bukamata.id – Pemerintah Kota Bandung menghadapi tantangan serius terkait kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan temuan mengkhawatirkan mengenai kondisi perairan di wilayahnya, di mana mayoritas aliran sungai di Kota Kembang disinyalir telah terkontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli).
Informasi tersebut didapatkan Farhan usai menerima paparan hasil kajian terbaru mengenai kondisi perairan perkotaan.
“Jadi sebuah NGO kemarin sore menyampaikan laporan bahwa survei mereka di beberapa sungai di Kota Bandung, pencemaran bakteri E. coli-nya sudah mencapai hampir 90%. Nanti saya akan konfirmasi dulu,” kata Farhan di Hotel Grandia Bandung, Rabu (4/11/2026).
Tingginya tingkat pencemaran ini berbanding lurus dengan persoalan pembuangan limbah domestik masyarakat. Berdasarkan data per 2023, jumlah hunian di Kota Bandung mencapai 519.288 unit. Dari total angka tersebut, sekitar 27 persen atau setara 140.207 rumah tangga ternyata belum melengkapi hunian mereka dengan penampungan kotoran (septic tank) yang memadai, sehingga limbah MCK dialirkan langsung ke badan sungai.
Farhan menggarisbawahi bahwa persoalan utama saat ini bukan lagi pada pemahaman fasilitas dasar, melainkan pada infrastruktur pengolahan akhirnya.
“Kalau berdasarkan data laci RW, di Bandung itu sudah tidak ada rumah tanpa toilet atau permukiman tanpa toilet umum, semuanya sudah ada. Tapi 27 persen toiletnya itu pipanya masih ke terjun bebas,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya penghentian perilaku buang air sembarangan sebenarnya sudah terbentuk dengan baik.
“Kesadaran ODF (open defecation free)-nya sudah. Artinya bahwa seluruh warga Bandung sudah tahu apa itu ODF dan bagaimana bahayanya. Tapi masih ada 27 persen rumah yang belum membangun septic tank,” tambahnya.
Fenomena tercemarnya sungai oleh bakteri E. coli ini tak sekadar persoalan kebersihan lingkungan, namun mengancam masa depan generasi muda. Bakteri tersebut menjadi pemicu utama gangguan pencernaan pada balita yang berujung pada risiko keterlambatan tumbuh kembang (stunting).
“Bakteri E. coli menyebabkan diare. Diare di usia bayi di bawah 2 bulan akan menimbulkan resiko terjadinya stunting, penurunan berat badan, penurunan daya tahan tubuh sehingga nanti ujung-ujungnya bisa TBC,” katanya.
Farhan menegaskan, mata rantai masalah sanitasi dan kesehatan anak ini harus segera diputus melalui pembenahan tata kelola lingkungan pemukiman secara menyeluruh.
“Kalau sudah TBC, maka dia akan terjebak dalam stunting. Itu teh lingkaran setan namanya, the vicious circle ini yang terus terjadi, maka bakteri E. coli, ODF dan lain-lain itu bagian dari upaya kita menangani sanitasi lingkungan,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News









