Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Dulu Tidur di Kolong Jembatan, Kini Ditakuti Jendral! Kisah Akhir Kamaruddin Simanjuntak yang Bikin Haru

Senin, 19 Oktober 2026 14:02 WIB

Resah Aksi Matel di Sukabumi: Motor Lunas Dicegat, Telat Bayar Dimintai Uang Tebusan

Senin, 19 Oktober 2026 13:19 WIB

Bandung Ngelekeb dan Berpolusi, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat

Senin, 19 Oktober 2026 13:02 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Dulu Tidur di Kolong Jembatan, Kini Ditakuti Jendral! Kisah Akhir Kamaruddin Simanjuntak yang Bikin Haru
  • Resah Aksi Matel di Sukabumi: Motor Lunas Dicegat, Telat Bayar Dimintai Uang Tebusan
  • Bandung Ngelekeb dan Berpolusi, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat
  • Menang Tipis atas Persik, Persib Hanya Berjarak 2 Poin dari Puncak Klasemen
  • Dari ‘Si Euweuh Kacape’ Hingga ‘Iron Man’, Eliano Reijnders Makin Vital bagi Persib Bandung
  • Kisah Pilu Remaja Tasikmalaya, Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung Usai Ditinggal Ibu
  • Miris! Dua Anak Diduga Gunting Alat Kelamin Balita 3 Tahun di Karawang
  • Tebus Luka Asian Games, Fajar/Fikri Akhirnya Juara Denmark Open
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Senin, 19 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Bandung Ngelekeb dan Berpolusi, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat

By SusanaSenin, 19 Oktober 2026 13:02 WIB2 Mins Read
Kualitas Udara Kota Bandung Mendekati Kategori Tidak Sehat. (Foto: bandung.go.id)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Kualitas udara di Kota Bandung masuk kategori Tidak Sehat pada Senin (19/10/2026) pagi. Berdasarkan data pemantauan pukul 07.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Bandung menyentuh angka 134.

Pencemar tertinggi berasal dari partikel debu halus PM2.5 dengan nilai 134, yang masuk dalam rentang kategori Tidak Sehat (101–200).

Data Kualitas Udara Bandung Hari Ini

Selain PM2.5, pemantauan juga mencatat sejumlah parameter pencemar lain. Berikut rinciannya:

ParameterNilai ISPUKeterangan
PM2.5 (debu halus)134Tidak Sehat
PM10 (debu kasar)93Sedang
Karbon Monoksida (CO)45—
Hidrokarbon (HC)44—
Nitrogen Dioksida (NO₂)25—
Sulfur Dioksida (SO₂)22—
Ozon (O₃)7—

Data pukul 07.00 WIB, Senin (19/10/2026)

Baca Juga:  Kualitas Udara Bandung Memburuk Imbas Abu Vulkanik, Warga Wajib Pakai Masker

Penyebab Polusi Udara di Bandung

Peningkatan polusi udara pagi ini diduga dipicu kombinasi beberapa faktor, yakni lonjakan volume kendaraan dan kemacetan, aktivitas industri, serta pembakaran sampah.

Pada tingkat ini, kualitas udara dinilai dapat merugikan kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan.

Kelompok Sensitif Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Masyarakat yang termasuk kelompok sensitif, terutama penderita asma dan penyakit jantung, diimbau mengurangi atau menghindari aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.

Baca Juga:  Kualitas Udara Bandung Memburuk Imbas Abu Vulkanik, Warga Wajib Pakai Masker

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas di Bandung Raya

Buruknya kualitas udara terjadi bersamaan dengan cuaca terik yang melanda Bandung Raya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung menjelaskan sejumlah faktor yang memicu naiknya suhu udara.

Ketua Tim Meteorologi dan Klimatologi BMKG Kelas I Bandung, Muhamad Iid Mujtahiddin, menyebut salah satu penyebabnya adalah posisi gerak semu matahari yang berada di atas atau dekat wilayah Jawa pada periode September hingga Oktober.

“Pada periode tertentu, khususnya memasuki September hingga Oktober dan saat peralihan musim, posisi gerak semu matahari berada tepat di atas atau dekat dengan wilayah Jawa atau Ekuator,” ungkapnya.

Baca Juga:  Kualitas Udara Bandung Memburuk Imbas Abu Vulkanik, Warga Wajib Pakai Masker

Posisi tersebut membuat radiasi matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih maksimal.

3 Faktor Lain Pemicu Cuaca Panas

Selain posisi matahari, BMKG menyebut ada tiga faktor pendukung lainnya:

1. Minimnya tutupan awan
Kurangnya pertumbuhan awan konvektif pada siang hari membuat sinar matahari dan radiasi ultraviolet (UV) langsung menembus permukaan bumi tanpa penghalang.

2. Kelembapan udara bervariasi
Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan yang naik turun memicu sensasi gerah atau ngelekeb. Kondisi ini wajar terjadi menjelang pancaroba atau puncak musim kemarau.

3. Tren kenaikan suhu jangka panjang
Secara statistik iklim, rata-rata suhu udara tahunan di Bandung menunjukkan tren kenaikan bertahap. Hal ini dipengaruhi dinamika iklim global serta tingginya emisi kendaraan dan permukiman di kawasan perkotaan.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

ISPU Bandung Kualitas Udara Bandung polusi udara Bandung udara tidak sehat
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Dulu Tidur di Kolong Jembatan, Kini Ditakuti Jendral! Kisah Akhir Kamaruddin Simanjuntak yang Bikin Haru

Resah Aksi Matel di Sukabumi: Motor Lunas Dicegat, Telat Bayar Dimintai Uang Tebusan

Pelecehan Seksual

Kisah Pilu Remaja Tasikmalaya, Jadi Korban Pencabulan Ayah Kandung Usai Ditinggal Ibu

Miris! Dua Anak Diduga Gunting Alat Kelamin Balita 3 Tahun di Karawang

Pabrik Obat Keras Ilegal di Kopo Bandung Digerebek, Produksi Ditaksir 256 Juta Butir

ASN

Pemkot Bandung Perketat Pengawasan Etika ASN Usai Kasus Asusila

Terpopuler
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Siap-siap Cair! Panduan Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 4 Oktober-Desember 2026 Pakai NIK KTP
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.