bukamata.id – Malam di pelosok Gunungkidul, Yogyakarta, selalu membawa ketenangan yang khas. Di balik pekatnya malam dan desir angin pegunungan, cahaya hangat memancar dari Langgar Tegalsari. Dari balik pintu kayu dan alas tikar seadanya, terdengar lantunan mengeja huruf demi huruf hijaiah yang dilafalkan dengan kehati-hatian luar biasa.
Di sanalah, para warga sepuh—ibu-ibu berkerudung sederhana hingga bapak-bapak berselimut sarung dan peci—duduk melingkar dengan meja-meja kayu kecil di hadapan mereka. Jari-jari mereka yang mulai keriput dan gemetar memegang lidi penunjuk, menelusuri lembar demi lembar buku Iqro. Di tengah-tengah mereka, hadir seorang pemuda telaten yang menyimak, membenarkan makhraj huruf, dan memberikan dorongan semangat tanpa henti.
Pemuda itu adalah Mas Choerul Fayaa—atau yang akrab disapa Mas Choerul (_choerulfataya).
Jejak Dedikasi dari Kebumen hingga Bumi Handayani
Berasal dari Kebumen, Jawa Tengah, Mas Choerul memboyong keikhlasan dan tekadnya ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah kakinya ke Gunungkidul bukanlah sekadar perjalanan geografis, melainkan wujud pelaksanaan tugas dan pengabdian dari pondok pesantren tempatnya menimba ilmu. Bagi seorang santri, penugasan adalah amanah, namun bagi Mas Choerul, amanah ini menjelma menjadi ruang pengabdian tanpa batas.
Di kawasan perbukitan kapur Gunungkidul yang dikenal dengan kesederhanaan warganya, Mas Choerul memilih untuk tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sahabat, penguat, dan pendamping masyarakat.
“Mengajar itu bukan sekadar menyampaikan ilmu agama atau membenarkan bacaan yang salah,” tutur sebuah prinsip yang diutarakannya. Bagi Mas Choerul, pendidikan agama di tengah masyarakat pelosok adalah tentang bagaimana membangun kedekatan emosional, meruntuhkan tembok rasa minder, menghargai setiap proses manusia, dan memberi kesempatan kepada siapa pun—tanpa memandang usia—untuk belajar.
Ketelatenan Tanpa Batas: Ketika Lidi Penunjuk Menuntun Ketulusan
Membimbing warga lanjut usia belajar membaca Al-Qur’an membutuhkan tingkat kesabaran yang tidak biasa. Tidak sedikit lansia yang baru pertama kali berkenalan dengan huruf-huruf Arab di masa senja mereka. Mata yang mulai kabur, daya ingat yang tak lagi tajam, hingga lidah yang kaku untuk mengucapkan pelafalan makhraj yang tepat menjadi tantangan sehari-hari.
Dalam sebuah rekaman suasana mengaji di Langgar Tegalsari, tampak pemandangan yang begitu menyentuh hati. Seorang bapak tua berpeci dan berbaju putih bersih duduk bersimpuh. Dengan cermat dan perlahan, ia memegang lidi penunjuk kecil.
“A… Go… Nggih, A… Go…”
“Mriki… Go… A… Nga…”
Dengan bahasa Jawa yang halus dan penuh penghormatan (krama), Mas Choerul menuntun sang bapak. Ketika sang bapak kesusahan membedakan antara huruf ‘Ain Sec dan Ghain Sec, atau antara ‘A dan Nga, Mas Choerul tidak terburu-buru menyalahkan. Ia memberi analogi yang merakyat dan mudah dicerna.
“Nek boten saget ‘A’, ‘Nga’ boten punapa-punapa… Pokoke kaya nek jenpeyan pamer abab niku loh, Mbah… ‘Hah’…” ujar Mas Choerul disambut senyum hangat sang bapak.
Pendekatan humanistis dan humoris inilah yang membuat para lansia tidak merasa dihakimi atau malu. Di mata Mas Choerul, tidak ada kata terlambat untuk mendekatkan diri kepada kitab suci. Setiap patahan ejaan dan rintihan lidah para lansia adalah bukti perjuangan keimanan yang amat mulia.
Menembus Ruang Digital: Mengaji Online Khusus Orang Tua Berbiaya Seikhlasnya
Sadar bahwa dahaga akan ilmu agama di usia tua tidak hanya milik warga di Gunungkidul, Mas Choerul melangkah lebih jauh. Mengabaikan sekat-sekat jarak dan memanfaatkan kemajuan teknologi, ia membuka layanan belajar mengaji secara online khusus untuk orang tua.
