Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Harga Emas 14 Oktober 2026 Merosot, Antam dan Galeri24 Turun! Saatnya Borong?

Rabu, 14 Oktober 2026 09:52 WIB

Persib Vs The Cong Viettel: Igor Tolic Pantau 5 Pemain, Siapa yang Siap Tampil?

Rabu, 14 Oktober 2026 08:44 WIB

Catat! 5 Tempat Kuliner di Bandung Ini Punya Menu Unik, Cocok Buat Wisata Kuliner

Rabu, 14 Oktober 2026 05:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Harga Emas 14 Oktober 2026 Merosot, Antam dan Galeri24 Turun! Saatnya Borong?
  • Persib Vs The Cong Viettel: Igor Tolic Pantau 5 Pemain, Siapa yang Siap Tampil?
  • Catat! 5 Tempat Kuliner di Bandung Ini Punya Menu Unik, Cocok Buat Wisata Kuliner
  • Mau Nonton Persib Vs Cong Viettel? Catat Lokasi dan Jam Penukaran Tiketnya!
  • Saldo KKS Masih Kosong? Ini Cara Cek Status Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026
  • Menggugah Selera! Ini 5 Spot Kuliner Hits di Cimahi yang Bikin Ketagihan
  • Destinasi Wisata Pilihan di Sekitar Stasiun Cimahi untuk Liburan Singkat
  • Mentereng! Ini Catatan Statistik John Herdman Selama Nahkodai Timnas Indonesia
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Rabu, 14 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Melampaui Viral: Senyum Hasna-Hasni dan PR Besar Menciptakan Dunia Kerja yang Adil

By Aga GustianaSenin, 9 Maret 2026 09:00 WIB5 Mins Read
Melampaui Viral, Senyum Hasna-Hasni dan PR Menciptakan Dunia kerja yang Adil. (Foto: bukamata.id/AI)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Lantai gerai Matahari Department Store di Festival Citylink dan Bandung Indah Plaza (BIP) belakangan ini terasa lebih hangat. Bukan karena dekorasi menjelang Lebaran, melainkan karena kehadiran dua sosok yang sedang menjadi buah bibir: Hasna Alifah Salsabila dan Hasni Alifah Salsabila. Si kembar rungu ini mendadak viral setelah membagikan keseharian mereka bekerja sebagai pramuniaga melalui akun TikTok.

Dengan bahasa isyarat dan senyum yang tulus, mereka menyapa dunia. “Kami mau bilang terima kasih atas dukungannya. Semoga kita bisa membuat motivasi untuk semua tunarungu yang ada di Indonesia untuk terus semangat,” ungkap Hasna dan Hasni dalam unggahan mereka.

Langkah Matahari menerima mereka bukan sekadar aksi spontan. Melalui program “Teman Difabel” yang digulirkan sejak 2023, perusahaan ritel ini menyediakan ekosistem pendukung, mulai dari buddy system hingga atribut khusus untuk memudahkan komunikasi dengan pelanggan. Dukungan publik pun mengalir deras, bahkan hingga memicu gerakan belanja sebagai bentuk apresiasi terhadap inklusivitas tersebut.

Apresiasi dari Lembur Pakuan

Viralnya semangat kemandirian si kembar ini akhirnya sampai ke telinga orang nomor satu di Jawa Barat. Melansir unggahan kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Sabtu (7/3/2026), Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengundang Hasna, Hasni, beserta kedua orang tua mereka ke kediamannya di Lembur Pakuan.

Dalam pertemuan akrab tersebut, sang ibu menceritakan awal mula video viral itu tercipta. Ternyata, semuanya bermula dari rasa antusiasme yang tulus. “Anak ibu warung itu sahabat mereka sama-sama tunarungu. Terus mereka tuh mau main, terus pas mau main ibunya kan emang suka videoin mereka, terus pas divideoin dia excited gitu bilang ‘aku udah kerja’,” jelas sang ibu di hadapan Gubernur.

Baca Juga:  DPRD Jabar Nilai Anggaran Infrastruktur Rp4 Triliun Wajar, Soroti Gaya Kepemimpinan Gubernur yang Berani

Perjalanan kemandirian Hasna dan Hasni pun tidak instan. Sang ibu membeberkan riwayat pendidikan mereka yang sempat mengenyam sekolah umum untuk melatih mental sosial. “Dari TK sampai SMP di sekolah SLB Primabakti Mulia Cimahi. Nah, untuk jenjang berikutnya masuk ke umum. Karena dari pihak sekolah silakan ke jenjang berikutnya boleh ke umum biar mereka bisa bersosialisasi,” tambahnya.

Mendengar perjuangan tersebut, Dedi Mulyadi menyampaikan rasa bangganya dan memberikan uang apresiasi sebesar Rp10 juta untuk ditabung. Bagi Gubernur, si kembar adalah representasi ideal perempuan Sunda yang tangguh. “Pokoknya saya sebagai Gubernur Jawa Barat bangga punya rakyat seperti ini, mandiri, bervisi, cantik. Ini perempuan Sunda kayak gini nih, pokoknya semangat kerja,” tandas Dedi Mulyadi.

Analisis Pakar: Antara Paradigma dan Sistem

Namun, di balik keharuan dan apresiasi tersebut, muncul pertanyaan besar bagi ekosistem ketenagakerjaan kita secara luas. Kristian Widya Wicaksono, Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), menilai fenomena ini harus dibedah secara lebih dalam agar tidak berhenti sebagai tren sesaat.

