Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Bantuan Sosial PKH dan BPNT Cair Oktober 2026? Ini Langkah Mudah Cek Saldo KKS dan Status Penerima

Minggu, 11 Oktober 2026 06:00 WIB
Sudirman Street Food

Rekomendasi 10 Tempat Wisata Kuliner Malam Bandung yang Pas Buat Nongkrong Akhir Pekan

Minggu, 11 Oktober 2026 02:00 WIB

Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan

Minggu, 11 Oktober 2026 01:00 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Bantuan Sosial PKH dan BPNT Cair Oktober 2026? Ini Langkah Mudah Cek Saldo KKS dan Status Penerima
  • Rekomendasi 10 Tempat Wisata Kuliner Malam Bandung yang Pas Buat Nongkrong Akhir Pekan
  • Rekomendasi 15 Tempat Wisata Bandung Terpopuler untuk Mengisi Liburan Akhir Pekan
  • Aksi Mbappe ke Kelab Malam saat Cedera Bikin Fans Madrid Geram, Respon Menohok Mourinho Jadi Sorotan
  • Jadwal Persib vs Dewa United: Kebugaran Thom Haye dkk Jadi Taruhan!
  • Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas
  • Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian
  • Bukan Ratu Biasa! Inilah Sosok Suthida, Permaisuri Thailand Pemegang Kendali Jet Tempur
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Minggu, 11 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Gara-gara Blunder Iklan Sensitif, Starbucks Tutup Seluruh Gerai di Negara Ini

By Aga GustianaKamis, 18 Juni 2026 09:23 WIB4 Mins Read
Starbucks tutup seluruh gerai di Korea Selatan. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Sebuah langkah radikal yang belum pernah terjadi sebelumnya diambil oleh raksasa kopi Starbucks di Korea Selatan. Demi menebus kesalahan fatal dalam strategi pemasarannya, manajemen memutuskan untuk menggembok sementara seluruh jaringan kedai mereka di penjuru negeri. Penutupan serentak ini dilakukan bukan untuk renovasi, melainkan demi mengirim belasan ribu karyawannya kembali ke kelas untuk belajar sejarah nasional.

Aksi ekstrem yang dijadwalkan pada 22 Juni pukul 15.00 waktu setempat ini bakal melumpuhkan operasional lebih dari 2.000 gerai. Imbas dari kebijakan “libur massal” ini, Starbucks Korea harus rela menelan kerugian pendapatan instan mencapai 2,1 billion won atau berkisar Rp24,92 miliar (sekitar US$1,4 juta). Satu-satunya tempat yang dikecualikan dari penutupan ini hanyalah gerai-gerai yang berada di dalam bandara internasional.

Langkah darurat ini menyusul gelombang boikot berskala nasional setelah perusahaan dituduh menodai memori kelam salah satu tragedi berdarah paling sensitif di Korea Selatan.

Kronologi Promo “Tank Day” yang Memicu Amarah Publik

Api kontroversi ini pertama kali menyala pada 18 Mei lalu. Tanpa kalkulasi matang, tim pemasaran Starbucks Korea meluncurkan kampanye diskon untuk lini produk wadah minuman bertema “Tank”. Sialnya, promo tersebut dirilis tepat pada hari peringatan nasional Tragedi Pembantaian Gwangju 1980—sebuah peristiwa kelam di mana militer menembaki warga sipil yang menuntut demokrasi.

Masyarakat menilai tajuk “Tank Day” di tanggal sakral tersebut merupakan bentuk penghinaan langsung yang sangat tidak sensitif. Respons publik pun langsung meledak:

  • Pelanggan setia beramai-ramai menghancurkan gelas dan tumbler Starbucks di area publik.
  • Video aksi protes massal viral di berbagai platform media sosial.
  • Instansi pemerintah dan kementerian langsung mengambil sikap tegas dengan memutuskan seluruh kontrak kerja sama dengan waralaba kopi tersebut.

Akibat sentimen negatif yang bergulir bak bola salju, performa bisnis perusahaan langsung terjun bebas. Lembaga riset pasar IGAWorks mencatat volume transaksi Starbucks sempat anjlok hingga 26% pada pekan pertama krisis. Meski sempat merangkak naik sedikit di awal Juni, grafik penjualan mereka terpaku di angka 25% lebih rendah dibandingkan hari-hari normal.

