bukamata.id – Badai kemarau panjang yang tak kunjung usai memicu penurunan drastis volume air di Waduk Saguling. Kondisi memprihatinkan ini merembet pada membengkaknya beban finansial masyarakat pesisir, mulai dari peternak ikan keramba jaring apung (KJA) hingga para petani lahan Kering di sekitarnya.
Selain dipaksa bekerja ekstra memindahkan posisi keramba ke titik perairan yang lebih dalam demi mencegah kematian masal pada bibit ikan, para petani sayur dan jagung juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyambung selang pengairan dari danau ke kebun mereka.
Pengalaman pahit ini diungkapkan langsung oleh Didi (63), seorang pembudidaya ikan KJA asal Kampung Maduhur, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling. Menurutnya, menyusutnya debit air secara masif menuntut para pembudidaya meningkatkan kewaspadaan setiap hari.
“Air Saguling terus surut karena hujan belum turun. Kami harus lebih sering memantau kondisi keramba dan memindahkannya ke bagian waduk yang lebih dalam,” kata Didi, Senin (12/10/2026).
Langkah penyelamatan ini mendesak dilakukan lantaran kawasan perairan dangkal sangat rentan mengalami pendangkalan dan kekeruhan tinggi sewaktu-waktu akibat lalu lalang perahu nelayan. Kualitas air yang memburuk tersebut berisiko tinggi memicu stres hingga kematian pada komoditas ikan ternak.
Petaka kemarau tak berhenti di sektor perikanan saja. Para petani yang menggantungkan pasokan irigasi dari danau buatan tersebut turut menanggung kerugian. Garis pantai yang kian menjauh membuat jarak jangkau air ke area perkebunan jagung dan sayur-mayur menjadi sangat jauh.
“Warga di sini, termasuk saya, harus membeli selang yang lebih panjang untuk mengalirkan air ke kebun jagung dan sayuran yang berada di atas waduk,” ujarnya.
Pembelian peralatan penyiraman ini membengkak signifikan dibanding saat musim normal. Didi menceritakan, bila biasanya panjang selang 30 meter sudah cukup mengangkut air, kini kebutuhan instalasi tersebut melonjak hingga lebih dari dua kali lipat demi memastikan tanamannya tidak mati kekeringan.
“Mau tidak mau, selang ke atas harus ditambah. Semakin surut airnya, semakin panjang selang yang dibutuhkan agar air bisa sampai ke kebun,” ucapnya.
Pengeluaran ekstra untuk modal pengairan ini kian menghimpit perekonomian warga yang bergantung pada hasil bumi Waduk Saguling. Harapan besar kini digantungkan pada langit agar hujan lebat bisa segera mengguyur dan mengembalikan debit air seperti semula.
“Harapannya tentu hujan segera turun, supaya air waduk naik lagi dan kami bisa beraktivitas seperti biasa tanpa harus terus menambah biaya,” pungkasnya.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News











