Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru
Begini cara dapat saldo DANA gratis, awas hati-hati kena tipu.

Klaim Saldo DANA Gratis 20 Agustus 2026: Link DANA Kaget dan Cara Cairkan hingga Ratusan Ribu Rupiah Hari Ini

Kamis, 20 Agustus 2026 02:00 WIB
Game Free Fire

Kumpulan Kode Redeem FF 20 Agustus 2026 Terbaru: Klaim Skin & Diamond Gratis Hari Ini

Kamis, 20 Agustus 2026 01:00 WIB

Maulid Nabi 2026 Tanggal Berapa? Cek Kalender Hijriah 1448 H dan Daftar Tanggal Merahnya

Rabu, 19 Agustus 2026 20:32 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Klaim Saldo DANA Gratis 20 Agustus 2026: Link DANA Kaget dan Cara Cairkan hingga Ratusan Ribu Rupiah Hari Ini
  • Kumpulan Kode Redeem FF 20 Agustus 2026 Terbaru: Klaim Skin & Diamond Gratis Hari Ini
  • Maulid Nabi 2026 Tanggal Berapa? Cek Kalender Hijriah 1448 H dan Daftar Tanggal Merahnya
  • Tikung PSG di Detik Akhir, Aston Villa Resmi Amankan Tanda Tangan Zion Suzuki
  • Skandal Pancatera: Jual Narasi Kritis, Tapi ‘Pesta’ di Istana? Netizen Merasa Dikhianati!
  • Modal Tampil di Bali, Fitrah Maulana Siap Bersaing di Skuad Utama Persib
  • ASUS ExpertBook Ultra Jadi Flagship Laptop Bisnis dengan Performa AI dan Keamanan Enterprise
  • Boyong Trofi Dewata Challenge Series 2026, Skuad Persib disambut Hangat Bobotoh di Bandung
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Kamis, 20 Agustus 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Penjual Es Dicoret dari PBI BPJS, Penghasilan Rp30 Ribu Sehari Dianggap Kategori Mampu

By Aga GustianaJumat, 13 Februari 2026 15:34 WIB3 Mins Read
Ilustrasi BPJS Kesehatan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kisah memilukan datang dari Ajat (37), seorang pedagang es keliling yang harus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan serius. Dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari, ia justru dicoret dari daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan karena dinilai masuk kategori mampu.

Keputusan tersebut membuat Ajat kebingungan. Sebab, pendapatannya yang tak menentu nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga, apalagi membayar iuran BPJS secara mandiri setiap bulan.

Padahal, Ajat saat ini menjalani prosedur cuci darah rutin yang tidak bisa dihentikan. Terapi itu menjadi satu-satunya jalan untuk mempertahankan kesehatannya. Jika terputus, risiko komplikasi bisa mengancam keselamatannya.

“Tadi saya mau coba daftar lagi ke dinas sosial. Jawabannya sama seperti kemarin, tidak bisa karena sudah terdaftar sebagai peserta BPJS mandiri,” kata Ajat, dikutip dari Instagram @mediaindonesia, Jumat (13/2/2026).

Terpaksa Jadi Peserta Mandiri

Ajat mengaku tak memiliki pilihan lain selain mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS mandiri. Status itu membuatnya wajib membayar iuran secara rutin agar layanan cuci darah tetap bisa diakses.

Di sisi lain, penghasilannya sebagai pedagang es keliling sangat terbatas. Kondisi fisiknya yang harus menjalani terapi seumur hidup juga membatasi ruang geraknya untuk mencari nafkah lebih besar.

Upayanya untuk mengaktifkan kembali kepesertaan PBI ditolak karena namanya tercatat dalam kategori desil 6 pada pendataan kesejahteraan sosial. Artinya, secara administratif ia dianggap berada di kelompok masyarakat menengah ke atas.

Namun Ajat membantah penilaian tersebut. Ia menegaskan kondisi ekonominya jauh dari kategori mampu.

“Katanya tergolong menengah ke atas, padahal kenyataannya jauh banget. Jangankan kerja ke mana-mana, kerja saja cuma jualan,” ujarnya dengan nada lemah.

Persoalan Data dan Realitas Lapangan

Kasus yang dialami Ajat kembali menyoroti persoalan akurasi pendataan bantuan sosial. Perbedaan antara data administratif dan kondisi riil di lapangan kerap memunculkan polemik.

Program PBI sejatinya ditujukan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu agar tetap mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus membayar iuran. Namun, ketepatan sasaran masih menjadi tantangan dalam implementasinya.

Bagi Ajat, status dalam sistem pendataan terasa tak sejalan dengan kenyataan hidupnya sehari-hari. Sebagai kepala keluarga dengan penyakit kronis, ia memiliki keterbatasan fisik sekaligus beban ekonomi yang berat.

Harapan untuk Kebijakan Lebih Berpihak

Di tengah situasi sulit, Ajat hanya berharap ada kebijakan yang mempertimbangkan kondisi nyata masyarakat kecil. Baginya, akses terhadap layanan kesehatan bukan sekadar fasilitas administratif, melainkan kebutuhan mendasar untuk bertahan hidup.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan kategori desil, ada manusia dengan perjuangan nyata. Bagi Ajat, yang setiap hari berkeliling menjajakan es demi mencukupi kebutuhan keluarga, kepastian jaminan kesehatan adalah soal hidup dan mati.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

BPJS Kesehatan pbi penjual es viral
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Skandal Pancatera: Jual Narasi Kritis, Tapi ‘Pesta’ di Istana? Netizen Merasa Dikhianati!

Polemik Siswa SMP Nambal Lapangan: Antara Dugaan Eksploitasi & Budaya Gotong Royong!

gempa

Ribuan Gempa Susulan Masih Guncang Flores, Korban Jiwa Tembus 70 Orang

Dedi Mulyadi Beberkan PR Jabar di Usia 81 Tahun, dari Lapangan Kerja hingga Lingkungan

ilustrasi gempa

Bandung Kembali Digoyang Gempa Pagi Ini, BMKG Ungkap Pemicunya

Dinilai Kurang Empati, Ucapan Dedi Mulyadi ke Maba Unpad Keisha Soal ‘Tak Bisa Pilih Nasib’ Tuai Kritik

Terpopuler
  • Auto Resign Massal? Rahasia Gaji Pengupas Bawang Rp700 Ribu per Kg yang Bikin Heboh Indonesia!
  • Deretan Kode Redeem FF 19 Agustus 2026: Amankan Evolution Stone dan Skin Spesial Kemerdekaan!
  • Mengenal Susanah, Ibu Pengupas Bawang Asal Bogor yang Disebut Prabowo Diupah Rp700 Ribu per Kg
  • Kode Redeem ML 14 Agustus 2026 Terbaru, Ada Diamond dan Skin Gratis Hari Ini
  • Menembus Angka 75,90: Menguji Rekor IPM Jawa Barat di Tengah Bayang Ketimpangan
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.