Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Khawatir Asap Karhutla Sampai Jabar, Kelompok Rentan Dihimbau Waspada

Senin, 19 Oktober 2026 15:37 WIB

Viral Parkir Alun-alun Bandung Rp15 Ribu, Warganet Keluhkan Dugaan Getok Tarif

Senin, 19 Oktober 2026 15:31 WIB

Dulu Tidur di Kolong Jembatan, Kini Ditakuti Jendral! Kisah Akhir Kamaruddin Simanjuntak yang Bikin Haru

Senin, 19 Oktober 2026 14:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Khawatir Asap Karhutla Sampai Jabar, Kelompok Rentan Dihimbau Waspada
  • Viral Parkir Alun-alun Bandung Rp15 Ribu, Warganet Keluhkan Dugaan Getok Tarif
  • Dulu Tidur di Kolong Jembatan, Kini Ditakuti Jendral! Kisah Akhir Kamaruddin Simanjuntak yang Bikin Haru
  • Resah Aksi Matel di Sukabumi: Motor Lunas Dicegat, Telat Bayar Dimintai Uang Tebusan
  • Bandung Ngelekeb dan Berpolusi, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat
  • Menang Tipis atas Persik, Persib Hanya Berjarak 2 Poin dari Puncak Klasemen
  • Dari ‘Si Euweuh Kacape’ Hingga ‘Iron Man’, Eliano Reijnders Makin Vital bagi Persib Bandung
  • Kisah Pilu Remaja Tasikmalaya, Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung Usai Ditinggal Ibu
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 19 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Diprotes Ulama, Penggantian Nama RSUD Al Ihsan Dinilai Lukai Spiritualitas Islam

By Aga GustianaSabtu, 5 Juli 2025 07:09 WIB4 Mins Read
RSUD Al Ihsan
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi mengganti nama RSUD Al Ihsan menjadi RSUD Welas Asih. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Keputusan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk mengganti nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al Ihsan Bandung menjadi RSUD Welas Asih menuai penolakan keras dari berbagai pihak, termasuk dari Aliansi Pergerakan Islam Jawa Barat (API Jabar).

Dalam pernyataan resminya pada Jumat (4/7/2025), Ketua API Jabar, Ustaz Asep Syaripuddin atau yang akrab disapa Kang UAS, menyatakan bahwa perubahan nama tersebut mengabaikan nilai-nilai historis dan spiritual yang melekat pada RSUD Al Ihsan.

“Kami sebagai bagian dari masyarakat Jawa Barat, menolak pergantian nama tersebut. Karena sejarah pendirian RS Al Ihsan adalah buah karya para ulama dan tokoh masyarakat yang berupaya membangun sinergi umat Islam di Jawa Barat,” tegas Kang UAS.

Warisan Para Ulama yang Terlupakan

RSUD Al Ihsan memiliki akar sejarah kuat yang tak bisa dilepaskan dari peran tokoh-tokoh Islam Jawa Barat. Yayasan Al Ihsan didirikan pada 15 Januari 1993 oleh enam figur penting, di antaranya Drs. H. M Ukman Sutaryan dan KH Ahmad Syahid. Pembangunan rumah sakit dimulai pada 11 Maret 1993, bertepatan dengan 17 Ramadan 1414 H, dan resmi beroperasi pada 12 November 1995.

Awalnya dikelola oleh yayasan tersebut hingga 2004, RS Al Ihsan kemudian diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan diresmikan menjadi RSUD melalui Perda No. 23 Tahun 2008.

Baca Juga:  Gaya Kepemimpinan Dedi Mulyadi Dinilai Otokratik, Bisa Jadi 'Pedang Bermata Dua'

“Meskipun nama resminya RSUD Al Ihsan, jangan dilupakan akar sejarah dan nilai-nilai spiritual yang melandasi pendiriannya,” ujar Kang UAS.

Rebranding yang Dinilai Kontra Produktif

Gubernur Dedi Mulyadi menyebut perubahan nama menjadi RSUD Welas Asih sebagai upaya “rebranding” agar lebih dekat dengan budaya lokal. Namun, Kang UAS justru menilai langkah tersebut berpotensi memecah belah dan mengaburkan identitas keislaman yang melekat pada rumah sakit tersebut.

“Alasan pergantian nama demi ‘rebranding’ justru terkesan ingin mengadu domba antara Islam dan Sunda. Padahal istilah Al Ihsan memiliki makna spiritual yang dalam. Dalam Islam, Ihsan itu maknanya adalah kebaikan yang berlandaskan keikhlasan, keseriusan, dan totalitas dalam pengabdian. Maka menghapus nama Al-Ihsan adalah penghilangan nilai spiritual dan sejarah,” ungkapnya.

