bukamata.id – Kualitas udara di Kota Bandung masuk kategori Tidak Sehat pada Senin (19/10/2026) pagi. Berdasarkan data pemantauan pukul 07.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Bandung menyentuh angka 134.
Pencemar tertinggi berasal dari partikel debu halus PM2.5 dengan nilai 134, yang masuk dalam rentang kategori Tidak Sehat (101–200).
Data Kualitas Udara Bandung Hari Ini
Selain PM2.5, pemantauan juga mencatat sejumlah parameter pencemar lain. Berikut rinciannya:
| Parameter | Nilai ISPU | Keterangan |
|---|---|---|
| PM2.5 (debu halus) | 134 | Tidak Sehat |
| PM10 (debu kasar) | 93 | Sedang |
| Karbon Monoksida (CO) | 45 | — |
| Hidrokarbon (HC) | 44 | — |
| Nitrogen Dioksida (NO₂) | 25 | — |
| Sulfur Dioksida (SO₂) | 22 | — |
| Ozon (O₃) | 7 | — |
Data pukul 07.00 WIB, Senin (19/10/2026)
Penyebab Polusi Udara di Bandung
Peningkatan polusi udara pagi ini diduga dipicu kombinasi beberapa faktor, yakni lonjakan volume kendaraan dan kemacetan, aktivitas industri, serta pembakaran sampah.
Pada tingkat ini, kualitas udara dinilai dapat merugikan kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Kelompok Sensitif Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Masyarakat yang termasuk kelompok sensitif, terutama penderita asma dan penyakit jantung, diimbau mengurangi atau menghindari aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk.
BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas di Bandung Raya
Buruknya kualitas udara terjadi bersamaan dengan cuaca terik yang melanda Bandung Raya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung menjelaskan sejumlah faktor yang memicu naiknya suhu udara.
Ketua Tim Meteorologi dan Klimatologi BMKG Kelas I Bandung, Muhamad Iid Mujtahiddin, menyebut salah satu penyebabnya adalah posisi gerak semu matahari yang berada di atas atau dekat wilayah Jawa pada periode September hingga Oktober.
“Pada periode tertentu, khususnya memasuki September hingga Oktober dan saat peralihan musim, posisi gerak semu matahari berada tepat di atas atau dekat dengan wilayah Jawa atau Ekuator,” ungkapnya.
Posisi tersebut membuat radiasi matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih maksimal.
3 Faktor Lain Pemicu Cuaca Panas
Selain posisi matahari, BMKG menyebut ada tiga faktor pendukung lainnya:
1. Minimnya tutupan awan
Kurangnya pertumbuhan awan konvektif pada siang hari membuat sinar matahari dan radiasi ultraviolet (UV) langsung menembus permukaan bumi tanpa penghalang.
2. Kelembapan udara bervariasi
Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan yang naik turun memicu sensasi gerah atau ngelekeb. Kondisi ini wajar terjadi menjelang pancaroba atau puncak musim kemarau.
3. Tren kenaikan suhu jangka panjang
Secara statistik iklim, rata-rata suhu udara tahunan di Bandung menunjukkan tren kenaikan bertahap. Hal ini dipengaruhi dinamika iklim global serta tingginya emisi kendaraan dan permukiman di kawasan perkotaan.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











