Close Menu
Bukamata.idBukamata.id
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Terbaru

Aksi Anarkis di Garut Viral, Pemotor Dikeroyok Sekelompok Pemuda Hingga Terjatuh

Sabtu, 24 Oktober 2026 19:07 WIB

Kisah Bayi Surili yang Selamat dari Kobaran Api Karhutla Ciremai: Terpisah dari Induk dan Butuh Penanganan Khusus

Sabtu, 24 Oktober 2026 18:29 WIB

Gemparkan Paris! Mengenal The Sacred Riana: Pesulap Indonesia Pertama yang Raih ‘Oscar Dunia Sulap’

Sabtu, 24 Oktober 2026 16:38 WIB
Facebook Instagram YouTube TikTok
Terbaru
  • Aksi Anarkis di Garut Viral, Pemotor Dikeroyok Sekelompok Pemuda Hingga Terjatuh
  • Kisah Bayi Surili yang Selamat dari Kobaran Api Karhutla Ciremai: Terpisah dari Induk dan Butuh Penanganan Khusus
  • Gemparkan Paris! Mengenal The Sacred Riana: Pesulap Indonesia Pertama yang Raih ‘Oscar Dunia Sulap’
  • Garudayaksa vs Persib: Adu Taktik Skuad Mewah Ratusan Miliar di Pakansari
  • Intip 5 Wisata Curug Hits di Kuningan, Ada yang Punya Pemandian Air Panas Alami!
  • Darurat Karhutla Jawa Barat: Lebih dari 1.100 Hektare Lahan Hangus, Subang Jadi Wilayah Paling Parah!
  • Stop Sok Ngatur Hidup Orang! Petuah Berkelas Luna Maya di Tengah Kasus Juan Eve
  • Fakta Baru Kasus Dugaan Kekerasan Siswa SRT 1 Sumedang: Korban Sempat Kabur Hingga Minta Pulang
Facebook Instagram YouTube X (Twitter)
Bukamata.idBukamata.id
Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Beranda
  • Berita
  • Gaya Hidup
  • Olahraga
  • Persib
  • Opini
  • Index
Bukamata.idBukamata.id
Home»Berita

Kisah Bayi Surili yang Selamat dari Kobaran Api Karhutla Ciremai: Terpisah dari Induk dan Butuh Penanganan Khusus

By Aga GustianaSabtu, 24 Oktober 2026 18:29 WIB4 Mins Read
Bayi Surili Berhasil Diselamatkan dari Kebakaran Hutan Gunung Ciremai. (Foto: Ist)
ADVERTISEMENT

bukamata.id – Nasib naas nyaris menimpa seekor bayi primata langka di kawasan lereng Gunung Ciremai. Satwa endemik Jawa jenis surili ditemukan terjebak sendirian di tengah kepungan kobaran api saat kebakaran hutan mengepung wilayah Padabeunghar pada Kamis (22/10) malam.

Beruntung, aksi cepat seorang anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) bernama Dodo berhasil menyelamatkan nyawa mamalia kecil bernasib malang tersebut. Saat ditemukan, bayi surili berselimut bulu dominan putih itu berada dalam kondisi sangat lemas akibat paparan asap dan suhu panas.

Kebutuhan Penanganan Khusus untuk Primata Muda

Kondisi kritis satwa yang terpisah dari induknya ini memantik perhatian Pemerhati Primata Jawa Barat sekaligus Kader Konservasi Madya BBKSDA Jabar, Sigit Ibrahim. Menurutnya, kawasan Gunung Ciremai sebenarnya merupakan habitat alami sekaligus lokasi ideal pelepasliaran surili dari pusat rehabilitasi.

“Surili ini perkembangbiakannya cukup baiklah di wilayah tersebut,” kata Sigit, Sabtu (24/10/2026).

Mengingat kondisi fisik sang bayi yang masih sangat belia, Sigit menegaskan pentingnya penanganan medis darurat jika satwa tersebut tidak berhasil disatukan kembali dengan kelompoknya.

“Karena ya selayaknya bayi lah ya, baik itu primata seperti layaknya bayi manusia di mana mereka tentunya belum belum mandiri dan kalau lihat dari sekilas dari foto kan warna rambutnya masih sangat putih, berarti kan ini bisa dikategorikan sangat muda gitu ya dan muda ini akan ada kebutuhan untuk menyusui di induknya, ada kebutuhan juga mendapat kehangatan di malam hari, mereka tidur harus dipeluk, dan ketika tidak bersama induk atau tidak bersama kawanan ini sangat membahayakan sekali,” ungkapnya.

Baca Juga:  Bukan Cuma Makanan Tradisional, Singkong Kini Disulap Jadi Penjinak Karhutla

“Jadi, memang sebaiknya kalau memang kawanannya masih terlihat di sana dikembalikan, kalau memang tidak harus ada penanganan di ruangan khusus dan perlakuan khusus. Karena kalau memang masih membutuhkan susu tidak bisa diberikan sembarangan,” tambahnya.

Makanan Spesifik dan Ekosistem Predator Rimba

Sistem pencernaan surili sangat sensitif dan amat berbeda dari jenis primata lain. Pola makan yang spesifik menjadi alasan mengapa perawatan bayi surili tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

“Nah yang perlu diperhatikan juga adalah porsi pakan atau kondisi perut si Surili ini, kondisi metabolismenya atau kondisi pakannya memang berbeda dengan monyet ekor panjang yang bisa menerima segala bentuk makanan. Sedangkan si surili ini dia lebih banyak porsinya makan pucuk atau daun, jadi dia tidak bisa makan buah atau makanan lain,” jelas Sigit.