API Jabar juga mengingatkan bahwa RSUD Al Ihsan selama ini dikenal aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan seperti khitanan massal, pengobatan gratis, hingga bantuan bencana.

Isu Lama Kembali Muncul

Kang UAS juga menyentil masa lalu Gubernur Dedi Mulyadi saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Ia menyebut kebijakan-kebijakan saat itu sempat menimbulkan kontroversi, termasuk pembangunan patung-patung yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Baca Juga:  Waspada Provokasi! Pesan Menohok Dedi Mulyadi untuk Bobotoh Usai Menang Drama Lawan Persija

“Meskipun saat itu Purwakarta dikenal sebagai ‘kota tasbih’ atau kota santri, namun kebijakan-kebijakan pembangunan yang dibuat justru dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam, seperti pembangunan patung-patung dengan dalih seni dan budaya, yang dikhawatirkan dapat membuka pintu ke arah kesyirikan,” tegasnya.

“Jangan main-main dengan wilayah yang sensitif ini. Kami, dari Aliansi Masyarakat Jawa Barat, bersama para ulama dan tokoh masyarakat, akan terus menyuarakan penolakan ini,” tambahnya.

Menjaga Identitas Islam-Sunda

Menutup pernyataannya, Kang UAS menegaskan pentingnya menjaga harmoni antara Islam dan budaya Sunda yang selama ini menyatu dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat.

“Kami bangga menjadi Muslim, kami bangga menjadi orang Sunda. Kami akan menjaga tanah Pasundan dari perilaku dan kebijakan yang mencederai ajaran Islam yang selama ini dianut secara teguh oleh masyarakat Sunda,” tandasnya.

Dituding Anti-Islam

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, merespons sorotan publik terkait perubahan nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al Ihsan di Kabupaten Bandung menjadi RS Welas Asih. Tak hanya dikritik, Dedi bahkan disebut anti-Islam oleh sejumlah pihak yang mayoritas berasal dari luar Jawa Barat.

Dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71 pada Jumat (4/7/2025), Dedi menyebut bahwa sebagian besar kritik justru datang dari mereka yang tinggal di Jakarta.

Baca Juga:  Tiga Warga Meninggal dalam Acara Resepsi Putranya, Dedi Mulyadi Minta Maaf dan Beri Santunan

“Hari ini yang paling banyak dibicarakan oleh mereka dan dikritisi, bahkan saya dianggap sebagai orang yang anti-Islam. Ini menarik banget, dan itu adalah tentang perubahan nama rumah sakit dari Al Ihsan menjadi Welas Asih,” jelasnya.

Dedi membeberkan latar belakang hukum yang melandasi perubahan nama RS tersebut. Ia mengungkap bahwa rumah sakit itu sejatinya merupakan barang bukti dalam kasus korupsi yang melibatkan Yayasan Al Ihsan dan telah diputus oleh Mahkamah Agung pada 2023.

“Bahwa rumah sakit itu merupakan barang bukti yang dikembalikan berdasarkan putusan Mahkamah Agung tahun 2023. Barang bukti itu merupakan sitaan pengadilan atas kasus korupsi Yayasan Al Ihsan,” tutur Dedi.

Ia pun mempertanyakan sikap para pengkritik yang diam saat kasus korupsi mencoreng nama yayasan tersebut.

“Saya sebagai orang awam tentunya sangat bertanya, pertanyaannya adalah kenapa saat nama Al Ihsan yang sangat sakral itu digunakan tindak pidana korupsi, lantas para aktivis atau orang-orang yang sangat mencintai agama itu kok diam saja waktu itu?” tandasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Khawatir Asap Karhutla Sampai Jabar, Kelompok Rentan Dihimbau Waspada

Viral Parkir Alun-alun Bandung Rp15 Ribu, Warganet Keluhkan Dugaan Getok Tarif

Dulu Tidur di Kolong Jembatan, Kini Ditakuti Jendral! Kisah Akhir Kamaruddin Simanjuntak yang Bikin Haru

Resah Aksi Matel di Sukabumi: Motor Lunas Dicegat, Telat Bayar Dimintai Uang Tebusan

Bandung Ngelekeb dan Berpolusi, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat

Pelecehan Seksual

Kisah Pilu Remaja Tasikmalaya, Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung Usai Ditinggal Ibu

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Siap-siap Cair! Panduan Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Oktober-Desember 2026 Pakai NIK KTP
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.