bukamata.id – Dunia maya kembali dihebohkan dengan sebuah pemandangan yang tak biasa namun sarat akan makna emosional. Di tengah lanskap gersang berbatuan cadas khas Jazirah Arab, tersaji aroma harum bumbu kacang yang menggugah selera. Seorang ibu paruh baya asal Madura, Jawa Timur, mendadak viral setelah videonya yang sedang menjajakan makanan khas Indonesia beredar luas di berbagai platform media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @fadhilraihann.
Yang membuat pemandangan ini kian mencolok dan menyedot perhatian jutaan pasang mata adalah latar belakang tempat ia berjualan. Lapak darurat beralaskan terpal sederhana tersebut berdiri tegak di kawasan perbukitan Jabal Khandamah, sebuah titik tinggi yang menyajikan pemandangan megah menghadap langsung ke jantung Kota Makkah, termasuk kemegahan Menara Jam Abraj Al-Bait (Makkah Royal Clock Tower).
Video berdurasi singkat tersebut memperlihatkan bagaimana sang ibu dengan cekatan dan penuh ketelatenan mengulek bumbu gado-gado di atas cobek tanah liat berukuran besar. Mengenakan sarung tangan plastik, ia mencampurkan bumbu kacang halus dengan irisan lontong atau ketupat, tahu goreng, aneka sayuran segar, hingga potongan telur rebus layaknya pedagang kaki lima di kampung halaman. Kehadiran kuliner tradisional Nusantara di tanah suci ini bukan sekadar fenomena dagang biasa, melainkan sebuah simbol ketahanan budaya dan perantauan yang memicu gelombang perbincangan hangat di jagat maya.
Menelusuri Jejak Sang Perantau: “Real Madura Ada di Mana-Mana”
Dalam rekaman video yang beredar, identitas kedaerahan sang ibu sangat melekat dan terpancar dari cara ia berinteraksi. Ketika disapa oleh perekam video, ia menjawab dengan penuh percaya diri dan senyuman ramah bahwa dirinya berasal dari Sampang, Madura.
Karakter masyarakat Madura yang dikenal ulet, gigih, pantang menyerah, dan berani merantau jauh demi mengubah nasib seakan terwujud sempurna dalam diri ibu tersebut. Jarak ribuan kilometer dari pulau garam menuju tanah suci Makkah tidak menyurutkan tekadnya untuk mencari nafkah dengan cara yang halal dan mandiri, memanfaatkan keahlian memasak kuliner khas tanah air.
Reaksi netizen pun bermunculan dengan berbagai ragam warna. Kolom komentar di akun pengunggah asli dipenuhi oleh rasa takjub, haru, sekaligus bangga dari warganet Indonesia.
“Real Madura ada di mana-mana. Membanggakan tenan rekk, gado-gado bisa sampai ke Arab!” tulis salah seorang netizen yang mengekspresikan kekagumannya terhadap diaspora Indonesia.
Bagi banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di Arab Saudi atau para jemaah umrah dan haji yang rindu masakan rumah, pemandangan gado-gado di atas bukit Makkah ini memberikan obat rindu yang mujarab. Hidangan yang kaya serat dan protein nabati ini mendadak menjelma menjadi jembatan emosional yang menghubungkan perut para perantau dengan cita rasa tanah air tercinta.
Kontroversi Harga dan Realitas Hukum: Antara Candaan dan Risiko Lapangan
Kendati mengundang gelombang apresiasi, video tersebut juga tidak luput dari perdebatan dan komentar kritis khas warganet. Salah satu hal yang paling disorot dalam interaksi di video adalah perihal harga jual seporsi gado-gado tersebut.
Di dalam video, sempat terlontar penyebutan angka harga yang terdengar fantastis bagi ukuran makanan kaki lima, yakni mencapai 1.000 Riyal Saudi (atau dalam candaan lain dispekulasikan bernilai jutaan rupiah untuk seporsi gado-gado di Arab). Sontak, angka ini memicu kehebohan di kolom komentar:
“1000 Riyal? Makan gado-gado di Arab 4 juta? MasyaAllah…” komentar netizen yang terkejut.
Sebagian besar pengamat media sosial menilai bahwa angka 1.000 Riyal tersebut merupakan bentuk hiperbola, gurauan, atau candaan khas antara penjual dan pembeli untuk menggambarkan nilai perjuangan serta eksklusivitas bahan baku Indonesia yang didatangkan atau diracik di tanah rantau. Namun, di balik kehebohan nominal harga tersebut, isu lain yang jauh lebih krusial turut disuarakan oleh warganet yang memahami hukum ketat di Kerajaan Arab Saudi.