Di sisi lain, kehidupan liar di Gunung Ciremai juga diwarnai oleh rantai makanan yang ketat. Selain surili, kawasan ini dihuni oleh tiga jenis primata lain, yakni lutung Jawa, monyet ekor panjang, dan kukang, yang semuanya menjadi buruan predator utama kawasan tersebut.

Baca Juga:  BMKG Beri Peringatan Serius: Karhutla Makin Parah, Kualitas Udara 8 Daerah Ini Menyentuh Level Berbahaya

“Predatornya sih macan tutul, memang masih banyak, masih ditemukan di wilayah tersebut. Kemudian BKSDA dan Taman Nasional juga pernah melepasliarkan macan tutul di wilayah Bukit 1000 Bintang sebagai salah satu lokasi pelepasan liaran. Jadi, selain yang liar ada juga yang hasil translokasi atau hasil pelepasliaran juga di wilayah tersebut untuk jenis macan tutul,” terangnya.

Hilangnya Owa Jawa dan Potensi Kerusakan Habitat

Meskipun empat spesies primata masih sanggup bertahan dan berkembang biak, kawasan Gunung Ciremai telah kehilangan salah satu penghuni lamanya. Owa Jawa dipastikan telah lenyap dari bentang alam gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut sejak puluhan tahun lalu.

“Ciremai sebetulnya itu pernah menjadi salah satu lokasi penelitian untuk jenis primata endemik. Dari mulai owa Jawa, lutung Jawa, surili, kukang, termasuk monyet ekor panjang. Nah, sayangnya dulu ketika diteliti si owa Jawanya sudah hilang. Jadi, kemungkinan tinggal tersisa empat jenis primata Jawa di sana,” ujar Sigit.

Keberadaan Owa Jawa terakhir kali tercatat pada awal dekade 2000-an sebelum akhirnya punah secara lokal akibat terdesak pembukaan lahan.

Baca Juga:  Malaysia Kena Imbas Karhutla di Kalimantan, 108 Sekolah Tutup Sementara

“Owa Jawa itu yang data terakhir itu ada yang pernah lihat di tahun 2003. Ada yang masih lihat 2003. Kemudian ketika melakukan survei di penghujung 2007 sampai 2008, ternyata sudah tidak terlihat tuh di Blok Apuy dulu. Jadi informasi melihat secara langsung di Blok Apuy, namun belum terdokumentasikan. Kemudian wawancara ke masyarakat waktu itu di daerah sana juga ada yang pernah melihat, tapi ketika 2008 itu sudah tidak tampak lagi si owa Jawa.

“Kemungkinan karena pada saat itu tempat lokasi yang diduga tempat hidupnya untuk khusus yang owa Jawa sudah beralih fungsi jadi kebun pada saat itu. Berhati kan di ketinggian kurang lebih sekitar berapa ya? 1.000, 1.600 sampai 1.800-an lah pada saat itu sudah ada area kebun juga. Kemudian berbatasan dengan hutan pinus,” tuturnya.

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ini menjadi alarm keras bagi kelestarian keanekaragaman hayati Ciremai. Perlindungan ketat dari pemerintah serta kepedulian masyarakat sekitar sangat dibutuhkan agar populasi primata endemik yang tersisa tidak bernasib sama seperti Owa Jawa.

Baca Berita bukamata.id lainnya di Google News

Bayi Surili Gunung Ciremai Karhutla
Share. Facebook Twitter WhatsApp
ADVERTISEMENT

Jangan Lewatkan

Aksi Anarkis di Garut Viral, Pemotor Dikeroyok Sekelompok Pemuda Hingga Terjatuh

Darurat Karhutla Jawa Barat: Lebih dari 1.100 Hektare Lahan Hangus, Subang Jadi Wilayah Paling Parah!

Fakta Baru Kasus Dugaan Kekerasan Siswa SRT 1 Sumedang: Korban Sempat Kabur Hingga Minta Pulang

Kecanduan Judol Bikin Gelap Mata, Ayah di Bandung Tega Aniaya Anak hingga Tewas

Bansos

BPNT Oktober 2026 Rp600 Ribu, Begini Cara Cek Penerimanya lewat HP

Cara cek bansos PKH tahap 4 2025 pakai KTP.

Cair Oktober-Desember! Begini Cara Cek Nama Penerima Bansos Tahap 4 2026

Terpopuler
  • Momen HUT ke-62: Golkar Jabar Minta Kader Fokus Bantu Ekonomi Warga
  • Dedi Mulyadi Marah Ditagih Jalan Rusak, Pengamat: Batas Wewenang Bukan Alasan!
  • Balita 3 Tahun di Bandung Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung, Kuasa Hukum Minta Penanganan Kasus Dipercepat
  • Kisah Santri Cipasung yang Berhasil Mengubah Sejarah Pendidikan Islam Indonesia
  • Rapimnas PII 2026 Anugerahkan Penghargaan Narendra Dharma Abiyanta kepada Tiga Gubernur
Facebook Instagram YouTube TikTok
Bukamata.id © 2023
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.