besar lahir dari kota ini,” katanya.

Meski demikian, ia menilai Bandung masih menghadapi berbagai tantangan perkotaan seperti transportasi publik, pengelolaan sampah, hingga banjir.

“Bandung adalah work in progress. Perjuangan untuk kota ini masih panjang,” ujarnya.

Pesan untuk Generasi Muda

Jika mendapat kesempatan berkontribusi untuk kota kelahirannya, Tika ingin membangun konektivitas antar komunitas pemuda di Bandung agar berbagai potensi yang ada dapat diberdayakan secara maksimal.

Menurutnya, kekuatan sebuah kota tidak hanya terletak pada potensi ekonomi atau kreatifnya, tetapi juga pada kualitas generasi mudanya.

Ia pun berpesan kepada generasi muda Bandung untuk terus percaya pada potensi diri sekaligus menumbuhkan empati terhadap sesama.

“Jangan lupa dengan potensi diri sendiri, tapi juga jangan lupa memiliki empati kepada sesama. Karena pada akhirnya sukses bukan tentang berapa banyak piala yang kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa besar dampak yang kita tinggalkan bagi orang lain,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Stabil, Antam Rp2,613 Juta dan UBS Rp2,530 Juta per Gram

Mojang Bandung Gita Puspita: Aktif Berorganisasi, Mengajar, dan Terus Bertumbuh Mengejar Masa Depan

Bongkar Dapur Comeback Syahrini: Dari Alasan Vakum, Bagi-bagi Dollar, Hingga Konsultan Komedi!

Liburan ke Indramayu? Ini 4 Tempat Wisata Terbaru 2026 yang Wajib Masuk Daftar

Dede Sunandar Tumbang di Ring, Vicky Prasetyo Menangis Histeris

Jangan Cuma Jalan-jalan, Ini 5 Kuliner Khas Indramayu yang Wajib Dicicipi

Terpopuler
  • Eksa Silika Resmi Jadi Plt, KORMI Bandung Bersiap Pilih Ketua Baru
  • Polemik Data Center AI Jatiluhur: AMDAL Belum Rampung tapi Proyek Sudah Dimulai, Apakah Ruang Koreksi Masih Ada?
  • Antara Regulasi dan Realita: Menguak Karut-Marut Anggaran Publikasi Rp250 Juta di Diskominfo Purwakarta
  • Aturan Dibuat untuk Dilanggar? Menguliti Tiga Dosa Administratif Pengadaan Publikasi Purwakarta
  • Badai di Tubuh KORMI Bandung: Hibah Seret, Kudeta Kepengurusan, hingga Sentilan Guru Besar UPI
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.