“Diviralin, nanti ditangkap pihak Arab Saudi karena visanya pasti bukan visa kerja,” tulis seorang netizen memperingatkan.
Peringatan ini merujuk pada regulasi ketat Pemerintah Arab Saudi terkait izin tinggal (iqamah) dan izin usaha atau perdagangan kaki lima di ruang publik. Otoritas keamanan dan ketertiban umum di Makkah (Muqeem/Jawazat dan kepolisian setempat) sangat melarang aktivitas perdagangan liar atau asongan tanpa izin resmi di area-area publik tertentu, terutama di kawasan sekitar Masjidil Haram dan jalur-jalur vital. Kendati demikian, fenomena ini tetap merekam realitas sosial-ekonomi sebagian kecil kaum marjinal yang berjuang mencari penghidupan di sela-sela padatnya aktivitas ziarah kota suci.
Mengenal Jabal Khandamah dan Jejak Sejarahnya di Kota Makkah
Keunikan tempat berjualan sang ibu yang berlatar belakang perbukitan batu dan Menara Jam raksasa membawa kita pada pentingnya memahami konteks geografis serta sejarah dari lokasi tersebut, yakni Jabal Khandamah.
1. Letak Geografis dan Topografi
Jabal Khandamah adalah salah satu formasi pegunungan batu terjal yang membentang di sebelah timur kawasan Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah. Topografi kawasan ini didominasi oleh batuan cadas vulkanik khas Jazirah Arab dengan kontur perbukitan yang curam dan berliku. Dalam beberapa dekade terakhir, kawasan sekitar Jabal Khandamah telah mengalami transformasi besar-besaran akibat proyek pembangunan infrastruktur modern, terowongan jalan raya, serta perluasan fasilitas akomodasi bagi jemaah haji dan umrah guna mengurai kepadatan lalu lintas kota Makkah.
2. Saksi Bisu Sejarah Era Kenabian
Dari sudut pandang sejarah Islam, wilayah perbukitan di sekitar Makkah, termasuk kawasan Jabal Khandamah dan sekitarnya, menyimpan catatan penting peradaban Islam masa awal. Pada era kenabian, bukit-bukit batu di Makkah menjadi saksi bisu perjuangan berat Rasulullah SAW bersama para sahabat dalam menegakkan dakwah Islam di tengah tekanan kaum musyrikin Quraisy. Berbagai jalur setapak di perbukitan Makkah dulu menjadi saksi perpindahan, strategi pertahanan, serta dinamika sosial masyarakat Arab pada masa peralihan dari masa jahiliyah menuju cahaya Islam.
3. Titik Transisi Menuju Kota Modern
Kini, Jabal Khandamah berdiri sebagai simbol pertemuan antara masa lalu yang sakral dan kemegahan modernitas abad ke-21. Dari puncak perbukitan ini, para pengunjung dapat menyaksikan pemandangan kontras yang memukau: sisa-sisa bukit batu purba berpadu dengan arsitektur futuristik gedung-gedung pencakar langit, hotel mewah berbintang lima, serta Menara Jam Abraj Al-Bait yang menjulang tinggi menembus langit Makkah. Tempat ini kerap menjadi spot favorit bagi para peziarah yang ingin menikmati panorama kota Makkah dari ketinggian, menyaksikan matahari terbenam, sekaligus merenungkan perjalanan panjang sejarah Islam.
Refleksi: Kuliner sebagai Bentuk Ketahanan Budaya Diaspora
Kisah viral ibu asal Sampang, Madura, yang menjajakan gado-gado di bawah bayang-bayang Jabal Khandamah memberikan pelajaran berharga tentang arti sebuah ketangguhan hidup. Peristiwa ini merangkum kompleksitas kehidupan diaspora Indonesia di luar negeri—sebuah irisan antara kerinduan mendalam terhadap kampung halaman, etos kerja yang tinggi, serta adaptasi di tengah kerasnya aturan negara penempatan.
Gado-gado yang diraciknya bukan sekadar hidangan pencampur sayur dan bumbu kacang. Lebih dari itu, ia adalah representasi dari cultural resilience (ketahanan budaya). Di manapun anak bangsa melangkah dan berpijak, identitas kuliner dan tradisi lokal tetap dibawa, dirawat, dan diperkenalkan kepada dunia.
Kisah ini meninggalkan kesan mendalam: bahwa semangat mencari rezeki yang halal dapat berpadu dengan kisah-kisah unik di sudut-sudut paling ikonik di muka bumi, menyatukan cita rasa pedas gurih bumbu Madura dengan kemegahan historis Kota Suci Makkah.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