Ketika AI Bikin Blunder dan Bos Senior Malas Baca Email

Hasil investigasi internal perusahaan mengungkap fakta yang cukup memalukan. Kampanye iklan ofensif tersebut rupanya lahir dari ide dan rekomendasi Kecerdasan Buatan (AI) yang digunakan oleh tim kreatif marketing.

Keadaan kian diperparah oleh kelalaian birokrasi internal. Beberapa manajer tingkat atas yang menandatangani persetujuan iklan tersebut diketahui sama sekali tidak memeriksa lampiran email yang memuat visualisasi dan detail materi promosi.

Selain istilah “Tank Day”, iklan tersebut juga menyisipkan jargon “hantaman di atas meja”. Di Korea Selatan, frasa ini merupakan trauma kolektif yang mengingatkan publik pada kasus penyiksaan mahasiswa pro-demokrasi, Park Jong-chul, pada tahun 1987. Kala itu, rezim diktator berbohong kepada pers bahwa korban tewas mendadak karena jantungan akibat terkejut saat polisi memukul meja interogasi.

Bos Besar Turun Tangan hingga Masuk Ranah Hukum Pidana

Sadar bahwa reputasi taruhannya, pemilik lisensi Starbucks Korea sekaligus miliarder Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, langsung mengambil tindakan represif. Direktur Utama Starbucks Korea dipecat seketika pada hari kejadian.

Chung juga menggelar konferensi pers darurat yang disiarkan televisi nasional, di mana ia melakukan prosesi membungkuk tiga kali sebagai simbol permohonan maaf paling dalam ala masyarakat Korea. Tak main-main, Chung beserta jajaran petinggi eksekutif Shinsegae dijadwalkan ikut duduk di bangku kelas pelatihan sejarah tersebut pada 24 Juni mendatang.

Pernyataan Resmi Markas Besar: Kantor pusat Starbucks global di Seattle, AS, juga telah mengirimkan surat penyesalan resmi kepada Yayasan 18 Mei yang mewakili keluarga korban Gwangju.

Kendati manajemen mengklaim insiden ini murni akibat kelalaian teknis tanpa unsur kesengajaan, kasus ini sudah telanjur bergeser ke ranah hukum. Kepolisian Seoul mengonfirmasi bahwa mereka telah mendaftarkan Chung Yong-jin dan mantan direktur utama sebagai tersangka dalam penyelidikan pidana yang tengah berjalan.

Hingga saat ini, memori Pemberontakan Gwangju tetap menjadi garis demarkasi ideologi yang sangat sensitif di Korea Selatan. Tindakan Starbucks yang menabrak batas sensitivitas sejarah ini menjadi pelajaran mahal bagi korporasi global tentang pentingnya literasi budaya lokal di atas kecanggihan teknologi.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Ilustrasi tsunami

Efisiensi APBD Ancam Keselamatan Pesisir Jabar: Anggaran Mitigasi Tsunami Sangat Terbatas

Dua Anak Punk Hilang Misterius di Irigasi Johar Karawang Usai Terlibat Perkelahian

Soroti Jasa Medis Cuma Rp20 Ribu, Anggota DPRD Jabar Sentil Pemprov Soal MoU 65 Rumah Sakit

Ilustrasi tsunami

Ini 5 Kabuptaen di Jawa Barat yang Masuk Zona Merah Tsunami Megathrust

Tembus 33 Ribu Tanda Tangan, Petisi Online Tolak Penutupan Jalan Diponegoro Bandung Makin Masif

Wacana Sistem Tidak Naik Kelas Diberlakukan 2027, Guru dan Siswa Diimbau Siapkan Strategi Baru

Terpopuler
  • Jadwal dan Link Live Streaming Indonesia vs Thailand: Momentum Garuda Rebut Trofi di Rumah Sendiri
  • bank bjb syariah Perkuat Sinergi dengan Pemkab Cirebon, ASN Dapat Layanan Haji hingga Emas
  • Dari Kampus ke Gedung DPR RI, KPMJ Ilmu Komunikasi UIN Bandung Pelajari Dunia Keprotokolan dan Kehumasan
  • Megaproyek Pusat Data AI di Jatiluhur Purwakarta Ditahan BRIN, Ada Apa?
  • SEJARAH! Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Puasa Gelar 35 Tahun Berakhir
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.