bukamata.id – Nasib naas nyaris menimpa seekor bayi primata langka di kawasan lereng Gunung Ciremai. Satwa endemik Jawa jenis surili ditemukan terjebak sendirian di tengah kepungan kobaran api saat kebakaran hutan mengepung wilayah Padabeunghar pada Kamis (22/10) malam.
Beruntung, aksi cepat seorang anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) bernama Dodo berhasil menyelamatkan nyawa mamalia kecil bernasib malang tersebut. Saat ditemukan, bayi surili berselimut bulu dominan putih itu berada dalam kondisi sangat lemas akibat paparan asap dan suhu panas.
Kebutuhan Penanganan Khusus untuk Primata Muda
Kondisi kritis satwa yang terpisah dari induknya ini memantik perhatian Pemerhati Primata Jawa Barat sekaligus Kader Konservasi Madya BBKSDA Jabar, Sigit Ibrahim. Menurutnya, kawasan Gunung Ciremai sebenarnya merupakan habitat alami sekaligus lokasi ideal pelepasliaran surili dari pusat rehabilitasi.
“Surili ini perkembangbiakannya cukup baiklah di wilayah tersebut,” kata Sigit, Sabtu (24/10/2026).
Mengingat kondisi fisik sang bayi yang masih sangat belia, Sigit menegaskan pentingnya penanganan medis darurat jika satwa tersebut tidak berhasil disatukan kembali dengan kelompoknya.
“Karena ya selayaknya bayi lah ya, baik itu primata seperti layaknya bayi manusia di mana mereka tentunya belum belum mandiri dan kalau lihat dari sekilas dari foto kan warna rambutnya masih sangat putih, berarti kan ini bisa dikategorikan sangat muda gitu ya dan muda ini akan ada kebutuhan untuk menyusui di induknya, ada kebutuhan juga mendapat kehangatan di malam hari, mereka tidur harus dipeluk, dan ketika tidak bersama induk atau tidak bersama kawanan ini sangat membahayakan sekali,” ungkapnya.
“Jadi, memang sebaiknya kalau memang kawanannya masih terlihat di sana dikembalikan, kalau memang tidak harus ada penanganan di ruangan khusus dan perlakuan khusus. Karena kalau memang masih membutuhkan susu tidak bisa diberikan sembarangan,” tambahnya.
Makanan Spesifik dan Ekosistem Predator Rimba
Sistem pencernaan surili sangat sensitif dan amat berbeda dari jenis primata lain. Pola makan yang spesifik menjadi alasan mengapa perawatan bayi surili tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
“Nah yang perlu diperhatikan juga adalah porsi pakan atau kondisi perut si Surili ini, kondisi metabolismenya atau kondisi pakannya memang berbeda dengan monyet ekor panjang yang bisa menerima segala bentuk makanan. Sedangkan si surili ini dia lebih banyak porsinya makan pucuk atau daun, jadi dia tidak bisa makan buah atau makanan lain,” jelas Sigit.
Di sisi lain, kehidupan liar di Gunung Ciremai juga diwarnai oleh rantai makanan yang ketat. Selain surili, kawasan ini dihuni oleh tiga jenis primata lain, yakni lutung Jawa, monyet ekor panjang, dan kukang, yang semuanya menjadi buruan predator utama kawasan tersebut.
“Predatornya sih macan tutul, memang masih banyak, masih ditemukan di wilayah tersebut. Kemudian BKSDA dan Taman Nasional juga pernah melepasliarkan macan tutul di wilayah Bukit 1000 Bintang sebagai salah satu lokasi pelepasan liaran. Jadi, selain yang liar ada juga yang hasil translokasi atau hasil pelepasliaran juga di wilayah tersebut untuk jenis macan tutul,” terangnya.
Hilangnya Owa Jawa dan Potensi Kerusakan Habitat
Meskipun empat spesies primata masih sanggup bertahan dan berkembang biak, kawasan Gunung Ciremai telah kehilangan salah satu penghuni lamanya. Owa Jawa dipastikan telah lenyap dari bentang alam gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut sejak puluhan tahun lalu.
“Ciremai sebetulnya itu pernah menjadi salah satu lokasi penelitian untuk jenis primata endemik. Dari mulai owa Jawa, lutung Jawa, surili, kukang, termasuk monyet ekor panjang. Nah, sayangnya dulu ketika diteliti si owa Jawanya sudah hilang. Jadi, kemungkinan tinggal tersisa empat jenis primata Jawa di sana,” ujar Sigit.
Keberadaan Owa Jawa terakhir kali tercatat pada awal dekade 2000-an sebelum akhirnya punah secara lokal akibat terdesak pembukaan lahan.
“Owa Jawa itu yang data terakhir itu ada yang pernah lihat di tahun 2003. Ada yang masih lihat 2003. Kemudian ketika melakukan survei di penghujung 2007 sampai 2008, ternyata sudah tidak terlihat tuh di Blok Apuy dulu. Jadi informasi melihat secara langsung di Blok Apuy, namun belum terdokumentasikan. Kemudian wawancara ke masyarakat waktu itu di daerah sana juga ada yang pernah melihat, tapi ketika 2008 itu sudah tidak tampak lagi si owa Jawa.
“Kemungkinan karena pada saat itu tempat lokasi yang diduga tempat hidupnya untuk khusus yang owa Jawa sudah beralih fungsi jadi kebun pada saat itu. Berhati kan di ketinggian kurang lebih sekitar berapa ya? 1.000, 1.600 sampai 1.800-an lah pada saat itu sudah ada area kebun juga. Kemudian berbatasan dengan hutan pinus,” tuturnya.
Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini menjadi alarm keras bagi kelestarian keanekaragaman hayati Ciremai. Perlindungan ketat dari pemerintah serta kepedulian masyarakat sekitar sangat dibutuhkan agar populasi primata endemik yang tersisa tidak bernasib sama seperti Owa Jawa.
Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News










