Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital

Selasa, 20 Oktober 2026 20:40 WIB

Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu

Selasa, 20 Oktober 2026 20:16 WIB

Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?

Selasa, 20 Oktober 2026 19:31 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital
  • Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu
  • Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?
  • Ranking AFC Terbaru: Indonesia Meroket ke Posisi 16 Asia, Persib dan Borneo FC Jadi Kunci
  • Mengarungi Jadwal Horor 3 Pekan, Pelatih Persib Bongkar Resep Sederhana Jaga Stamina Pemain
  • Ubah Gulma Jadi Berkah: Petani Pasirlangu KBB Bangkit Pascalongsor Lewat Inovasi Eceng Gondok
  • Sempat Merasa Kesepian dan Frustrasi, Gakuto Notsuda Buka-bukaan Soal Cedera di Persib
  • Bukan Cuma Modal Cantik! Otak Encer & Latar Belakang Alda Callista Miss Indonesia 2026 Bikin Melongo
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Selasa, 20 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Waduk Saguling Surut Drastis Akibat Kemarau, Sektor Perikanan dan Pertanian Terancam Lumpuh

By Aga GustianaSenin, 12 Oktober 2026 15:46 WIB2 Mins Read
Air Waduk Saguling kian menyusut. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Badai kemarau panjang yang tak kunjung usai memicu penurunan drastis volume air di Waduk Saguling. Kondisi memprihatinkan ini merembet pada membengkaknya beban finansial masyarakat pesisir, mulai dari peternak ikan keramba jaring apung (KJA) hingga para petani lahan Kering di sekitarnya.

Selain dipaksa bekerja ekstra memindahkan posisi keramba ke titik perairan yang lebih dalam demi mencegah kematian masal pada bibit ikan, para petani sayur dan jagung juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk menyambung selang pengairan dari danau ke kebun mereka.

Pengalaman pahit ini diungkapkan langsung oleh Didi (63), seorang pembudidaya ikan KJA asal Kampung Maduhur, Desa Girimukti, Kecamatan Saguling. Menurutnya, menyusutnya debit air secara masif menuntut para pembudidaya meningkatkan kewaspadaan setiap hari.

“Air Saguling terus surut karena hujan belum turun. Kami harus lebih sering memantau kondisi keramba dan memindahkannya ke bagian waduk yang lebih dalam,” kata Didi, Senin (12/10/2026).

Baca Juga:  Viral! Truk Tronton Mundur Tak Kuat Tanjakan di Tol Purbaleunyi, Tabrak Kendaraan di Belakang

Langkah penyelamatan ini mendesak dilakukan lantaran kawasan perairan dangkal sangat rentan mengalami pendangkalan dan kekeruhan tinggi sewaktu-waktu akibat lalu lalang perahu nelayan. Kualitas air yang memburuk tersebut berisiko tinggi memicu stres hingga kematian pada komoditas ikan ternak.

Petaka kemarau tak berhenti di sektor perikanan saja. Para petani yang menggantungkan pasokan irigasi dari danau buatan tersebut turut menanggung kerugian. Garis pantai yang kian menjauh membuat jarak jangkau air ke area perkebunan jagung dan sayur-mayur menjadi sangat jauh.

Baca Juga:  Petani Cikande Sulap Lahan Terbengkalai Jadi Destinasi Eduwisata Pertanian Inovatif

“Warga di sini, termasuk saya, harus membeli selang yang lebih panjang untuk mengalirkan air ke kebun jagung dan sayuran yang berada di atas waduk,” ujarnya.

Pembelian peralatan penyiraman ini membengkak signifikan dibanding saat musim normal. Didi menceritakan, bila biasanya panjang selang 30 meter sudah cukup mengangkut air, kini kebutuhan instalasi tersebut melonjak hingga lebih dari dua kali lipat demi memastikan tanamannya tidak mati kekeringan.

Baca Juga:  Viral Warga Bandung Barat Tandu Pasien Gegara Jalan Rusak

“Mau tidak mau, selang ke atas harus ditambah. Semakin surut airnya, semakin panjang selang yang dibutuhkan agar air bisa sampai ke kebun,” ucapnya.

Pengeluaran ekstra untuk modal pengairan ini kian menghimpit perekonomian warga yang bergantung pada hasil bumi Waduk Saguling. Harapan besar kini digantungkan pada langit agar hujan lebat bisa segera mengguyur dan mengembalikan debit air seperti semula.

“Harapannya tentu hujan segera turun, supaya air waduk naik lagi dan kami bisa beraktivitas seperti biasa tanpa harus terus menambah biaya,” pungkasnya.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bandung Barat Kemarau Panjang Waduk Saguling
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Pentingnya Modernisasi Pesantren: Alumni Cipasung Ungkap Strategi Jaga Tradisi di Era Digital

Tas Perempuan Dirampas di Cimahi, Korban Terjatuh hingga Patah Tulang Bahu

Misteri Kebakaran BPN Karawang: Murni Musibah atau Sengaja Menghilangkan Jejak?

Ubah Gulma Jadi Berkah: Petani Pasirlangu KBB Bangkit Pascalongsor Lewat Inovasi Eceng Gondok

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa Pasundan Beri Rapor Merah dan Desak Evaluasi Kebijakan

Banyak Murid Belum Lancar Calistung, Disdik Cirebon Setuju Kebijakan ‘Tidak Otomatis Naik Kelas’

Terpopuler
  • Ramai Kritik Ornamen Candi di Gedung Sate, Warga Sentil Dedi Mulyadi: Estetik Henteu, Fungsional Komo!
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • 100 Persen Pulih, Beckham Putra Bakal Jadi Senjata Persib Kontra Persik Kediri?
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.