Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Kemacetan

Awas Macet! Sabtu-Minggu Ini Bandung Penuh Acara, Catat Jadwal dan Lokasinya

Jumat, 23 Oktober 2026 22:15 WIB

Dibantai Persija 1-5, Arema FC Resmi Depak Marcos Santos

Jumat, 23 Oktober 2026 22:03 WIB

Lebih Banyak Peluang tapi Kalah, Sandy Walsh Ungkap Penyebab Persib Tumbang

Jumat, 23 Oktober 2026 21:41 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Awas Macet! Sabtu-Minggu Ini Bandung Penuh Acara, Catat Jadwal dan Lokasinya
  • Dibantai Persija 1-5, Arema FC Resmi Depak Marcos Santos
  • Lebih Banyak Peluang tapi Kalah, Sandy Walsh Ungkap Penyebab Persib Tumbang
  • Sudah Ada Sejak 1986, Ini 5 Surabi Legendaris yang Masih Diburu di Bandung
  • Sempurna di Asia, Persib Siap Hadapi Raksasa Australia di Jalak Harupat
  • Kirab Jampana HJKB 216 Besok! Ini Rute dan Jam yang Perlu Dihindari Pengendara
  • Bela Ibu dari Amukan Ayah, Remaja 15 Tahun di Cicalengka Meninggal Dunia
  • Getok Harga Cuanki Rp50 Ribu di Bandung Bikin Heboh, Wali Kota Farhan Minta Pedagang Jujur
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Jumat, 23 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kompensasi Lebaran Angkot Bermasalah, Pengamat Soroti Pentingnya Pendataan Rinci

By SusanaJumat, 4 April 2025 20:00 WIB2 Mins Read
Ilustrasi angkot. (mediabogor).
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang meliburkan para sopir angkutan kota (angkot) selama libur Lebaran 2025 kini menuai sorotan.

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, Pemprov Jabar menjanjikan kompensasi sebesar Rp1,5 juta kepada setiap sopir angkot. Rinciannya, Rp1 juta diberikan dalam bentuk tunai, dan sisanya berupa paket sembako senilai Rp500 ribu.

Namun, di lapangan, sejumlah sopir angkot di kawasan Puncak, Bogor, mengaku hanya menerima Rp800 ribu. Kondisi ini sontak memicu kekecewaan di kalangan para sopir yang merasa tidak mendapatkan hak secara utuh.

Menanggapi polemik ini, pengamat kebijakan publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) FISIP, Kristian Widya Wicaksono, menyampaikan bahwa persoalan ini perlu segera diklarifikasi oleh pemerintah daerah. Jika terbukti ada pemotongan dana secara sengaja, maka tindakan tegas harus segera diambil.

Baca Juga:  Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan Daftar Besok, KPU Jabar: Jam 16.00 WIB Kita Tutup

“Terkait kompensasi yang baru diterima sejumlah Rp. 800rb dari yang dijanjikan Rp. 1,5jt menurut saya masih perlu klarifikasi yang lebih jelas dengan perangkat daerah terkait. Tentunya jika terjadi ketidaksesuaian yang dilakukan secara sengaja maka kita sama-sama sangat menyesalkannya dan meminta inspektorat daerah segera melakukan pemeriksaan dan penyelidikan terhadap oknum2 terkait,” ujar Kristian saat dihubungi pada Jumat (4/4/2025).

Ia menambahkan, kebijakan ini memiliki niat positif dalam mengurai kemacetan saat Lebaran. Namun, kelemahannya terletak pada ketidaksiapan data dan informasi yang akurat dalam pelaksanaannya.

Baca Juga:  Sekda Jabar Beberkan Alasan Dana Operasional Gubernur Tembus Rp28 Miliar

Data Belum Akurat, Kompensasi Bisa Tidak Tepat Sasaran

Kristian juga menyoroti pentingnya pendataan yang lebih rinci terkait siapa yang berhak menerima kompensasi.

Ia menjelaskan bahwa penerima bantuan adalah supir angkot, bukan pemilik kendaraan. Selain itu, satu unit angkot bisa saja dikemudikan oleh beberapa orang secara bergantian.

“Detail seperti ini harus diperhatikan agar pemberian kompensasi tepat sasaran. Tanpa data yang akurat, program seperti ini berisiko tinggi menimbulkan masalah,” jelasnya.

Lebih jauh, Kristian mempertanyakan asumsi bahwa angkot adalah penyebab utama kemacetan di Jabar selama musim mudik. Menurutnya, volume kendaraan pribadi justru bisa menjadi faktor yang lebih dominan dalam menyebabkan kemacetan.

Baca Juga:  Viral! Siswa SD Jalan 10 KM saat Masih Gelap, Warganet Desak Dedi Mulyadi Evaluasi Kebijakan

“Perlu ada riset mendalam. Bisa jadi bukan angkot yang menyebabkan kemacetan, tapi kendaraan pribadi. Ditambah lagi, kapasitas jalan yang terbatas juga menjadi masalah tersendiri,” imbuhnya.

Solusi Jangka Panjang Dibutuhkan

Kristian menekankan, solusi jangka panjang hanya bisa dicapai jika pemerintah benar-benar menggali akar persoalan, bukan hanya merespons gejala permukaannya.

“Jangan hanya terjebak melihat gejala masalahnya saja sebab penyelesaian terhadap gejala masalah hanya akan berlaku temporer. Penyelesaian pada akar masalah yang akan membawa dampak terhadap penyelesaian masalah. Dan jelas ini butuh pendalaman masalah yang komprehensif, riset yang intensif, dan keputusan yang tidak terburu-buru,” tegasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Kemacetan

Awas Macet! Sabtu-Minggu Ini Bandung Penuh Acara, Catat Jadwal dan Lokasinya

Kirab Jampana HJKB 216 Besok! Ini Rute dan Jam yang Perlu Dihindari Pengendara

Bela Ibu dari Amukan Ayah, Remaja 15 Tahun di Cicalengka Meninggal Dunia

Semangkuk cuanki hangat di Cuanki Serayu

Getok Harga Cuanki Rp50 Ribu di Bandung Bikin Heboh, Wali Kota Farhan Minta Pedagang Jujur

Viral KDKMP di KBB Berdiri di Atas Bukit: Indah Tapi Kok Jauh dari Permukiman?

Suhu Panas Bandung Tembus 39 Derajat, Kapan Cuaca Kembali Normal?

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Flexing Nikah Berbuah Hujatan! Nasib Tragis Juan dan Evelyn hingga Gulung Tikar dari Youtube!
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.