bukamata.id – Bagja Tanurahardja (63) harus menerima kenyataan bahwa kios buku yang selama puluhan tahun menjadi tempatnya mencari nafkah di sekitar Pasar Cihapit, Jalan Cihapit, Kota Bandung, kini sudah dibongkar.
Lapak yang telah menjadi bagian dari kehidupan Bagja sejak era 1980-an itu dibongkar secara mandiri pada Senin (5/10/2026), setelah para pedagang mendapat pemberitahuan dari pihak kelurahan mengenai penertiban.
Bagja mengatakan, pemberitahuan tersebut disampaikan secara lisan. Ia mengaku tidak menerima surat pemberitahuan resmi sebelum pembongkaran dilakukan.
“Dari kelurahan hari Kamis pemberitahuan, ya, ada penertiban. Kasih waktu sampai hari Senin. Ya sudah, ini hari Senin, kita semua pedagang kaki lima sepakat pembongkaran hari Senin,” ujar Bagja saat ditemui di Jalan Cihapit, Kamis (8/10/2026).
Menurut Bagja, sebelumnya memang pernah ada pihak kelurahan yang datang dan menyampaikan akan dilakukan penertiban. Namun, pemberitahuan itu hanya disampaikan secara langsung tanpa surat resmi.
“Kalau surat pemberitahuan sih belum ada. Jadi ya boleh dibilang spontan sih,” katanya.
Sebagai pedagang kaki lima yang telah puluhan tahun berjualan di lokasi tersebut, Bagja merasa tidak memiliki banyak pilihan ketika penertiban dilakukan.
Ia memilih membongkar sendiri lapaknya agar tidak menimbulkan persoalan lebih lanjut dengan pemerintah.
“Ya sekarang kayak kita pedagang kaki lima, ya mau enggak mau harus nurut pemerintah sih. Ya kayak kita enggak punya kekuatan hukum apa-apa, kan. Ya udahlah, daripada jadi polemik, ya udah bongkar sendiri aja,” tuturnya.
Namun, keputusan tersebut membuat Bagja harus menanggung kerugian. Ribuan buku yang sebelumnya menjadi barang dagangannya akhirnya tidak bisa lagi dijual seperti biasa.
Buku-buku tersebut kemudian dijual kepada pengepul secara kiloan. Dari ribuan buku yang dikumpulkan dan dirawatnya selama ini, Bagja hanya mendapatkan sekitar Rp300 ribu.
“Yang kemarin aja. Kemarin kan ribuan buku akhirnya kita kiloin semua ke pengepul. Sekarang paling dari ribuan buku itu cuma jadi Rp300.000-an,” ujarnya.
Padahal, dalam kondisi normal, penjualan buku tetap menjadi sumber penghasilan Bagja. Ia mengatakan, menjual sekitar 10 buku dalam sehari saja sudah cukup untuk menutup kebutuhan operasionalnya.
Selain kerugian dari buku, pembongkaran lapak juga membutuhkan biaya. Bagja menyebut dirinya tetap harus mengeluarkan uang untuk orang-orang yang membantu proses pembongkaran.
“Biaya sih. Sekarang kita kan untuk apa yang bantu-bantu juga harus tetap kita kasih kopi, apa segala macam, makan,” katanya.
Meski demikian, Bagja memahami posisi pemerintah dalam melakukan penataan. Ia menyadari tempatnya berjualan berada di atas lahan milik pemerintah.
“Ya kayak kita pedagang kaki lima gini, ya mau enggak mau sih akhirnya harus nurut aja sih. Ya sekarang kayak kita lahan lapak gitu, kan, tanah pemerintah. Apalagi segala macam, ya kita boleh dibilang cuma numpang,” ucapnya.
Bagja mengaku tidak sempat memikirkan banyak alternatif sebelum pembongkaran dilakukan. Menurutnya, proses yang berlangsung cukup tiba-tiba membuat dirinya hanya ingin segera menyelesaikan pembongkaran.
“Ya sekarang dengan kejadiannya ya boleh dibilang tiba-tiba gitu, ya udah enggak kepikiran apa-apa sih. Ya udahlah, yang penting cepat aja beres,” tuturnya.
Tetap Berjualan Buku
Meski kiosnya telah dibongkar, Bagja tidak berniat meninggalkan dunia buku. Ia berencana kembali mengumpulkan buku sedikit demi sedikit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Baginya, berjualan buku sudah menjadi keahlian yang ditekuni selama puluhan tahun.
“Ya mau enggak mau harus kita sedikit-sedikit ngumpulin lagi buku sih. Soalnya ya boleh dibilang keahlian saya cuma di bidang buku. Ya mau enggak mau ya bergerak lagi di bidang buku lagi sih,” katanya.
Bagja juga memastikan dirinya akan tetap berjualan di lokasi tersebut. Namun, bentuk lapaknya tidak lagi seperti sebelumnya.
Ia akan menggunakan konsep bongkar-pasang sesuai dengan kondisi setelah penataan.
“Akan tetap di sini,” ujarnya.
“Ya dengan kondisi ya bongkar pasang lah. Walaupun ya merepotkan sih,” sambungnya.
Bagi Bagja, sistem tersebut bukan perkara mudah. Di usianya yang kini 63 tahun, ia harus bersiap membongkar dan memasang kembali lapak setiap kali berjualan.
Belum lagi ketika cuaca tidak bersahabat. Buku-buku yang dijajakan harus kembali diamankan ketika hujan turun.
“Iya, harus bongkar pasang tiap hari. Bongkar pasang yang repot, kan. Majang buku kalau pas hujan apa segala macam,” kata Bagja.
Meski harus memulai kembali dari awal, Bagja memilih tetap bertahan dengan pekerjaan yang telah dijalaninya selama puluhan tahun. Buku menjadi bidang yang ia kenal, sekaligus sumber penghasilan yang ingin terus dipertahankannya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