Inisiatif ini lahir dari keprihatinannya melihat banyak orang tua di era digital yang memiliki niat kuat belajar membaca Al-Qur’an dari nol, namun sering kali terhalang rasa malu jika harus bergabung di kelas umum bersama anak-anak muda, atau terkendala kesibukan dan keterbatasan fisik.
Satu hal yang membuat gerakan ini semakin menyejukkan hati adalah prinsip biaya yang diterapkannya: seikhlasnya. Mas Choerul menolak menjadikan pengajaran Al-Qur’an sebagai komoditas niaga. Ketulusan ini memberi kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja, dari latar belakang ekonomi mana pun, untuk merasakan nikmatnya mengeja ayat-ayat suci.
Melalui layar gawai, suara tenang dan bimbingan telaten Mas Choerul kini menjangkau rumah-rumah para lansia di berbagai penjuru, membuktikan bahwa teknologi jika berada di tangan yang tepat dapat menjadi jembatan kebaikan yang amat luas.
Apresiasi Warganet: Lautan Doa untuk Sang Pendidik Tulus
Jejak langkah pengabdian Mas Choerul Fataya yang terekam dalam dunia maya ternyata tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi warga lokal di Gunungkidul, tetapi juga mengundang gelombang emosi dan apresiasi dari warganet di berbagai penjuru. Kolom komentar dipenuhi dengan kalimat-kalimat penuh kekaguman dan doa tulus bagi sang pemuda asal Kebumen tersebut.
Banyak warganet yang merasa tersentuh melihat kesabaran luar biasa Mas Choerul saat mendampingi para lansia mengeja huruf demi huruf hijaiah. Ungkapan-ungkapan pujian pun mengalir deras:
“Bangga jadi orang Kebumen.. Mugi2 Istiqomah mas Choerul,” ujar salah satu netizen, menyematkan rasa bangga atas dedikasi pemuda sekota mereka yang membawa manfaat hingga tanah seberang.
Doa-doa kebaikan juga turut dipanjatkan oleh warganet lain yang terinspirasi oleh ketulusan hati sang guru ngaji. “Panjang umur orang orang baik, dan berkah selalu hidupnya,” tulis netizen lainnya.
Bahkan, ada pula warganet yang kehabisan kata-kata untuk melukiskan rasa takjubnya atas kesabaran tanpa batas yang ditunjukkan Mas Choerul. “Mas-nya manusia hebat maaf agak sulit memilih kata2 yang pas untuk mas-nya tapi yang jelas sangat luar biasa!!,” puji seorang netizen dengan penuh rasa hormat.
Komentar-komentar hangat ini membuktikan bahwa kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan dengan ketulusan hati akan selalu menemukan jalannya untuk menyentuh hati banyak orang, melintasi batas layar gawai, dan menginspirasi kebaikan-kebaikan baru di tengah masyarakat.
Merawat Harapan di Masa Senja
Pengabdian Mas Choerul Fataya di Gunungkidul memberikan pelajaran berharga tentang hakikat dakwah yang sesungguhnya. Dakwah bukanlah tentang seberapa tinggi mimbar tempat seseorang berdiri, melainkan seberapa dalam ia mau menunduk untuk merangkul mereka yang membutuhkan panduan.
Di tengah zaman yang serba cepat dan menuntut serba instan, kehadiran ruang belajar mengaji lansia—baik di langgar-langgar kayu yang bersahaja maupun di ruang-ruang temu digital—adalah oase yang merawat harapan.
Bagi para lansia di Gunungkidul dan murid-murid online-nya, Mas Choerul bukan sekadar guru ngaji. Ia adalah sosok yang mengembalikan rasa percaya diri mereka, sosok yang mengingatkan bahwa di hadapan Sang Pencipta, pintu belajar dan ampunan selalu terbuka lebar hingga hembusan napas terakhir.
Setiap malam, saat lidi penunjuk itu kembali menyusuri susunan huruf hijaiah di Langgar Tegalsari, ada ikhtiar yang terus membara. Dari Kebumen untuk Gunungkidul dan Nusantara, Mas Choerul Fayaa telah membuktikan bahwa keikhlasan kecil yang dirawat dengan konsistensi mampu menyinari kegelapan dan membawa kedamaian yang hakiki.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