Kristian memulai dengan penekanan pada terminologi. “Saya lebih cenderung menggunakan istilah people with different ability (orang dengan kemampuan berbeda) karena pada dasarnya memang kemampuan setiap manusia berbeda-beda. Pengakuan seperti ini jauh lebih manusiawi dan membangun upaya inklusi yang lebih nyata lagi. Sedangkan istilah disabilitas artinya tidak bisa berbuat, yang jelas mendiskreditkan kemampuan mereka,” tegas Kristian kepada bukamata.id, Minggu (8/3/2026).

Baca Juga:  Guncangan di Pemprov Jabar: Wagub Kecewa, Gubernur Dukung Sekda

Terkait aksi cepat Gubernur dan viralnya Hasna-Hasni, Kristian mengingatkan untuk tidak melupakan pola sistemik. “Fenomena viral penerimaan kerja yang menimang haru penting sebagai bukti bahwa peluang kerja inklusif bisa diwujudkan, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan keberhasilan sistem penyerapan tenaga kerja. Anekdot menunjukkan kemungkinan dan kekuatan advokasi publik, sedangkan ukuran keberhasilan sistemik memerlukan indikator kuantitatif. Kasus Hasna–Hasni lebih tepat dilihat sebagai katalis sosio-politik daripada bukti keberhasilan secara sistemik,” jelasnya.

Kepatuhan Pengusaha dan Fungsi ULD

Indonesia memiliki UU Penyandang Disabilitas dengan kuota 1% bagi swasta dan 2% bagi pemerintah/BUMD. Namun, Kristian menyoroti persoalan klasik penegakan (enforcement) versus kepatuhan (compliance).

“Efektivitas reward and punishment bergantung pada kapasitas monitoring, sanksi administratif yang jelas, dan insentif yang terukur. Situasi empiris menunjukkan jurang antara amanat hukum dan praktik lapangan sebab masih banyak perusahaan belum melaporkan pemenuhan kuota atau hanya melakukannya untuk persyaratan administratif tanpa perubahan sistem HR,” papar Kristian.

Ia juga mengkritisi performa Unit Layanan Disabilitas (ULD) ketenagakerjaan yang sering kali terjebak dalam formalitas. “Analisis implementasi menunjukkan dua jebakan utama: ULD dijalankan sebatas pemenuhan administratif tanpa kapasitas teknis untuk melakukan job carving atau advokasi HR internal perusahaan, dan keterbatasan anggaran sehingga ULD lebih bersifat ‘pusat informasi’ ketimbang agen perubahan.”

Baca Juga:  Proyek AI Data Center Rp3,5 Triliun di Jatiluhur Purwakarta Disetop, Sedot Air Setara 6 Desa Sebulan!

Menagih Jaminan Jenjang Karier

Lebih jauh, Kristian menekankan bahwa inklusivitas tidak boleh berhenti di gerbang rekrutmen. Pekerja dengan kemampuan berbeda berisiko terjebak di posisi level bawah tanpa kejelasan promosi.

“Memindahkan fokus kebijakan dari sekadar ‘penerimaan kerja’ ke jaminan jenjang karier mensyaratkan intervensi kebijakan yang bersifat sistem—bukan hanya penempatan awal. Tanpa kebijakan internal perusahaan yang menginternalisasi target inklusi seperti career-path mapping, job redesign, dan pengukuran produktivitas yang adil, maka mereka rentan terjebak di level entry,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa sektor ritel memang lebih fleksibel, namun sektor lain seperti perbankan atau teknologi masih memiliki hambatan struktural seperti desain pekerjaan yang kaku dan infrastruktur digital yang belum aksesibel. “Implementasi lintas-sektor memerlukan pendekatan diferensiasi; satu ukuran tidak cocok untuk semua,” tutup Kristian.

Kesimpulan

Kisah Hasna dan Hasni, serta perhatian dari Gubernur Dedi Mulyadi, adalah kemenangan kecil yang patut dirayakan. Namun, senyum di gerai Matahari itu adalah alarm bagi negara untuk segera membenahi sistem monitoring, memperkuat ULD, dan meruntuhkan hambatan struktural di berbagai sektor industri lainnya. Inklusi sejati adalah ketika kemandirian seperti yang dimiliki Hasna-Hasni bukan lagi dianggap sebagai “keajaiban” yang viral, melainkan standar profesionalisme yang merata di seluruh tanah air.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Dedi Mulyadi HL
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Bansos

Saldo KKS Masih Kosong? Ini Cara Cek Status Bansos PKH dan BPNT Oktober 2026

PMI Asal Bandung Barat Diduga Disekap di Dubai, Keluarga Menanti Kabar

Warga Keluhkan Lagi Kebisingan, Lapangan Padel di Surya Sumantri Bakal Diperiksa

Segera cair bansos KLJ Agustus 2025,

BSU Oktober 2026 Rp900 Ribu Belum Pasti Cair, Ini Penjelasan Kemnaker

Satu Mahasiswa Di-DO! Telkom University Jatuhkan Sanksi ke 4 Pelaku Perundungan Asrama

Dugaan Bullying di Kuningan, Siswa SMP Dilarikan ke RS Usai Telan Cairan Karbol

Terpopuler
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Humas Era Digital Tak Cukup Viral! Mahasiswa UIN Bandung Dibekali Strategi Algoritma hingga Etika
  • bsu.kemnaker.go.id untuk mengecek penerima BSU 2025 secara resmi dari Kemnaker.
    BLT Kesra 2026 Kapan Cair? Cek Update Bantuan Sosial Akhir Tahun dan Cara Cek NIK Kemensos
  • Terbongkar! Pengakuan Jujur Anggun C Sasmi Soal Paspor Prancis yang Selama Ini Disembunyikan
  • Ilustrasi video syur
    Viral Video Syur Perempuan Berseragam Poltekkes Bandung, Begini Kata Kemenkes
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.